Google+
Loading...
FOTO
Penulis: Moh. Jauhar al-Hakimi 00:40 WIB | Senin, 03 Desember 2018

Taring Padi Masih Kerja

Taring Padi Masih Kerja
Karya yang dikerjakan secara kolektif dalam workshop banner pameran Taring Padi, Sabtu (1/12). (Foto-foto: Moh. Jauhar al-Hakimi)
Taring Padi Masih Kerja
Instalasi “Berdiri di Atas Kekuatan Pangan Sendiri” – akrilik di atas kain – Taring Padi.
Taring Padi Masih Kerja
Banner “Mengadili Soeharto dan Para Jendralnya” yang pernah digunakan dalam Karnaval Rakyat Anti Militerisme di Jakarta pada tahun 2000, dibuat dengan cat akrilik di atas kain berukuran 300 cm x 300 cm.
Taring Padi Masih Kerja
Banner “Pengungsi #2” – akrilik di atas kain – 460 cm x 750 cm – Taring Padi – 1999.
Taring Padi Masih Kerja
“Adili Lapindo, Tuntaskan Ganti Rugi Korban Lumpur” – akrilik di atas kain – Taring Padi – 2010.
Taring Padi Masih Kerja
Wayang kardus “Timur Mas” – 2010.
Taring Padi Masih Kerja
Bilik Yustoni Volunteero dalam pameran restrospeksi Taring Padi.
Taring Padi Masih Kerja
Arsip newsletter “Terompet Rakyat”.
Taring Padi Masih Kerja
“Tokoh Masyarakat” – akrilik di atas kanvas – 60 cm x 80 cm ( 6 buah) – Taring Padi – 2012.
Taring Padi Masih Kerja
Seri poster Terompet Rakyat “Menyikapi Tahun Politik 2018-2019” – cukil kayu di atas kertas – 58 cm x 58 cm (22 buah) – Taring Padi – 2018.

YOGYAKARTA, SATUHARAPAN.COM – Taring Padi masih kerja, kalimat ini yang terlintas saat menyaksikan karya-karya Taring Padi (TP) pada pembukaan pameran bertajuk “Bara Lapar Jadikan Palu” di Galeri R.J. Katamsi ISI Yogyakarta, Rabu (21/11) malam. Pameran berlangsung dari 21 November hingga 9 Desember 201 dengan beberapa rangkaian acara diantaranya seminar/diskusi, workshop, dan lapak karya seni.

Puluhan karya dalam berbagai ukuran, medium, dan penataan memenuhi hampir seluruh ruangan lantai 1-2 serta dua karya banner atau lebih tepatnya rontek/round-tag ukuran besar 3 m x 6 m yang dipasang di dinding kiri-kanan depan galeri. Sebuah rontek berukuran setinggi 8 m dipasang dari lantai 1 hingga lantai 2 menjadi penyekat ruangan sekaligus difungsikan sebagai dinding display karya di sebaliknya.

Pameran “Bara Lapar Jadikan Palu” menjadi penanda kiprah dua puluh tahun ruang kolektif Taring Padi memberikan warna dunia seni rupa melalui gerakan sosial yang dilakukan dalam memberikan advokasi kepada masyarakat memperjuangkan haknya. Rekam jejak tersebut dapat dilihat dari arsip karya dan dokumentasi foto-berita yang menyertai pameran karya-karya TP. Seni menjadi jalan pedang TP dalam memberikan pendampingan masyarakat memperjuangkan hak-haknya.

Memperbincangkan TP tidak bisa melepaskan diri dari gerakan mahasiswa ISI Yogyakarta (saat itu banyak diinisiasi mahasiswa seni rupa ASRI Yogyakarta) pada rentang waktu awal tahun 1990-an di Gampingan, Wirorajan-Yogyakarta hingga pindah ke Sewon Bantul tahun 1995. Puncaknya adalah masa reformasi dimana dalam rentang tahun 1997-1998 hampir seluruh elemen mahasiswa di Indonesia bergerak di arus bawah menyikapi kondisi politik yang semakin memberatkan kehidupan masyarakat sehari-hari.

