Google+
Loading...
BUDAYA
Penulis: Moh. Jauhar al-Hakimi 08:50 WIB | Jumat, 12 Mei 2017

SURVIVE!Garage Gelar Keep The Fire On#3

SURVIVE!Garage Gelar Keep The Fire On#3
Beberapa karya yang akan dipamerkan pada pameran seni rupa "Thinklusif" di Survive! garage Jalan Nitiprayan No. 99, Ngestiharjo, Kasihan-Bantul, 14 Mei - 14 Juni 2017. (Foto-foto: Moh. Jauhar al-Hakimi)
SURVIVE!Garage Gelar Keep The Fire On#3
Bayu Widodo (membelakangi kamera) bersama seniman Survive!garage mempersiapkan pemasangan karya untuk pameran "Thinklusif", Kamis (10/4) malam.

YOGYAKARTA, SATUHARAPAN.COM - Mengusung tema "Thinklusif", Survive! garage yang berada di Jalan Nitiprayan No. 99, Ngestiharjo, Kasihan-Bantul kembali menggelar pameran seni rupa Keep The Fire On#3.

Pameran "Thinklusif" yang melibatkan 80 perupa sahabat SURVIVE! akan berlangsung dari 14 Mei hingga 14 Juni 2017.

"Tahun ini pameran menampilkan karya komunitas/perwakilan komunitas, seniman di SURVIVE! fun familia, seniman-seniman yang karyanya menginspirasi, seniman muda yang karyanya menarik, serta kuota untuk seniman perempuan jumlahnya lebih kita tingkatkan," kata inisiator SURVIVE!garage Bayu Widodo kepada satuharapan.com, Kamis (10/5) malam.

Dalam catatan pameran, Andrew Lumban Gaol menyoroti tentang kekerasan, kebengisan dan sentimen superioritas kelas tidak muncul begitu saja entah dari mana. Kejadian-kejadian tersebut berkembang biak secara sporadis karena ketersedian ekosistem yang mendukungnya bertumbuh liar.

Seperti hari-hari ini, dimana kekerasan menjamur dalam setiap pentas perbedaan pandangan, yang mengharamkan keberadaan pendapat yang berseberangan dan hampir dianggap sebagai kelaziman untuk menyelesaikan masalah sosial.

Ekosistem pembiakan rasa kebencian ini tentu diciptakan sedemikian rupa, oleh segelintir pihak yang menjadi arsitek dalam arah pembangunan tatanan masyarakat. Dengan ageda kepentingan berjangka yang sudah pasti berlawanan dengan kepentingan umum, yang akan mengorbankan apapun dan siapapun demi mencapai keuntungan dalam logika akumulasi. Metodenya sederhana dengan mengalihkan nalar kritis warga kepada perilaku sesat pikir dengan nalar alergi terhadap keterbukaan dan permusuhan.

Ekosistem ini sering kali didukung secara tidak sadar oleh pihak yang sebetulnya juga menjadi korban. Dalam beragam bentuk ekslusifitas kelompok, grup, geng dan penamaan-penamaan identitas yang berhasrat pada penguasaan dan penaklukan nilai-nilai lain yang menjadi minoritas dalam lanskap kompetisi identitas.

Andrew memberi contoh pada gejala merebaknya prasangka buruk terhadap sesama anggota masyarakat, hanya kerena perbedaan selera foto siapa yang akan dicoblos di bilik lima tahunan. Sebagai sesama warga yang dibodohi sistem bermusim-musim, Andrew melihat manusia tetap saja buas menerkam sesamanya yang juga sebagai target konsumen akal bulus para elite.

Berkaca dari realitas yang ada, tema "Thinklusif" diangkat dalam pameran seni rupa Keep The Fire On#3. Ekositem sehat dan terbuka terhadap perbedaan pandangan harus giat disemai demi menyingkirkan epidemi prasangka buruk dan permusuhan. Inklusivitas dimulai sejak dalam benih pemikiran yang harus ditunjukkan dalam bentuk sikap dan perbuatan. Demi dunia yang lebih beradab, demi dunia yang lebih layak.

Pameran "Thinklusif" akan dibuka pada Minggu (14/5) malam di SURVIVE!garare Jalan Nitiprayan No. 99, Ngestiharjo, Kasihan-Bantul dan berlangsung hingga 14 Juni 2017 dengan rangkaian acara workshop, diskusi, serta artist talk.

Editor : Yan Chrisna Dwi Atmaja

Back to Home