Loading...
EKONOMI
Penulis: Reporter Satuharapan 14:04 WIB | Senin, 13 Februari 2017

Tahir Rencanakan Merger Bank Mayapada dan Bank Permata

Pemilik dan CEO Mayapada Group, Tahir (Foto: scmp.com)

JAKARTA, SATUHARAPAN.COM - Pemilik Grup Mayapada yang dikenal sebagai taipan bisnis terkaya di Indonesia, Tahir, dikabarkan berencana untuk mengakuisisi PT Bank Permata, salah satu bank yang menjadi pesaing bank miliknya, PT Bank Mayapada International.

Bloomberg mengutip Tahir yang mengatakan ingin membeli 90 persen saham Bank Permata yang dikuasai oleh Standard Chartered Plc dan PT Astra International. Selanjutnya, ia akan menggabungka Bank Permata dengan Bank Mayapada, untuk menciptakan banyak swasta terbesar setelah Bank Central Asia.

Kelompok Mayapada telah membeli saham Permata dari pasar sejak November, menurut Tahir. Saat ini Standard Chartered dan Astra memiliki masing-masing 45 persen saham.

Dengan merger, Tahir berharap akan memperluas jejaring Bank Mayapada dan bersaing lebih efektif dengan bank BUMN maupun BCA.

Tahir bertekad jasa keuangan akan menjadi salah satu bisnis terbaik untuk mendapatkan keuntungan dari ekspansi ekonomi Indonesia yang terbesar di Asia Tenggara, dan mengatakan dia yakin dapat menanggulangi lonjakan kredit macet di Permata yang telah membebani kinerja saham bank tersebut.

"Permata, saya duga, menghadapi waktu yang sulit dalam soal kredit macet," kata Tahir dalam sebuah wawancara di kantornya di Jakarta Selatan.

"Saya tidak melihat alasan mengapa Standard Chartered perlu terus bertahan di Permata. Strategi saya adalah, jika pemegang saham Bank Mayapada dapat memiliki kesempatan untuk membeli Bank Permata, maka harus digabung dengan Bank Mayapada."

Seorang juru bicara Standard Chartered menolak untuk mengomentari minat Tahir di Permata dan mengatakan bahwa bank asal Inggris itu berkomitmen terhadap Indonesia, pasar yang dianggap menjadi penting secara strategis.

Tira Ardianti, kepala hubungan investor untuk Astra, mengatakan akan terus mendukung Permata. Seorang juru bicara Permata tidak menanggapi e-mail permintaan untuk komentar.

Permata adalah bank swasta  kelima terbesar di Indonesia, dengan aset Rp 171 triliun. Rasio kredit bermasalahnya  4,9 persen pada kuartal yang berakhir 30 September, menurut website-nya. Angka itu lebih tinggi dari rata-rata 3,2 persen kredit bermasalah di bank-bank nasional.

Sementara itu rasio kredit bermasalah Bank Mayapada menurut Bursa Efek Indonesia adalah 2,4 persen.

Moody Investors Service mengatakan pada 9 Februari bahwa tekanan pada outlook Permata yang negatif masih tetap bertahan karena memburuknya kualitas aset dan profitabilitas, serta ketidakpastian atas dukungan masa depan dari pemegang saham utama yang ada.

"Merger antara bank-bank kecil dapat membantu mereka mempercepat laju pertumbuhan mereka dan meningkatkan pembukuan mereka," kata Andy Ferdinand, kepala penelitian di PT Samuel Sekuritas Indonesia. "Dengan baik ke level yang lebih tinggi, mereka akan diizinkan untuk melakukan lebih banyak bisnis" oleh regulator, katanya.

Setidaknya tiga bank telah menawarkan untuk membiayai kelompok Mayapada dalam akuisisi Permata, menurut Tahir.

Bank Mayapada saat ini adalah bank terbesar nomor 11 di antara bank swasta, dengan set Rp 53,8 triliun. Dengan melakukan merger dengan Bank Permata, ia akan menjadi sebuah bank dengan 400 acbang dan 10.000 karyawan.

Bank Mayapada memiliki nilai pasar Rp 12,3 triliun sedangkan Bank Permata Rp 16,1 triliun. Harga saham Bank Permata naik sebanyak 5,4 persen menjadi Rp 785 rupiah pada hari Senin, level  tertinggi sejak 11 Mei.

Saham Permata telah meningkat 38 persen tahun ini setelah sempat anjlok setidaknya 35 persen di masing-masing dua tahun sebelumnya.

Editor : Eben E. Siadari


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home