Google+
Loading...
INDONESIA
Penulis: Dewasasri M Wardani 13:55 WIB | Selasa, 07 Agustus 2018

Survei LIPI: Isu SARA Membesar karena Dikapitalisasi Elite Politik

Ilustrasi. Pemilihan Calon Gubernur DKI Jakarta, tampak tiga pasangan calon gubernur dan calon wakil gubernur peserta Pilkada DKI, Agus Harimurti Yudhoyono-Sylviana Murni (no urut 1 - tengah), Basuki Tjahaja Purnama-Djarot Saiful Hidayat (no urut 2 - kanan), dan Anies Baswedan-Sandiaga Uno(no urut 3 - kiri). (Foto: Dok satuharapan.com/Dedy Istanto)

JAKARTA, SATUHARAPAN.COM – Hasil survei yang dilakukan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) terhadap 145 orang ahli politik, ekonomi, sosial, budaya, dan hankam, menunjukkan bahwa isu suku, agama, ras dan antargolongan menjadi besar karena dikapitalisasi dan dimanipulasi elite politik.

"Hasil survei LIPI menunjukkan bahwa isu SARA tidak signifikan terjadi di tingkat akar rumput. Isu SARA terjadi di Pilkada DKI karena kecenderungan manipulasi dan dikapitalisasi elite politik," kata peneliti LIPI Prof Dr Syarif Hidayat dalam penjelasan hasil survei LIPI di Jakarta, Selasa (7/8).

Survei ini dilakukan terhadap 145 ahli bidang politik, ekonomi, sosial, budaya, dan hankam, yang tersebar di 11 provinsi selama kurun waktu April hingga Juli 2018.

Kegiatan survei ini, sebagai bagian pelaksanaan kegiatan survei "pemetaan kondisi politik, ekonomi, sosial-budaya dan pertahanan-keamanan menjelang pemilu serentak 2019: dalam Rangka Penguatan Demokrasi" yang merupakan bagian dari Program Prioritas Nasional (PN) tahun 2018. 

Syarif mengatakan, dari survei ahli yang dilakukan tim peneliti LIPI itu diketahui bahwa tindakan persekusi yang belakangan marak terjadi di masyarakat mayoritas, disebabkan penyebaran berita hoaks (92,4 persen), ujaran kebencian (90,4 persen), radikalisme (84,2 persen), kesenjangan sosial (75,2 persen) , perasaan terancam oleh orang atau kelompok lain (71,1 persen), sedangkan aspek relijiusitas (67,6 persen) dan ketidakpercayaan antarkelompok/suku/agama/ras (67,6 persen).

Persentase itu menurut dia, menunjukkan bahwa isu SARA tidak begitu signifikan terjadi di tingkat akar rumput, melainkan hanya merupakan isu yang dipolitisasi para elite politik.

Sehingga Syarif mengatakan, solusi mengatasi berkembangnya isu SARA adalah dengan mengelola dan mengendalikan perilaku elite politik.

Peneliti LIPI Prof Dr Syamsuddin Haris, mengajak seluruh pihak mengimbau elite politik kembali ke jalan yang benar, dengan tidak memolitisasi SARA demi kepentingan jangka pendek.

"Politisasi SARA dampaknya sangat besar. Jangan mudah melakukan manipulasi dan politisasi yang mengatasnamakan SARA, ini akan mengakibatkan konflik horizontal," kata Syamsuddin Haris. (Antaranews.com)

Editor : Sotyati

Back to Home