Loading...
RELIGI
Penulis: Martahan Lumban Gaol 17:31 WIB | Senin, 03 Agustus 2015

Tetesan Air Mata Gus Mus Batalkan Ahwa

Ilustrasi: KH Mustofa Bisri (Gus Mus) saat memberi ceramah terkait dengan pemerintahan yang baru dalam acara Munas PBNU 2014 yang digelar di kantor PBNU, Jalan Kramat Raya, Jakarta Pusat. (Foto: Dok. satuharapan.com/ Dedy Istanto).

JOMBANG, SATUHARAPAN.COM – Tetesan air mata Kiai Haji Mustofa Bisri di Arena Muktamar ke-33 Nahdlatul Ulama berhasil meredakan konflik, sekaligus membatalkan tata cara pemilihan Rais Aam lewat sistem Ahlul Halli Wal Aqdi (Ahwa) atau sistem keterwakilan.

Dengan berurai air mata, pemimpin Pondok Pesantren Raudlatuh Tholibin Rembang ini mengambil alih tanggung jawab atas kekisruhan Muktamar ke-33 NU yang terjadi akibat keberadaan tata cara pemilihan ketua umum lewat Ahwa dalam Rancangan Tata Tertib Muktamar ke-33 NU, tepatnya di Pasal 19.

Sosok yang akrab disapa Gus Mus itu mengungkapkan kesedihannya atas kekisruhan yang terjadi. Dengan suara perak khasnya yang terdengar terbata-bata menahan haru, dia pun menyampaikan harapan terdalamnya kepada muktamirin.

"Saya menangis karena kita organisasi yang selama ini mengkritik keras berbagai praktik buruk politik di negeri ini, ternyata kita sendiri digambarkan media-media seperti itu," kata Gus Mus, di arena Muktamar ke-33 NU, di Alun-alun Kabupaten Jombang, Provinsi Jawa Timur, Senin (3/8).

Kemudian, Gus Mus juga mengaku malu kepada Allah Subhanahu wa ta'ala (SWT), Kiai Hasyim Asyari, Kiai Wahab Chasbullah. Terlebih, ketika pada Senin (3/8) pagi, membaca headline salah satu media yang menyebutkan ‘Muktamar NU Gaduh, Muktamar Muhammadiyah Teduh’.

"Saya malu kepada Allah SWT, malu kepada mbah Hasyim Asyari, Mbah Wahab Chasbullah dan para pendahulu kita," kata dia.

"Sebagai Rais Aam yang sebentar lagi akan berakhir doakan saya tidak lagi memikul tanggung jawab seperti ini. Tapi selama saya masih menjabat saya minta tolong kepada Anda semua agar tidak memalukan. Kalau perlu saya mencium kaki Anda semua agar kita bisa tertib," Gus Mus menambahkan.

Kemudan, Gus Mus memimpin muktamirin membaca surat Al Fatihah yang  ditujukan kepada para pendahulu NU. Usai membaca Al Fatihah beliau pun membimbing muktamirin menyampaikan kesepakatan para kiai sepuh untuk menyelesaikan konflik tata cara pemilihan ketua umum lewat Ahwa.

"Kesepakatan kami bahwa jika ada sesuatu yang tidak bisa disepakati dalam forum maka akan dilakukan pemilihan hanya oleh rois syuriah. Ini kami lakukan karena kyai-kyai akan memilih imam mereka," ujar dia.

Sikap Gus Mus itu pun menuai pujian sekaligus kekaguman para muktamirin. Gus Mus dianggap sebagai pemimpin sejati yang berani mengambil tanggung jawab dan tak menyalahkan orang lain. Karena itu tak ada satu pun peserta yang menyatakan menolak ataupun sekedar berkomentar atas keputusan membatalkan Ahwa yang diambil Gus Mus.

Editor : Bayu Probo


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home