Google+
Loading...
EKONOMI
Penulis: Reporter Satuharapan 09:38 WIB | Selasa, 12 Februari 2019

Terkait Harga Avtur, Presiden Akan Panggil Dirut Pertamina

Ilustrasi. Pesawat mengisi bahan bakar. (Foto: Berita Moneter dan Keuangan)

JAKARTA, SATUHARAPAN.COM – Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengaku telah menerima banyak keluhan terkait tingginya harga tiket pesawat untuk penerbangan di dalam negeri. Menurut Presiden, tingginya harga tiket pesawat ini karena harga bahan bakar pesawat, yaitu avtur, di Indonesia ternyata sangat mahal.

“Saya terus terang juga kaget. Dan, malam hari ini juga saya baru tahu tadi dari Pak Chairul Tanjung mengenai avtur. Ternyata avtur yang dijual di Soekarno-Hatta itu dimonopoli oleh Pertamina,” kata Presiden Jokowi, saat memberikan sambutan pada acara Gala Dinner Peringatan HUT ke-50 Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) di Ballroom Puri Agung Hotel Grand Sahid Jaya, Tanah Abang, Jakarta Pusat, Senin (11/2) malam, seperti dilansir situs resmi setkab.go.id.

Karena itu, Presiden Jokowi akan mengundang Dirut Pertamina terkait tingginya harga avtur di dalam negeri itu. Ia menegaskan, pilihannya hanya satu, harganya bisa sama dengan harga internasional. Kalau tidak bisa, berarti pemerintah akan masukkan kompetitor lain sehingga terjadi kompetisi.

“Ya, pilihannya kan hanya itu, sudah enggak ada yang lain. Karena memang, ini sangat-sangat mengganggu,” Presiden menegaskan.

Menurut Presiden, karena monopoli harganya jadi tidak kompetitif, dibandingkan harga avtur dengan (di negara) yang di dekat-dekat kita terpaut kurang lebih 30-an persen. Itu yang harus dibenahi.

“Kalau ini diterus-teruskan, ya nanti pengaruhnya ke apa? Ke harga tiket pesawat karena harga avtur itu menyangkut 40 persen dari cost yang ada di tiket pesawat. Ya besok saya panggil saja,” kata Presiden seraya menambahkan, Pertamina dalam laporan lisan mengatakan keuntunga sudah di atas Rp20 triliun.

Presien meyakini kalau tidak dimonopoli, pasti banyak yang antre untuk menjual avtur di bandara-bandara di tanah air.

“Semuanya memang harus ada kompetisi. Kalau ada kompetisi akan ada persaingan yang sehat. Kalau ada persaingan sehat, akan ada efisiensi di semua cost yang ada. Arahnya ke situ,” ujar Presiden menjawab wartawan usai acara gala dinner PHRI.

 

Back to Home