Google+
Loading...
RELIGI
Penulis: Sotyati 15:52 WIB | Selasa, 29 Januari 2019

Temu Raya Komisi Dewasa GKI Sinwil Jabar: Saatnya Menyuarakan Kebenaran

Paduan Suara dari GKI Serang dalam ibadah kreatif Temu Raya Komisi Dewasa GKI Sinode Wilayah Jawa Barat di Aula SMA Kristen I BPK Penabur, Tanjung Duren, Jakarta Barat, 26 Januari 2019. (Foto: Sotyati)

SATUHARAPAN.COM – Sudah saatnya meninggalkan sikap diam. Kini saatnya menyuarakan kebenaran, bahkan menyatakan keberpihakan. Berpihak pada kebenaran. Dan, semua itu harus dilakukan dengan hati tulus, tanpa pamrih.

Di atas adalah petikan renungan yang disampaikan Pdt Arliyanus Larosa dalam Ibadah Kreatif Temu Raya Gabungan Komisi Dewasa GKI Sinode Wilayah Jawa Barat, di Jakarta, Sabtu 26 Januari 2019.

Pdt Arliyanus menggugah peserta temu raya dengan menegaskan sikap diam bisa berarti memihak kepada yang salah, yang jahat, yang menindas, yang memfitnah, yang memutarbalikkan keadilan dan kebenaran, atau memihak kepada penyebar hoaks. Diam, juga berarti cerminan rasa takut yang seharusnya tidak boleh menguasai orang-orang yang percaya akan perlindungan tangan Tuhan yang tak kelihatan.

“Bukankah Tuhan sudah memberikan kita Roh Penolong? Roh Kebenaran?” ia mengingatkan.

Temu Raya Gabungan bertema “Nation’s Revival” dengan subtema “The Invisible Hand” itu, seperti dikemukakan Ketua Panitia Jasa Purba SE MM, dilaksanakan untuk menyikapi fenomena yang terjadi belakangan ini.

Dimulai dari Pilkada DKI Jakarta, berlanjut menghadapi Pilpres 2019, negara ini menghadapi kegaduhan luar biasa. Ujaran kebencian merajalela di media sosial, sikap intoleran merebak, muncul gerakan kelompok yang hendak mengganti ideologi negara Pancasila dengan nilai-nilai yang bertentangan dengan nilai-nilai keberagaman. Dan, masyarakat terbelah.

Jasa Purba menambahkan, keprihatinan makin mendalam ketika melihat yang terlibat di dalam segala kegaduhan itu justru elite politik, tokoh masyarakat, hingga pemimpin agama, yang seharusnya menjadi panutan.

Fenomena itu disikapi dengan semangat gerakan perubahan kebangkitan bangsa. Gereja, menurutnya, memiliki peran penting dan strategis sebagai mitra pemerintah untuk menghadirkan nilai-nilai moral yang tinggi.

“Secara kelembagaan, gereja dapat membangun dan memperkuat jaringan serta kerja sama lintas agama, lintas lembaga dalam proyek-proyek sosial, dan pembangunan sumber daya manusia yang berkarakter dan berintegritas,” demikian Jasa Purba berharap.

Mengakhiri renungan dalam ibadah kreatif, Pdt Arliyanus menggarisbawahi harapan itu, “Maka serukanlah terus keberpihakan pada kebenaran. Banggalah sebagai bangsa Indonesia. Rawatlah kebinekaan. Lawanlah hoaks, pemecah belah. Berkaryalah bagi Indonesia, Ibu Pertiwi yang melahirkan dan membesarkan kita. Dan teruslah berbuat baik di negeri tercinta ini. Jangan gentar. Jangan kecewa dan putus asa ketika ditolak. Karena Tuhan menyertai kita dan karena kita adalah Indonesia.”

Golput Berdosa bagi Demokrasi

Lebih kurang seribu peserta Temu Raya Komisi Dewasa Klasis se-Sinode Wilayah GKI Jabar memenuhi Aula SMA Kristen I BPK Penabur, Tanjung Duren, Jakarta Barat. Peserta berdatangan dari klasis terdekat, di wilayah Jakarta Barat, hingga dari tempat jauh seperti Cibadak, Cicurug, Sukabumi, Cianjur, Bandung, Cirebon, Tasikmalaya, Lampung, hingga Pekanbaru dan Batam.  

Temu Raya dikemas dalam dua kegiatan utama, yakni ibadah kreatif dan talkshow, menghadirkan pembicara Enggartiasto Lukita, warga GKI yang mendapat kepercayaan menjabat Menteri Perdagangan RI, Prof Dr Siti Musdah Mulia, Ketua ICRP dan dosen UIN Syarif Hidayatullah, dan Pdt Dr Albertus Patty, Ketua PGI. Pdt Imanuel Kristo memandu talkshow itu.

Enggartiasto, yang sudah makan asam garam di dunia perpolitikan di Indonesia, mengajak peserta temu raya untuk berperan dalam pesta demokrasi yang akan datang, menggunakan hak suara dalam pemilihan umum. Walau gereja tidak boleh masuk politik praktis, tetapi ia mengingatkan gereja harus tahu politik.

Ia merasa perlu mendorong warga gereja berperan aktif mengingat pelaksaan pemilu jatuh pada hari libur panjang, yang biasa dimanfaatkan sebagian warga gereja berpegian ke luar kota, bahkan ke luar negeri.

Memberikan hak pilih merupakan perwujudan pengakuan kepada rakyat untuk berperan serta secara aktif dalam menentukan wujud penyelenggaraan pemerintahan. Hak pilih itu harus dimanfaatkan sebaik-baiknya. “Jangan menuntut apa pun kalau Anda tidak mau berperan. Demokrasi menuntut partisipasi aktif. Menjadi golput, berdosa bagi demokrasi,” kata Enggartiasto yang mulai terjun berorganisasi pada tahun 1974 dengan menjadi Ketua Cabang Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia, hingga 1976.

Pdt Timur Citra Sari ThM dari BPMSW GKI SW Jabar, dalam pengantar, juga menggariskan pesan yang sama. Dalam semangat dan kesadaran yang sama seperti saat para pendahulu mengubah Tiong Hoa Kie Tok Kauw Hwee menjadi Gereja Kristen Indonesia, Temu Raya Komisi Dewasa diselenggarakan dengan tema “Kebangkitan Bangsa”, berarti pilihan telah dibuat untuk temu raya kali ini, yakni menjadikan aneka bentuk dan ekspresi “temu” ini sebagai sarana untuk menghayati lebih lagi hidup berbangsa dan bernegara.

Berarti, peserta temu raya bukan hanya berkumpul untuk saling menyapa, namun merenungkan apa yang akan dilakukan untuk Indonesia.

Editor : Sotyati

Zuri Hotel
Back to Home