“Yang menjadi pekerjaan rumah pertama adalah ketika materi yang akan dipamerkan sangat banyak. Melihat rentang dua puluh tahun memang jenis karyanya dalam ukuran yang sangat besar. Galerinya yang kurang besar atau materinya yang terlalu banyak. Sampai kemudian beberapa banner dipasang di luar yang ukurannya melebihi tinggi tembok. Yang di depan ukuran tingginya enam meter, sementara yang di dalam mencapai delapan meter,” jelas kurator pameran Bambang Toko Witjaksono saat pembukaan, Rabu (21/11) malam.

Lebih lanjut Bambang menjelaskan bahwa melalui pameran arsip “Bara Lapar Jadikan Palu” selain bisa belajar banyak tidak hanya visual karya yang dibuat TP, tapi dengan rentang dua puluh tahun kita bisa melihat bagaimana perjalanan-perkembangan sosial-politik (yang terekam dalam karya TP) di Indonesia, pameran ini menjadi rekaman secara internal bagaimana dua puluh tahun perkembangan TP dari awal secara komunal-personal anggotanya yang terus berubah-berganti, namun tetap konsisten menyuarakan tema-tema kerakyatan hingga hari ini: reforma agraria, penggusuran, anti korupsi, kesetaraan gender, toleransi, keberagaman, perjuangan hak hidup, serta permasalahan sosial lainnya.

Sebagai sebuah pameran retrospeksi yang memajang karya-karya dan arsip, dengan ukuran besar serta karakter karya yang digunakan di luar ruangan sebagai alat bantu dalam berbagai aksi kampanye/demo/propaganda, bukan perkara mudah untuk memindah-display-kan karya ke dalam ruangan karena keterbatasan tempat maupun beberapa karya arsip yang hilang/tidak kembali saat digunakan pada demo-demo, pemajangan karya dalam pameran retrospeksi TP tidak memungkinkan disusun dalam lini masa (timeline) perjalanan TP. Pilihan yang paling mungkin adalah menempatkan karya dengan mempertimbangkan ukuran ruang-dinding pamer dengan karya tema per tema sesuai penggunaannya saat aksi demo.

Tema-tema kerakyatan yang diusung dan tetap dipertahankan oleh TP bukan tanpa alasan. Manakala rakyat bergerak memperjuangkan haknya, saat itulah TP hadir bersama untuk membangun kembali “Budaya Kerakyatan” dalam rangka mendorong perubahan demokratik yang berwatak popular di Indonesia.

Dua lantai galeri R.J. Katamsi menjadi tidak cukup menampung karya-karya TP yang sebagian besar berukuran besar mengingat karya yang dipamerkan sebagian besar adalah karya-karya yang digunakan TP sebagai medium untuk aksi demo/kampanye-propaganda dalam mendampingi dan mengadvokasi masyarakat. Dengan tulisan besar, ukuran besar, penggunaan warna kontras merah-hitam-putih, dan figur-figur stereotype dekonstruksi-deformasi manusia-binatang tikus dan babi untuk menggambarkan penguasa yang rakus, culas, serakah, dan menindas, karya-karya TP mudah dikenali.

Figur kombinasi manusia beranggota badan hewan juga kerap mewarnai karya-karya TP ataupun karya individu anggota TP. Dalam khasanah seni rupa kontemporer, gaya-gaya figur tersebut menjadi ciri khas karya seni rupa kontemporer Indonesia dan turut memberikan warna seni rupa dunia. Karya tersebut bisa dilihat pada karya-karya mendiang Toni Volunteero Presiden pertama TP yang kerap membuat karya dengan figur manusia berkepala anjing. Inilah salah satu sumbangan penting ruang-ruang kolektif yang berjejaring dengan TP bagi warna seni rupa Indonesia.

Secara garis besar karya TP menggabungkan ide-ide kontemporer dengan akar pada eksplorasi tradisi kerakyatan. Eksplorasi-kombinasi tersebut terbukti efektif dalam menangkap permasalahan yang terjadi dan dituangkan dalam visualisasi yang pas, menohok, satire, tanpa harus merendahkan pihak lain. Inilah kekuatan karya TP dengan tetap menjejakkan kaki pada realitas yang ada.

