Loading...
FLORA & FAUNA
Penulis: Dewasasri M Wardani 14:55 WIB | Senin, 02 Mei 2016

Temulawak, Jamu Unggulan Asli Indonesia

Temulawak (Curcuma xanthorrhiza). (Foto: wikiherbals.com)

SATUHARAPAN.COM - Temulawak (Curcuma xanthorrhiza), tumbuhan obat yang tergolong dalam suku temu-temuan (Zingiberaceae), adalah salah satu tanaman obat unggulan yang memiliki khasiat multifungsi. Dr Roy Sparringa, Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM RI), mengatakan dari sekitar 900 produk obat tradisional yang terdaftar di Indonesia, sebagian besar memiliki kandungan temulawak.

"Temulawak ini unggulan asli Indonesia. Walau tanamannya menyebar ke seluruh dunia, tetapi curcuminoid dan minyak xanthorrizol dari temulawak Indonesia yang paling dicari," kata Roy, seperti diberitakan kompas.com.

Temulawak unggulan saat ini adalah Cursina 3, yang seperti dikutip dari situs litbang.deptan.go.id, merupakan hasil seleksi individu asal Majalengka. Varietas ini, memiliki bentuk daun jorong atau lonjong (oblong elliptic), rimpang berbentuk agak kerucut, kulit cokelat muda, daging kuning oranye tua, dengan berat per rumpun 600 gr-1.200 gr.

Produksi rata-rata rimpang 21 ton-31 ton. Keunggulan varietas ini memiliki kadar kurkumin 5,22 persen, minyak atsiri 6,47 persen, xanthorizol 0,97  persen, pati 48,9 persen, abu 5,74  persen, serat 2,51 persen. Produksi yang dapat dicapai 21 ton-31 ton/ha. Varietas temulawak ini potensial dikembangkan secara komersial untuk bahan baku industri dan jamu.

Khasiat temulawak yang sudah terbukti ilmiah antara lain sebagai antiinflamasi, memelihara fungsi hati, meningkatkan nafsu makan, hingga menurunkan lemak dalam darah.

"Selain untuk liver, kurkumin dalam temulawak bisa untuk inflamasi. Pasien dengan osteoartritis bisa dikurangi sakitnya dengan temulawak," kata Indah Yuning Prapti, Kepala Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Tanaman Obat dan Obat Tradisional Kemenkes RI.

Tanaman temulawak menurut Wikipedia, berasal dari Indonesia, khususnya Pulau Jawa. Saat ini, sebagian besar budidaya temu lawak berada di Indonesia, Malaysia, Thailand, dan Filipina. Tanaman ini selain di Asia Tenggara dapat ditemui pula di Tiongkok , Indochina, Barbados, India, Jepang, Korea, Amerika Serikat, dan beberapa negara Eropa.

Temulawak adalah nama yang biasa dipakai di Jawa, sementara di Sunda disebut koneng gede, sedangkan Madura disebut temu labak.

Tanaman ini, dapat tumbuh dengan baik pada dataran rendah sampai ketinggian 1.500 meter di atas permukaan laut, dan berhabitat di hutan tropis. Rimpang temu lawak dapat tumbuh dan berkembang dengan baik pada tanah yang gembur.

Tanaman ini berbatang semu, dan habitusnya dapat mencapai ketinggian 2 – 2,5 meter. Daun tanaman temulawak bentuknya panjang dan agak lebar. Panjang daun sekitar 50 – 55 cm, lebarnya lebih kurang 18 cm, dan tiap helai daun melekat pada tangkai daun yang posisinya saling menutupi secara teratur. Daun berbentuk lanset memanjang berwana hijau tua dengan garis-garis cokelat.

Tanaman temu lawak dapat berbunga terus-menerus sepanjang tahun secara bergantian. Warna bunga umumnya kuning dengan kelopak bunga kuning tua, serta pangkal bunganya berwarna ungu.

