Google+
Loading...
RELIGI
Penulis: Dewasasri M Wardani 09:24 WIB | Rabu, 13 Maret 2019

Tebuireng Terapkan Pesantren Sehat

Pos Kesehatan Pesantren (Poskestren) Tebuireng pada 2016 telah berubah menjadi klinik rawat inap atau Pusat Kesehatan Pesantren (Puskestren). Tak hanya melayani santri, Puskestren juga menerima masyarakat sekitar pesantren yang berobat. (Foto: depkes.go.id)

JOMBANG, SATUHARAPAN.COM – Tebuireng, menjadi salah satu pesantren yang menerapkan program Pesantren Sehat. Mulai dari melakukan promotif preventif hingga membangun rumah sakit.

Larangan merokok di kawasan pesantren misalnya, Tebuireng telah lama menerapkan larangan itu kepada santri dan guru. Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng Ir KH Salahuddin Wahid mengatakan, pihaknya selalu mengawasi santrinya agar tidak merokok.

Kami memberi sanksi yang bersifat mendidik kepada santri yang merokok. Kami juga mengadakan kerja sama dengan Komnas Pengendalian Tembakau dalam sosialisasi bahaya merokok, katanya pada Seminar Nasional Peran Pesantren dalam Pembangunan Kesehatan, Sabtu (9/3) di Pesantren Tebuireng.

KH. Salahuddin menambahkan, di pesantrennya sudah menjalankan program promosi kesehatan yang meliputi program pengelolaan penyakit krinis (prolanis), bimbingan Unit Kesehatan Sekolah, Penyuluhan Kesehatan, Pelatihan Santri Husada, Pembinaan Kantin Sehat, Roan (Kerja bakti) kebersihan, dan Medical Check.

''Prolanis dilakukan satu bulan sekali untuk pasien kronis dengan senam, penyuluhan, dan pemeriksaan gratis,” katanya.

Ia mengatakan, penyuluhan kesehatan meliputi pembinaan kader juru basmi jentik, penyakit TBC, penyakit menular, penyuluhan demam berdarah dan kesehatan remaja. Kemudian pembinaan kantin sehat meliputi penyadaran untuk tidak menggunakan bahan pengawet, pemanis, perasa, dan pewarna.

Selain itu, di Tebuireng telah mulai dibangun Rumah Sakit Hasyim Asyari atas kerjasama dengan Dompet Dhuafa. Rencananya RS tersebut akan diisi 100 tempat tidur,  dan diharapkan akhir 2019 RS itu sudah bisa beroperasi.

Selanjutnya, sejak 2013, Tebuireng sudah bekerja sama dengan Persatuan Dokter Gizi Indonesia dalam peningkatan dan pemantauan status gizi santri. Tak hanya itu, santri baru diukur tinggi badan dan ditimbang berat badannya.

''Ternyata jumlah santri baru yang berat badannya di bawah standar di berbagai sekolah dan madrasah beragam, paling tinggi 12,5 persen dan paling rendah 3,2 persen. Yang berat badannya di atas standar juga tidak beda banyak,'' kata KH. Salahuddin.

Tinggi dan berat badan yang di atas dan di bawah standar, tambahnya, akan dipantau setiap bulan. Pihak pesantren melakukan perbaikan menu gizi sesuai arahan dokter gizi.

Dalam upaya perbaikan gizi ini, Tebuireng telah menjaring kerja sama dalam Pelatihan Gizi (TOT),  untuk meningkatkan peran Pesantren Tebuireng sebagai Pusat Program Percepatan Perbaikan Gizi bagi pesantren lain di jawa Timur.

Pelatihan itu dilakukan di kabupaten Jombang, Nganjuk, Bojonegoro, Ponorogo dan kota Surabaya. Di samping itu juga telah dilakukan penyuluhan gizi di beberapa sekolah Islam di Jombang.

''TOT ini bermanfaat karena banyak pesantren yang pengetahuan dan kesadarannya masih kurang tentang kesehatan khususnya masalah gizi. Kami juga memberikan pil anemia kepada santri yang membutuhkan,'' katanya. (depkes.go.id)

 

Editor : Melki Pangaribuan

Back to Home