Google+
Loading...
RELIGI
Penulis: Sotyati 12:07 WIB | Senin, 08 Januari 2018

Suster Sudha Setia Melayani Warga Paling Miskin India

Sr Sudha Varghese di tengah gadis-gadis Musahar. (Footo: Jose Kalapura)

SATUHARAPAN.COM – Musahar identik dengan warga yang berburu tikus. Bukan untuk dibasmi, tetapi untuk dimakan. Musahar disebut-sebut sebagai masyarakat paling tertindas di India, dari lapisan kasta terendah, tanpa akses atas pemilikan tanah, bahkan kebutuhan dasar kesejahteraan sosial, yang menghuni Negara Bagian Bihar dan Uttar Pradesh, serta sebagian di Terai, Nepal.

Di tengah-tengah warga Musahar itulah Suster (Sr) Sudha Varghese, biarawati Katolik Roma dan aktivis sosial, mengabdikan diri tiga dekade dalam kegiatan pelayanan. Ia berbagi kisah tentang pelayanannya dalam Konferensi Misi Asia (Asia Mission Conference/AMC) penggal akhir tahun 2017 di Yangon, Myanmar.

Membingkai kisah dengan judul “Journeying Together: Mission as Affirming the Servanthood”, seperti dilansir laman Konferensi Gereja-gereja Asia, Sr Sudha, menceritakan bagaimana ia harus tetap tegak berdiri, melayani orang-orang miskin dan rentan, sebagaimana seorang Kristen melaksanakan hukum kasih.

Bagi Sr Sudha, perhatian utama dari 32 tahun pelayanannya bukanlah untuk mengkhotbahkan agama Kristen di kalangan orang-orang Musahar. Apa yang ia lakukan ialah memanusiakan mereka, dengan memberi mereka hak untuk bermartabat, makanan, pakaian, pendidikan, perumahan, dan sebagainya.

Ia meyakini, memberitakan firman Tuhan dapat dilakukan kemudian setelah mereka meninggalkan kehidupan lama, kehidupan yang memaksa hidup mereka tak lebih baik daripada binatang.

Melalui Nari Gunjan (Suara Perempuan), organisasi nonpemerintah yang berkaya untuk mengangkat perempuan dan mendidik anak perempuan Musahar, Sr Sudha telah menjalani banyak suka-duka, termasuk menghadapi banyak ancaman pembunuhan dari kasta dominan yang menindas kaum Musahar.

Yang dapat ia lakukan adalah terus menjaga imannya tetap teguh dengan menyandarkan diri kepada Kristus. Itulah yang membantunya untuk tidak takut di tengah kesengsaraan dan ancaman terhadapnya.

“Malaikat Pembawa Harapan” Warga Musahar

Jose Kalapura membuat laporan menarik tentang kisah Sr Sudha di laman globalsistersreport.org.

Salah satu wujud nyata karya pelayanan Sr Sudha di Bihar, terlihat dalam kehidupan Lakshmi Kumari. Berbeda dengan ibunya dan juga wanita berumur lain yang buta aksara, gadis Musahar berusia 16 tahun itu tampil sangat percaya diri. Ia berhasil menyelesaikan pendidikan sekolah menengah atas, juga belajar memperbaiki komputer dan ponsel. Ia juga berlatih karate untuk membela diri.

“Saya menjadi seperti ini karena Sudha Didi,” kata Lakshmi, yang tinggal di asrama asrama untuk gadis Musahar di Danapur, kota satelit Patna, ibu kota Negara Bagian Bihar, India timur.

Yang dimaksud “Sudha Didi (kakak perempuan)” tak lain adalah Sr Sudha. Berasal dari Biara Notre Dame, biarawati berusia 68 tahun itu memfokuskan kegiatan mendidik warga Musahar, terutama anak perempuan, setelah mengetahui tingkat pendidikan yang ia sebut menyedihkan. Mengutip angka sensus 2011 untuk keaksaraan, ia menyebutkan sekitar 2 persen untuk pria dan kurang dari 1 persen di antara wanita.

Manoj Menon, seorang jurnalis, menjuluki biarawati Katolik ini sebagai “malaikat pembawa harapan” bagi orang-orang “yang telah hidup dalam terowongan gelap kelaparan, penindasan, dan ketidaktahuan selama berabad-abad”. Ia terkesan ketika bertemu dengan biarawati tersebut dalam suatu peristiwa pemilu, dan menurunkan tulisan tentangnya di koran Mathrubhumi, menyusul artikel lain kemudian hari.