Dalam hal eksekusi ide menjadi sebuah karya, TP memilih cara/teknik yang paling sederhana, menggunakan material-medium yang mudah didapat dengan tetap memperhatikan kualitas, kekuatan, dan keawetan karya. Pilihan cara/teknik yang sederhana lebih didasarkan pada cepatnya menghasilkan karya yang akan digunakan sebagai alat propaganda/kampanye, serta mudah digandakan. Dalam hal ini pilihan seni grafis maupun drawing menjadi realistis: mudah dan cepat digandakan, cepat dalam pembuatan master, banyak pilihan material-medium dengan harga terjangkau, dan tetap impresif sehingga pesan menjadi mudah tersampaikan. Pilihan tersebut disadari ataupun tidak justru bisa efektif mendekatkan seni (rupa) pada masyarakat: karya seni tidak harus mahal. Menariknya, pada karya-karya berukuran besar TP membuatnya secara kolektif dengan keterlibatan anggotanya dalam karya tersebut.

“Tanpa Buruh Pabrik-pabrik Jadi Rumah Hantu” yang dilukis pada kanvas dengan mengunakan cat akrilik, seri poster “Penolakan Tambang Pasir Besi Kulonprogo” (2009), “Penolakan Pabrik Semen Gresik di Pati” (2009), “Penolakan PLTU di Batang” (2016) dengan teknik cukil kayu (wood cut) menjadi karya perlawanan terhadap keadilan yang kerap dialami oleh masyarakat kelas bawah. Tidak sekedar bermain dalam isu-isu tersebut, TP turut langsung turun ke lapangan mendampingi dan memberikan dukungan kepada warga yang memperjuangkan hak-haknya.

“Saat memberikan advokasi di Batang, bersama warga kita melakukan demo penolakan. Ekspresi dan pernyataan sikap (dalam demo) tersebut kita lakukan dengan happening art serta membuat mural bersama warga di ruang-bangunan publik,” jelas Presiden TP saat ini M. Yusuf Ucup kepada satuharapan.com tentang aksi advokasi kepada petani Kabupaten Batang yang menolak rencana pembangunan PLTU pada tahun 2016.

Rencana pembangunan PLTU berbahan bakar batubara selain mengubah fungsi peruntukan lahan pertanian menjadi kawasan industri juga telah menyengsarakan petani setempat mengingat keberadaan tapak PLTU menggangu aktivitas pertanian warga setempat bahkan di beberapa titik mematikan mata pencaharian petani setempat. Mengetahui bahwa investor PLTU berasal dari Jepang, pada tahun itu pula TP berangkat ke Jepang membawa karya demo dan dokumentasi foto dampak tapak PLTU bagi petani setempat. Di Jepang, TP menyuarakan perjuangan petani-nelayan Batang. Dalam sebuah happening art bersama masyarakat, TP membuat tulisan besar “FOOD NOT COAL!” dengan membentangkan kain di atas lahan persawahan.

Dalam setiap penyelenggaraan pemilu TP selalu membuat karya poster untuk mengingatkan seluruh pihak untuk bisa berpikir jernih dalam menentukan pilihannya. Ini sejalan dengan semangat TP dalam mendorong perubahan demokratik. Seri poster terbaru “Menyikapi Pemilu 2019” yang menjadi rangkaian dari seri edukasi Terompert Rakyat dibuat dalam bentuk yang menarik. Jika sebelumnya seri poster dibuat dalam persegi panjang ukuran 40 cm x 60 cm, pada seri poster terbarunya TP membuat dalam bentuk lingkaran dengan diameter 58 cm. Untuk seri poster TP masih mempertahankan teknik mencetaknya dengan menggunakan cukil kayu di atas kertas.

Sebanyak dua puluh dua poster berbentuk lingkaran dengan mengusung tema anti korupsi-kolusi-nepotisme, perdamaian dan kerukunan di tengah realitas keberagaman, penyelamatan lingkungan, menolak kebohongan-hoax, hingga pesan-pesan untuk menjadi pemilih yang cerdas seperti poster berbentuk pantun: beli pindang kok salah teri, teri dibuang di pinggir kali, Di pemilu ini jangan salah pilih, biar tak menyesal karena dikorupsi.

