Google+
Loading...
BUDAYA
Penulis: Reporter Satuharapan 17:32 WIB | Senin, 24 September 2018

Taman Gandrung Terakota, Destinasi Baru di Banyuwangi

Taman Gandrung Terakota (TGT), dengan ratusan penari gandrung di lahan sawah terasering di kaki Gunung Ijen, di kawasan Jiwa Jawa Ijen Resort, Kecamatan Licin, Banyuwangi, diresmikan Sabtu (22/9/2018).

BANYUWANGI, SATUHARAPAN.COM  – Ikon pariwisata seni-budaya di Banyuwangi terus bertambah. Pada Sabtu sore (22/9/2018), diresmikan Taman Gandrung Terakota (TGT), dengan ratusan penari gandrung di lahan sawah terasering di kaki Gunung Ijen, tepatnya di kawasan Jiwa Jawa Ijen Resort, Kecamatan Licin, Banyuwangi.

“Terakota adalah nama lain dari tembikar atau gerabah sebagai bahan dasar visualisasi penari gandrung ini. Ini adalah situs untuk merawat dan meruwat Tari Gandrung sebagai salah satu identitas budaya Banyuwangi,” ujar Sigit Pramono, penggagas Taman Gandrung Terakota yang juga pemilik Jiwa Jawa Resort, seperti dilansir situs resmi banyuwangikab.go.id.

Sigit menambahkan, upaya merawat dan meruwat budaya tersebut sengaja dilakukan dengan pendekatan kawasan, di mana situs budaya itu terhampar di puluhan hektare lahan persawahan yang dibiarkan tetap alami.

“Pada intinya, kesenian Gandrung memang berasal dari tradisi rakyat, yang awalnya adalah wujud syukur atas hasil pertanian yang melimpah. Karena itu, situs rawat-ruwat Tari Gandrung ini pun kita hamparkan berdampingan dengan aktivitas rakyat, yaitu petani yang tetap membajak sawah dengan kerbau, menanam dan memanen padi,” ujar bankir senior mantan direktur utama BNI tersebut.

Berada di taman tersebut, pengunjung bisa menikmati keindahan Gunung Ijen yang memiliki tinggi 2.443 meter di atas permukaan laut (mdpl) di sisi barat. Di Ijen itulah terdapat kawah yang memancarkan api biru (blue flame) yang mendunia.

Menengok ke timur, akan terlihat birunya Selat Bali. Sigit mengatakan, pihaknya sengaja memilih bahan tanah liat yang lebih rentan. Namun, dari kerentanan itulah, ada nilai tersendiri yang akan diusung dalam galeri raksasa terbuka ini.

“Justru itulah makna dan nilai yang kita tawarkan, kesenian dan ketidakabadian. Karena, yang abadi adalah proses, makna dan nilai-nilai yang melekat di dalamnya,” ia menjelaskan.

Taman Gandrung Terakota terinspirasi dari Terracotta Warrior and Horses di Tiongkok yang dibangun pada masa Kaisar Qin Shi Huang (259-210 SM). Penataannya melibatkan kurator seni rupa dari Galeri Nasional Indonesia sekaligus dosen Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, Dr Suwarno Wisetrotomo.

 Taman Gandrung Terakota tidak hanya menyajikan deretan patung penari gandrung. Memasuki kawasan itu, pengunjung dipertontonkan bukit hijau dan hamparan sawah, para petani membajak sawah, kebun kopi, pohon durian, beraneka jenis bambu, dan tanaman endemik setempat.

Di tengah hamparan tersebut ditemukan amfiteater terbuka untuk pertunjukan kesenian berjadwal dan perhelatan musik jazz. Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas sangat antusias dengan tumbuhnya destinasi baru di Banyuwangi itu. “Kami sangat bangga dengan antusiasme berbagai pihak untuk terus mengembangkan Banyuwangi. Ini dibangun tanpa APBD, melainkan oleh swasta yang punya kepedulian terhadap seni-budaya Banyuwangi,” kata Anas.

Editor : Sotyati

Back to Home