Menon, seorang Hindu, mengatakan Sr Sudha membawa perubahan drastis di kalangan wanita Musahar karena ia tinggal bersama mereka di pondok jerami di dusun mereka, memakan apa pun yang mereka berikan, termasuk daging tikus.

Ia mendistribusikan selimut wol kepada wanita lanjut usia di Desa Parsa dekat Patna. Ia mengatakan apa yang ia lakukan adalah hidup bersama orang miskin dalam perjuangan “untuk eksistensi, martabat, identitas, dan penghidupan”.

Ia terjun ke dalamnya meski tahu akan menjadi perjuangan panjang, “Orang miskin dan terpinggirkan layak mendapatkan hidup saya, cinta, dan pelayanan yang paling baik.”

Hidup Menjadi Lebih Bermakna

Sr Sudha mengaku mendapatkan panggilan untuk melayani orang miskin pada usia remajanya. Begitu terjun sungguh-sungguh, ia tinggal di tengah-tengah masyarakat yang ia layani di sebuah rumah lumpur, berjuang untuk mengangkat serta memberdayakan mereka. Di hadapan 600 partisipan yang mendengarkan kisahnya dalam pertemuan di Yangon itu, seperti dilaporkan Konferensi Gereja-gereja di Asia, Sr Sudha mengungkapkan kesaksiannya, “Hidup saya telah menjadi bermakna," yang disambut tepuk tangan oleh hadirin.

Kalapura menuliskan, demi melayani warga Musahar, Sr Sudha meninggalkan rumahnya di Kerala, India bagian selatan, ke Bihar pada tahun 1964, menjadi misionaris. Ia dikirim ke sekolah-sekolah Katolik untuk mengajar setelah mengikuti pelatihan. “Sekolah besar dan anak-anak dari keluarga kaya tidak memuaskan pencarian saya,” katanya.

Pada tahun 1977 ia mulai mengunjungi warga Musahar, saat bertugas di Bhojpur. Pada tahun 1986, ia pindah ke Desa Asopur dekat Danapur, untuk lebih dekat dengan Musahar. Orang-orang memanggilnya “Cycle Didi” (“kakak perempuan bersepeda”, karena sepeda menjadi sarana transportasinya.

Sudha mengatakan apa yang dilihatnya di desa warga Musahar mengejutkannya. Mereka hidup dalam serbaketakutan, kemelaratan, jauh dari komunitas lain. Mereka bekerja sebagai buruh tani untuk tuan tanah, yang mengupah mereka dan sering melakukan pelecehan seksual terhadap wanita.

“Para wanita percaya diperkosa adalah takdir” katanya. Kebanyakan pria Musahar menghabiskan hari-hari mereka dengan minum minuman keras buatan lokal.

Tidak mudah warga Musahar mendapatkan akses terhadap makanan bersubsidi, pusat kesehatan primer, dan sekolah, yang dikendalikan kasta-kasta dominan.

Sudha mengadopsi pendekatan dua arah untuk menghadapi sistem tersebut. Ia mendidik gadis Musahar dan “bertempur” di bidang hukum dan perundang-undangan untuk komunitas itu. Ia yakin, hanya pendidikan yang bisa memperbaiki keadaan Musahar.

Dibantu dua biarawati yang lebih muda, ia mengumpulkan wanita, mengajari mereka tentang hak dan memprotes ketidakadilan. Ia juga memperoleh berbagai manfaat kesejahteraan pemerintah untuk mereka. Demi melawan pertarungan hukum, ia belajar hukum.

Di situlah Sr Sudha harus menghadapi kemarahan orang-orang kasta atas, yang mengancam akan membunuhnya. Ia malah mengatakan jika terbunuh, banyak orang akan tahu siapa pelakunya. Namun demikian, ia pindah ke desa lain pada tahun 1989, seperti disarankan pendukungnya.

Penghargaan Padma Shri dari Pemerintah

Sr Sudha membawa perubahan revolusioner di kalangan Musahar melalui Nari Gunjan, organisasi payung yang diluncurkannya pada tahun 1987 untuk mengkoordinasikan kegiatan seperti layanan pendidikan, advokasi dan kesejahteraan.

Ia mulai mengajar gadis-gadis Musahar pada tahun 2001. Ia mengejar murid-murid yang tidak sekolah dan mengajar mereka tentang kesehatan reproduksi, nutrisi, kebersihan, sanitasi, dan inisiatif penghematan.

Kumkum Kumari adalah gadis remaja lain yang diberdayakan oleh Sr Sudha. Anak berusia 12 tahun itu, sempat bersekolah di sekolah pemerintah, tetapi kemudian keluar karena mengalami perlakuan tidak mengenakkan. Ia menggembalakan termak dan mengumpulkan kotoran sapi yang dikeringkan untuk dijadikan bahan bakar.