Seni dan Gerakan Sosial

“Menarik bahwa (materi pameran TP) tidak lantas menjadi arsip pasif, tetapi arsip-arsip ini sudah sangat kental berbicara bahkan ikut serta. Mereka turut menjadi saksi mata bagaimana menjadi perjalanan sosial-politik Indonesia selama ini. Karena secara fungsi (karya-karya tersebut) dipajang dan menjadi bagian dari aksi-aksi yang melibatkan kegiatan masyarakat,” papar Bambang tentang materi karya pameran TP.

Dalam diskusi yang berlangsung pada Kamis (29/11), Bambang menjelaskan karya seni TP sebagai seni propaganda, yaitu seni yang tujuannya adalah untuk bersama-sama memperjuangkan suatu tujuan (untuk rakyat) dan bersifat campaign. Taring padi mengambil sudut bidik hubungan hegemonik antara penguasa dan yang dikuasai. Gagasan dasarnya adalah eksploitasi penguasa terhadap rakyat yang tak berdaya. Mereka mengidentifikasi rakyat sebagai buruh dan petani. Semua cara dilakukan untuk menguasai rakyat. Maka lahirlah karya seni banner, seni cetak dan instalasi yang secara lugas menggambarkan perjuangan rakyat yang mengganyang penindasan oleh penguasa.

Jejak TP dalam melakukan aksi turun langsung memberikan advokasi dan pendampingan, ataupun demo-demo merespon gejolak sosial-politik terkait dengan keadilan tergambar dalam karya-karya TP terlebih ketika karya arsip tersebut dilengkapi dengan dokumentasi foto. Tanpa narasi berlebihan, karya arsip TP sudah banyak berbicara. Tahun 1999 dalam sebuah Festival Memedi Sawah di Klaten, melalui aksi tersebut keperpihakan TP dengan mudah terbaca dari karya-karya yang menyertai aksinya hingga harian Kompas memerlukan menurunkan liputan setengah halaman pada aksi lanjutan dari Festival Memedi Sawah dalam edisi Kamis (25/10/2001) berjudul “Tumpeng Kotoran Sapi untuk Ilmuwan Pertanian”.

Rontek/banner seri “Mengadili Soeharto dan Para Jendralnya” (2000), “Tanah untuk Rakyat” (2000), “40 Tahun Peristiwa 1965” (2005), “Penolakan Rancangan UU Anti Pornografi” (2007),  psoter “Solidaritas Antar Masyarakat Adat” (2014/2017), psoter “All Mining is Dangerous” (2010), dan masih banyak lagi rontek/banner dan poster secara jelas menunjukkan di posisi mana TP menempatkan dirinya dalam gerakan sosial sepanjang perjalanan bangsa Indonesia.

Seni propaganda sendiri mulai terorganisasi dan marak di bawah pendudukan Jepang. Proyek ini sebenarnya dimulai ketika Jepang terlibat dalam Perang Asia pasifik (1937-1945). Selama 5 tahun itulah,  Jepang, tidak hanya membuat poster yang melawan pihak sekutu (Belanda dan Inggris) tapi juga membujuk orang Indonesia untuk secara sukarela dijajah oleh Jepang dengan motto 3A: Nippon Pemimpin Asia, Nippon Pelindung Asia, dan Nippon Cahaya Asia.

Poster-poster propaganda dari para pejuang anti penjajahan muncul seiring dengan lahirnya pergerakan para pemuda dan kaum terpelajar serta berbagai kelompok pembebasan, mulai dari kaum yang berhaluan anarkism, marxisme, nasionalis serta gerakan keagamaan. Sedangkan di kalangan seniman Indonesia sendiri ditandai dengan lahirnya Persatuan Ahli Gambar Indonesia (PERSAGI), Seniman Indonesia Muda (SIM), Pusat Tenaga Pelukis Indonesia (PTPI).

