Google+
Loading...
OPINI
Penulis: Iswari Setyanti 05:23 WIB | Senin, 14 Januari 2019

Teh Tubruk dan Hoaks

Endapkan dan saring!
Foto: istimewa

SATUHARAPAN.COM – Teh tubruk adalah minuman enak yang disukai banyak orang. Teh tubruk adalah teh yang tidak disaring. Sehingga tehnya, ditambah bunga melati, melayang-layang di seluruh permukaan cangkir. Setelah mengendap beberapa saat kemudian, barulah diminum.

Butuh seni khusus untuk meminumnya. Begitu lidah menikmati hangatnya teh, seketika mulut merespons cepat pilahan-pilahan teh kasar dan tak beraturan untuk kita keluarkan dari mulut kita.

Mungkin tidak semua orang menyukai hal ini. Namun, saya sungguh menyukainya. Mulut adalah alat penyaringnya dan pemilahnya. Teh tubruk mengajar kita untuk menyaring apa saja yang masuk dan keluar dari hati, pikiran, dan mulut kita. Tidak semua bisa ditelan mentah-mentah, namun tidak semua informasi dibuang.

Kata kuncinya adalah mengendapkan dan menyaringnya. Ada seni memilah dan memilih mana yang baik, benar, dan tepat untuk ditelan dan direguk, dan mulut adalah saringan pertama sebelum masuk kerongkongan dan perut.

Hoaks

Berkait dengan berita, kita perlu mengendapkan dan menyaringnya sebelum mereguk dan menikmatinya, bahkan membagikannya ke orang lain. Dalam era digital di mana gawai menjadi barang sakti yang bisa memuji, sekaligus merundung, pengendalian diri menjadi keniscayaan. Adagium lama ”mulutmu harimau”, sekarang menjadi ”jempolmu adalah kendalimu”.

Hoaks adalah kebohongan yang sengaja dibuat untuk menyamar sebagai kebenaran. Hoaks adalah kebohongan yang dapat dibedakan jelas dari kesalahan dalam pengamatan atau suatu penghakiman, serta kebohongan atau sekadar lelucon seperti April Mob.

Secara umum, hoaks adalah segala usaha untuk memperdaya seseorang agar memercayai yang salah sebagai kebenaran. Biasanya hoaks itu berciri bombastis, menghebohkan, yang membuat banyak orang menjadi penasaran. Semakin banyak orang penasaran, hoaks semakin cepat menyebar. Celakanya hoaks yang diyakini sebagai kebenaran, biasanya digunakan untuk maksud kejahatan atau menjatuhkan pihak tertentu.

Ironisnya pula: hoaks disenangi dan dinikmati karena menghasilkan uang. Jadi ada keuntungan ekonomi, bahkan politik, yang diperoleh bagi para penebarnya untuk menimbulkan kekacauan, jelasnya menciptakan chaos pada level-level tertentu. Tergantung target dan sasarannya.

Kita patut prihatin karena kultur budaya masyarakat kini kerap tidak punya mekanisme mengendapkan dan menyaring berita. Sehingga apa pun berita termasuk hoaks kerap kali disharing (dibagikan) tanpa disaring. Hoaks acap diteruskan dan disebarkan tanpa ada chek dan recheck. Dan ada orang-orang yang berhati jahat demi kepentingannya menyebarkan hoaks untuk mencapai tujuan dan melampiaskan hasrat kebohongannya.

Literasi Digital

Terlebih menyambut tahun politik 2019, bisa dipastikan fenomena hoaks makin merajalela. Tak seperti seni minum teh tubruk tadi—perlunya pengendapan dan mulut sebagai penyaringnya; mesin-mesin politik dan oknum-oknum tertentu memainkan hoaks untuk kepentingannya sendiri.

Fenomena Hoaks merebak luar biasa karena kita berada dalam era Post-Truth atau pascakebenaran, yaitu zaman di mana obyektifitas dan rasionalitas membiarkan emosi atau hasrat memihak pada keyakinan, meski fakta memperlihatkan hal berbeda. Akibatnya, nilai-nilai kebenaran terdegradasi dan menjadi bias, dan intoleransi makin meningkat karena antarkelompok saling mengalienasi (baca: mengasingkan).

Karena itu, tak ada cara yang lebih bijaksana selain melakukan literasi digital dengan cara memverifikasi dan mengklarifikasi segala informasi secara bersama-sama. Membangun budaya yang menyaring berita dengan hati nurani jernih dan nalar sehat adalah budaya yang perlu terus-menerus ditumbuhkan dan dibangun.

Kita juga dipanggil untuk bersikap kritis terhadap setiap berita. Bila membaca dan mendengar cerita apa saja yang bersifat bombastis dan menghebohkan, jangan buru-buru menanggapi atau membagikan kepada orang lain.

Bersikaplah kritis terhadap berita! Endapkan dan saring! Mari belajar dari seni minum teh tubruk!

Editor : Yoel M Indrasmoro

Back to Home