Google+
Loading...
EKONOMI
Penulis: Tya Bilanhar 14:16 WIB | Jumat, 11 Agustus 2017

Survei BI: Pertumbuhan Harga Properti Residensial Melambat

Ilustrasi. Presiden Joko Widodo melihat unit contoh dari rusunami pada acara groundbreaking pembangunan Rusunami di Tangerang Selatan, hari Kamis (27/4/2017). (Foto-foto: BPMI Setpres)

JAKARTA, SATUHARAPAN.COM - Pertumbuhan harga properti residensial pada triwulan II 2017 melambat dibandingkan triwulan sebelumnya, dari 1,23 persen (qtoq) menjadi 1,18 persen (qtoq).

Perlambatan juga terjadi pada pertumbuhan penjualan properti residensial serta penyaluran Kredit Pemilikan Rumah (KPR) dan Kredit Pemilikan Apartemen (KPA).

Pertumbuhan penjualan properti residensial triwulan II melambat dari 4,16 persen (qtoq) pada triwulan sebelumnya menjadi 3,61 persen (qtoq) pada triwulan II ini. Sedangkan pertumbuhan penyaluran KPR dan KPA pada triwulan II tercatat sebesar 0,55 persen (qtoq) turun dari 1,84 persen (qtoq) pada triwulan sebelumnya.

Indikator ini terungkap dalam Survei Harga Properti Residensial yang diadakan oleh Bank Indonesia dan disiarkan hari ini (11/08).

Menurut survei BI, perlambatan pertumbuhan penjualan properti residensial diakibatkan masih terbatasnya permintaan terhadap rumah hunian. Penurunan pertumbuhan penjualan pada triwulan ini juga merupakan lanjutan dari tren penurunan sebelumnya. Pada triwulan I tahun 2017 pertumbuhan penjualan properti residensial  tercatat turun menjadi 4,16 persen dari 5,06 persen pada triwulan IV tahun 2016.

Bahan Bangunan dan Biaya Perizinan Penyebab Kenaikan Harga

Turunnya pertumbuhan kenaikan harga, bukan berarti harga properti residensial turun. Kenaikan harga tetap terjadi walaupun dengan tingkat yang lebih rendah dibandingkan dengan triwulan sebelumnya.

Menurut survei BI, kenaikan harga rumah terjadi pada semua tipe, terutama rumah tipe kecil (2,61 persen qtoq). Sedangkan rumah tipe menengah dan besar mengalami kenaikan yang melambat, masing-masing dari 1,28 persen menjadi 0,55 persen dan dari 0,58 persen menjadi 0,38 persen (semuanya qtoq). Berdasarkan wilayah, Jabodetabek dan Banten tercatat mengalami peningkatan harga tertinggi (2,04 persen) terutama pada rumah tipe kecil (4,78 persen).

Menurut survei BI, kenaikan harga bangunan (32,91 persen) dan biaya perizinan yang mahal (20.09 persen) menjadi faktor utama penyebab kenaikan harga properti residensial.

Editor : Eben E. Siadari

Back to Home