Google+
Loading...
SAINS
Penulis: Dewasasri M Wardani 12:27 WIB | Minggu, 10 Maret 2019

Tantangan Perempuan dalam Perkembangan Sains dan Teknologi

Sekretaris Utama LIPI, Nur Tri Aries Suestiningtyas (kedua dari kiri) saat membuka "Diskusi Publik Hari Perempuan Seduniaā€¯ pada Jumat (8/3) di Jakarta. (Foto: lipi.go.id)

JAKARTA, SATUHARAPAN.COM –  Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) berkomitmen mendukung perempuan untuk berperan dalam perkembangan sains dan teknologi.

“Dari data stastistik yang dimiliki LIPI, terdapat 633 di antaranya perempuan  peneliti, yang tersebar diseluruh satuan kerja LIPI,” kata Sekretaris Utama LIPI, Nur Tri Aries Suestiningtyas, saat membuka “Diskusi Publik Hari Perempuan Sedunia” pada Jumat (8/3) di Jakarta.

Nur mengatakan, ada tiga peneliti yang berbagi energi positif tentang perannya sebagai perempuan yakni, Kartika Dewi (Pusat Peneliti Biologi), Intan Suci Nurhati (Pusat Penelitian Oseanografi), dan Athanasia Amanda Septevani (Pusat Penelitian Kimia). “Diharapkan kegiatan diskusi ini bisa memotivasi perempuan Indonesia lainnya,” kata Nur.

Peneliti Pusat Penelitian Biologi LIPI, Kartika Dewi adalah peneliti bidang zoology, yang memiliki fokus penelitian pada nematoda sebagai parasit vertebrata liar di Indonesia, seperti pada ikan dan burung.

Kartika menjelaskan sedikit tentang morfologi nematoda dari beragam bentuk kepala hingga esophagus. Ia menjelaskan telah menemukan 1 genus baru, 2 subgenus, dan 21 jenis baru. “Meneliti nematoda seolah menemukan dunia yang tersembunyi. Nematoda ini bagi saya seperti menemukan hidden world. Tidak terlihat dengan kasat mata namun saat ditemukan ternyata sangat menarik,” katanya.

Sementara itu, peneliti Pusat Penelitian Kimia, Athanasia Amanda menjelaskan tentang nanoteknologi dan potensi limbah biomasa di Indonesia sebagai inovasi masa depan.

“Saat ini, saya sedang meneliti tentang nanoselluloce yang dapat bermanfaat sebagai teknologi penyerap limbah logam berat air tercemar, dan nanopaper yang dapat digunakan sebagai layar gawai yang lebih fleksibel, kuat, dan berasal dari sumber daya alam yang dapat diperbarui,” kata Amanda.

Sementara itu, peneliti Pusat Penelitian Oseanografi, Intan Suci Nurhati, menjelaskan tentang penelitiannya terkait bidang paleoseanografi perubahan iklim dari karang.

“Seperti lingkaran pada kayu, biokimia dari karang dapat memberi informasi mengenai perubahan kondisi laut dari masa ke masa, termasuk pencemaran logam berat di laut. Semakin besar karang tersebut, semakin banyak informasi yang dapat diambil,” kata Intan. (lipi.go.id)

 

 

Back to Home