“Demonstrasi sebagai salah satu kanal menyampaikan pendapat dan tuntutan jelas membutuhkan media propaganda yang spesifik: poster. Dalam konteks aksi-aksi mahasiswa yang dilakukan oleh mereka yang berasal dari kampus ITB dan Bandung secara umum, membicarakan media propaganda saat itu berarti menyinggung soal poster-poster yang kemudian dikenal sebagai Poster Reformasi,” papar Bambang dalam seminar Kamis (29/11).

Poster merupakan media yang paling efektif untuk menyebarkan informasi dan semangat perlawanan ketika media sosial masih menjadi sesuatu yang asing. Dibuat oleh mereka yang belajar seni rupa dan desain, Poster Reformasi dibuat dengan pertimbangan yang jeli soal elemen visual dan bahasa komunikasi. Bukan hanya agar poster-poster itu tampak menarik secara visual, tapi juga agar informasinya tersampaikan dengan baik.

Diluar rontek/banner, TP menggunakan karya seni lain sebagai media propagandanya. Newsleter Terompet Rakyat yang diproduksi secara sederhana dengan perbanyakan fotokopi menjadi arsip penting perjalanan TP. Begitupun seri Terompet Rakyat yang diproduksi dalam bentuk lain semisal patch/bedge, kartu pos, stiker, hingga kalender menjadi medium yang efektif dalam menyuarakan sikap-sikapnya selama ini sekaligus sebagai sebentuk ekspresi seni.

Menarik juga bahwa (materi pameran TP) tidak lantas menjadi arsip pasif, tetapi arsip-arsip tersebut sudah sangat kental berbicara bahkan ikut serta menjadi saksi mata bagaimana menjadi bagian perjalanan sosial-politik Indonesia selama ini. Karena secara fungsi, karya-karya tersebut dipajang dan menjadi bagian dari aksi-aksi yang melibatkan kegiatan masyarakat.

Dalam hal berjejaring, TP tidak hanya bicara secara visual (seni rupa) tetapi juga merambah ke bidang lain misalnya musik, teater, karnaval, dan menyebar ke berbagai jaringan tidak hanya di Yogyakarta dan sekitarnya namun hingga di berbagai tempat di Indonesia. Sebutlah jejaring dengan ruang kolektif di Pati semisal Roemah Goegah, Nguripi Kendeng, ruang-ruang kolektif di Batang, dan juga ruang-ruang kolektif di Jakarta dan Bandung hingga luar negeri menjadi indikasi bahwa hal tersebut bukan sekedar konstelasi TP dengan pergerakannya yang luas, namun juga bagaimana jaringan-jaringan itu terbentuk menjadi sebuah gerakan-gerakan baru yang kuat. Kelompok musik independen yang kerap menyuarakan kritik-kritik sosial di Indonesia hampir bisa dipastikan berjejaring dengan TP.

Karya seni yang digunakan dalam aksi kesemua unsur melebur menjadi satu kesatuan pada puncak proses, puncak peristiwa. Karya-karya TP bukan lagi sebagai benda mati yang hanya sebagai pelengkap aksi kegiatan namun juga hidup sebagai bagian dari aksi tersebut.

Pada sebuah dinding rumah di pinggir jalan di Dusun Geneng-Jogoripon, Sewon-Bantul, Taring Padi membuat mural bertuliskan "Tahan lahan, jaga hutan dan lautan, untuk bekal masa depan". Arus modal yang tidak terbendung telah menukarkan kekayaan alam dengan modal yang berdampak langsung pada kerusakan alam dan budaya agraris. Penyikapan-penyikapan demikian akan lebih mudah terarsipkan dalam dinding ingatan kolektif masyarakat.

Sebagai presentasi retrospeksi, pameran “Bara Lapar Jadikan Palu” menjadi menarik manakala karya-karya yang dipamerkan sesungguhnya adalah kumpulan arsip dengan karakternya yang sunyi, namun di sisi lain karya-karya yang masih mampu membaca konteks hari-hari ini justru berubah menjadi karya yang tidak dibekukan oleh perjalanan waktu. Ini seolah menolak kodrat arsip itu sendiri. Pada titik itulah Taring Padi Masih Kerja.

 

Back to Home