Google+
Loading...
INDONESIA
Penulis: Martahan Lumban Gaol 18:58 WIB | Rabu, 30 Maret 2016

Survei: Yusril Pesaing Berat Ahok Rebut Kursi DKI 1

Bakal calon Gubernur DKI Jakarta periode 2017-2022. (Foto: Antara)

JAKARTA, SATUHARAPAN.COM – Hasil survei dari Lembaga Survei Charta Politika Indonesia menyatakan Yusril Ihza Mahendra adalah pesaing terberat Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dalam Pemilihan Gubernur DKI Jakarta 2017 mendatang.

Dalam rilis survei bertajuk ‘Siapa Berani Lawan Ahok?’ di kantor Charta Politika, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, hari Rabu (30/3), Direktur Eksekutif Charta Politika, Yunarto Wijaya, menjelaskan nama Yusril berada di posisi ke dua dalam tingkat elektabilitas calon Gubernur DKI Jakarta setelah Ahok.

Namun, dia menambahkan, jumlah persentase yang dimiliki Ahok dan Yusril terpaut jauh.

Dalam simulasi survei tanpa memberikan opsi nama-nama kandidat kepada responden, nama Yusril muncul dengan 7,8 persen melawan 44,5 persen warga yang memilih Ahok.

Sedangkan dalam simulasi survei menggunakan opsi 14 nama kandidat, Yusril masih berada di posisi ke dua dengan persentase meningkat jadi 11 persen dan Ahok 51,8 persen.

Selanjutnya, jika survei dilakukan dengan memberikan ke dua nama kandidat gubernur tersebut, Yusril memiliki persentase paling tinggi dengan nama kandidat lain yakni sebesar 20,5 persen berbanding 59,5 persen milik Ahok.

Mengapa Yusril?

Lebih lanjut, Yunarto menjabarkan alasan nama Yusril menjadi pesaing Ahok yang paling potensial dikarenakan beberapa faktor. Salah satunya, karena Ketua Umum Partai Bulan Bintang (PBB) itu telah mendeklarasikan diri akan maju dalam kontes Pemilihan Gubernur DKI Jakarta 2017 dan bergerak mencari dukung.

“Nama Yusril juga paling sering diberitakan media (setelah Ahok,” ujarnya.

Selain itu, hasil survei menunjukkan tingkat popularitas Yusril cukup signifikan dengan 79,3 persen di posisi ke empat setelah Ahok, Ahmad Dhani, dan Desy Ratnasari.

Wijaya atau yang akrab disapa Toto menyebutkan Yusril memiliki modal yang cukup untuk memenangkan pilkada.

"Dalam ilmu politik tingkat popularitas di atas 80 persen itu modal yang cukup besar untuk menang dalam pilkada," kata dia.

Pengumpulan data survei tersebut dilakukan pada 15-20 Maret 2016 melalui wawancara tatap muka dengan menggunakan kuesioner terstruktur. Jumlah sampel sebanyak 400 responden yang berada di lima wilayah kota administrasi DKI Jakarta. (Ant)

Editor : Eben E. Siadari

UKRIDA
Zuri Hotel
Back to Home