Sr Sudha membawanya ke fasilitas asrama Danapur untuk tinggal bersama gadis-gadis seperti Lakshmi Kumari. Sekitar 250 gadis seperti mereka sekarang tinggal di dua asrama yang dikelola suster. Yang kedua di Gaya, 65 mil selatan Patna. Sr Sudha menamai tempat itu Prerana (“inspirasi”) untuk mendorong anak-anak perempuan dapat mengenali kemampuan diri.

Lakshmi juga berkisah Sr Sudha menemuinya saat orang tuanya merencanakan pernikahan setelah ia keluar dari sekolah di kelas tiga, “Sudha Didi membujuk orang tua saya untuk mengirim saya ke kelas yang lebih tinggi di asrama Prerana.”

Sr Sudha memutuskan membuka asrama saat menyadari gadis-gadis itu tidak akan dapat belajar jika tetap tinggal di gubuk mereka. “Tingkat emosional dan mental mereka berbeda dengan anak-anak lain. Kita perlu memahami hal ini terlebih dahulu,” ia menjelaskan.

Usahanya membuahkan hasil. Ibu-ibu Musahar menyadari bahwa pendidikan adalah alat pemberdayaan yang paling kuat. Wanita sekarang memimpin untuk mengirim anak-anak mereka ke sekolah. Ia juga meluncurkan sebuah program yang disebut Aksharanjal, untuk membuat wanita dewasa melek huruf, dan mereka memberi tekanan pada komunitas mereka.

Nari Gunjan juga mengelola 40 Kishori Kendra (pusat untuk gadis remaja) di berbagai wilayah di Bihar, juga mendirikan pusat untuk menawarkan pembinaan pendidikan dan persiapan ujian nasional untuk anak perempuan.

Organisasi Sudha membuka lima pusat di Purnea, sekitar 230 mil timur laut Patna, di mana anak-anak perempuan melanjutkan pendidikan tinggi. Ini juga mengelola pusat pelatihan komputer di Parsa, beberapa mil dari Patna.

Nari Gunjan mengkoordinasikan lebih dari 1.000 kelompok swadaya untuk wanita Musahar di distrik Patna dan Saran. Setiap kelompok mengajarkan anggotanya tentang hak-hak mereka, juga belajar keuangan melalui kegiatan simpan pinjam.

Organisasi Sudha juga mengelola pusat adopsi anak. Di pusat lain, relawannya merawat wanita lanjut usia. Mereka juga mengelola tempat bagi wanita yang diselamatkan dari perdagangan manusia dan menjalankan sebuah program di bawah operasi Jivika yang didukung pemerintah.

Rajiv Kumar, manajer proyek dengan organisasi tersebut, kepada Kalapura mengatakan karya Sudha “sangat menantang namun bermanfaat”. Musahar merespons secara positif prakarsa tersebut, “Awalnya mereka cenderung bergantung pada Sudha Didi, tapi sekarang bisa berdiri di atas kaki sendiri.”

Pekerjaan Sudha di kalangan wanita kasta rendah menarik perhatian pemerintah dan orang lain. Pada tahun 2006, Pemerintah India menghadiahinya Padma Shri, penghargaan sipil tertinggi keempat di negara itu. Sr Sudha juga menerima penghargaan lain. Di antaranya penghargaan Vanitha Woman of the Year pada Hari Perempuan Internasional.

Ia justru memuji orang-orang Musahar atas penghargaan-penghargaan itu. Ketika menerima Penghargaan Padma Shri, ia berkata, “Kehormatan itu karena orang-orang Musahar. Jika mereka tidak menerima saya, saya tidak akan dapat melakukan apa yang saya lakukan.”

Sudha mengatakan penghargaan terbesarnya datang saat orang-orang Musahar membangun pondok untuknya di desa mereka. Ia sangat senang mendengar tentang anak laki-laki berusia 14 tahun yang menolak usaha orang tuanya untuk mengatur pernikahannya. Usia pernikahan resmi di India adalah 21 untuk anak laki-laki dan 18 untuk anak perempuan. “Ini adalah contoh kesadaran dan pemberdayaan sosial,” kata Sudha.

Penduduk desa sekarang telah mendekati ia dengan permintaan baru. Harus ada upaya yang sama untuk anak laki-laki Musahar dengan apa yang telah dilakukannya untuk anak perempuan. Anak laki-laki khawatir mereka tidak akan menemukan jodoh jika gadis-gadis itu berpendidikan dan mereka tetap buta huruf. 

Editor : Sotyati

Back to Home