Google+
Loading...
HAM
Penulis: Dewasasri M Wardani 09:08 WIB | Rabu, 09 Oktober 2019

Taman Bermain Khusus Anak Difabel Curi Perhatian Publik

Taman bermain bagi anak berkebutuhan khusus di California, Amerika Serikat. (Foto: Voaindonesia.com)

CALIFORNIA, SATUHARAPAN.COM – Pada tahun 2008 Olenka Villareal, imigran asal Ukraina yang pindah ke California, menyadari bahwa putri bungsunya Eva yang memang berkebutuhan khusus, mengalami kesulitan ketika bermain bersama teman-temannya di taman bermain.

Undang-Undang Disabilitas Amerika memang memandatkan taman bermain di Amerika dapat diakses oleh anak-anak penyandang cacat atau difabel, tetapi faktanya sebagian taman hanya berupaya memenuhi aturan undang-undang itu secara minimal.

“Taman bermain yang ada memang dapat dimasuki kursi roda, tetapi penggunanya dapat terjungkal…,” komentar Olenka.

Olenka Villareal mengatakan selain terjungkal, kursi roda juga kerap tersangkut di batang kayu dan banyak perosotan anak terlalu curam untuk didaki tanpa bantuan.

“Anak-anak berkebutuhan khusus biasanya duduk di sini, sementara anak-anak lain berlari-lari melewati mereka. Ini karena anak-anak berkebutuhan khusus tidak dapat mengangkat diri mereka sendiri tanpa bantuan,” katanya, seperti dilansir Voaindonesia.com, pada Selasa (8/10).

Itulah sebabnya Olenka mendatangi pemerintah kota, yang kemudian memberinya sebidang tanah untuk taman bermain inklusif, jika ia dapat membangunnya. Selama tujuh tahun Olenka, bersama tim-nya, mengumpulkan empat juta dolar (Rp 56 miliar) untuk membangunnya, dan pada tahun 2015 taman bermain untuk anak berkebutuhan khusus itu pun dibuka.

Taman bermain inklusif yang baru itu dibuat dari kayu. ‘’Dibuat dari kayu bagi anak-anak yang tidak dapat melihat atau penderita autisme, di mana menyentuh kayu merupakan hal penting bagi mereka.’’

Ada sebuah rumah kecil yang cukup bagi anak-anak dan orang tua jika mereka tidak nyaman bermain sendiri. Juga tempat khusus bagi mereka yang memiliki keterbatasan penglihatan dan mengidap gangguan tingkah laku dan kognitif. Tempat itu mengeluarkan suara berbeda setiap tiga puluh detik dan anak-anak merasa seperti tercebur di genangan air, berjalan di salju, jatuh di dedaunan atau menginjak es.

Ada pula perosotan anak-anak yang dibuat Olenka, karena terinspirasi putri kecilnya Eva. ‘’Anak-anak yang menggunakan kursi roda tetap dapat meluncur ke bawah dan menunggu orang tua atau saudara mereka membawakan kursi rodanya.’’

Pembangunan taman itu membutuhkan waktu lima tahun dan konsultasi berulang kali dengan para orang tua, psikolog, arsitek, dan seniman lanskap. Tetapi ketika dibuka pada tahun 2015, taman bermain itu menjadi pembicaraan banyak orang.Lebih dari 25.000 orang mengunjungi taman ini setiap bulan. Salah seorang di antaranya adalah Nidmalam Gevati, yang datang dari Nepal ke California untuk mendapat ilham dan menciptakan taman bermain serupa di tanah airnya.

‘’Ada begitu banyak sentuhan yang dapat dirasakan dan dipelajari. Sebuah taman bermain seperti ini sangat penting karena Anda bisa keluar rumah dan terpapar lingkungan luar, serta berteman!,” kata Nidmala.

Melihat keberhasilan Magical Bridge Playground, Olenka Villareal memutuskan memperluas taman bermain itu. Pada tahun 2016 ia dan tim-nya memulai Magical Bridge Foundation untuk mengumpulkan uang, guna membantu masyarakat di daerah lain untuk membangun taman bermain inklusif serupa.

“Tahun ini kami diundang ke Forum Ekonomi Dunia di Davos, Swiss, dan taman bermain kami menjadi contoh taman bermain inklusif bagi semua,” kata Olenka.

Didorong keberhasilan taman bermain itu, otorita lokal di California kini membangun lima taman bermain inklusif serupa di negara bagian itu.

 

UKRIDA
Zuri Hotel
Back to Home