Rimpang induk temu lawak bentuknya bulat seperti telur, dan berukuran besar, sedangkan rimpang cabang terdapat pada bagian samping yang bentuknya memanjang. Tiap tanaman memiliki rimpang cabang antara 3 – 4 buah. Warna rimpang cabang umumnya lebih muda daripada rimpang induk. Warna kulit rimpang sewaktu masih muda maupun tua kuning, atau cokelat kemerahan. Warna daging rimpang kuning atau oranye tua, dengan cita rasa amat pahit, atau cokelat kemerahan berbau tajam, serta keharumannya sedang.

Rimpang terbentuk dalam tanah pada kedalaman lebih kurang 16 cm. Sistem perakaran tanaman temu lawak termasuk akar serabut.  Di Indonesia satu-satunya bagian yang dimanfaatkan adalah rimpang temu lawak untuk dibuat jamu godok.

Kandungan dan Manfaat

Kandungan utama rimpang temulawak adalah protein, karbohidrat, dan minyak atsiri yang terdiri atas kamfer, glukosida, turmerol, dan kurkumin. Kurkumin bermanfaat sebagai antiinflamasi (antiradang) dan antihepatotoksik (anti keracunan empedu).

Menurut  jurnal.batan.go.id, temulawak memiliki efek farmakologi, yaitu hepatoprotektor (mencegah penyakit hati), menurunkan kadar kolesterol, antiinflamasi (antiradang), laxative (pencahar), diuretik (peluruh kencing), dan menghilangkan nyeri sendi. Manfaat lainnya, meningkatkan nafsu makan, melancarkan ASI, dan membersihkan darah.

Khasiat obat pada temulawak juga ditegaskan Raharjo dan Rostiana dari Badan Penelitian Tanaman Rempah dan Obat (Balittro) Bogor. Temulawak mampu mengobati berbagai penyakit kelainan pada hati (lever), kantong empedu dan pankreas, antibakteri, antidiabetik, antihepatotoksik, antiinflamasi, antioksidan, antitumor, diuretika, depresan, dan hipolipidemik.

Prof Dr Zullies Ikawati Apt, Dosen Fakultas Farmasi UGM bersama timnya menemukan formula baru untuk mengurangi kolesterol dalam tubuh. Formula ini merupakan kombinasi hasil daun sambung nyawa dengan temulawak. Temulawak sendiri, diketahui mampu menurunkan kadar kolesterol, sementara daun sambung nyawa bisa meningkatkan high-density lipoprotein (HDL) dan menurunkan low-density lipoprotein (LDL).

Temulawak juga mengandung senyawa beracun yang dapat mengusir nyamuk, karena tumbuhan tersebut menghasilkan minyak atsiri yang mengandung linelool, geraniol yaitu golongan fenol yang mempunyai daya repellan terhadap nyamuk Aedes aegypti. Hal ini dibuktikan dengan penelitian yang dilakukan Purbasari  dan Resti dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Diponegoro, seperti dikutip dari fkm.undip.ac.id. Rata-rata kematian larva nyamuk Aedes aegypti semakin tinggi dengan semakin meningkatnya konsentrasi air temulawak yang digunakan.

Minyak atsiri pada rimpang temulawak, juga dapat menghambat pertumbuhan jamur Candida albicans, dari penelitian yang dilakukan Heru Sudrajad, Firman Al Azar, dari Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Tanaman Obat dan Obat Tradisional, Badan Penelitian dan Pengembang Kesehatan Kementerian Kesehatan RI.

Candida albicans adalah jamur seksual diploid (suatu bentuk ragi), dan merupakan agen penyebab infeksi oral dan vaginal oportunis pada manusia. Infeksi-infeksi jamur sistemik (fungemia) telah menjadi penyebab morbiditas dan mortalitas yang penting pada pasien yang terganggu sistem kekebalannya (seperti pasien AIDS, kemoterapi kanker, transplantasi organ atau sumsum tulang). 

Editor : Sotyati


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home