Google+
Loading...
SAINS
Penulis: Dewasasri M Wardani 14:22 WIB | Kamis, 13 September 2018

Tidur Berdampak Besar pada Prestasi Akademik

Ilustrasi. Mahasiwa Universitas KU Leuven di Leuven, Belgia sedang belajar di perpustakaan, 8 Juni 2016.(Foto: Voaindonesia.com)

MINNESOTA, SATUHARAPAN.COM – Mahasiswa yang ingin mendapatkan nilai bagus, disarankan untuk menghindari begadang, dan tidak mengambil kelas pagi, karena menurut sebuah penelitian terbaru, kurang tidur kemungkinan akan berakibat buruk pada hasil akademik.

Menurut penelitian tersebut, kurang tidur memiliki dampak buruk pada prestasi akademik, yang setidaknya sama dengan efek yang ditimbulkan oleh konsumsi minuman keras atau narkoba.

Setiap malam dalam satu pekan dimana mahasiswa mengalami gangguan tidur, terkait dengan penurunan indeks prestasi kumulatif (IPK) sebesar 0,02 poin, dan meningkatkan risiko tidak akan melanjutkan mata kuliah sebanyakan 10 persen.

“Mahasiswa yang memiliki jam tidur rutin yang baik memiliki nilai IPK lebih tinggi sebanyak 0,14 poin, dibandingkan mahasiswa yang selalu kurang tidur,” kata J Roxanne Prichard, Direktur Penelitian di Universitas St Thomas di Saint Paul, Minnesota.

“Saat mengerjakan pekerjaan sekolah dalam kondisi cukup istirahat, Anda akan menyelesaikan pekerjaan dan menyelesaikan persoalan yang rumit dengan lebih efisien,” kata  Prichard.

Penemuan tersebut melibatkan 55.322 mahasiswa melalui survei yang diadakan pada 2009..

Secara keseluruhan, mahasiswa memiliki IPK rata-rata sebesar 3,21, dan rata-rata mengalami kesulitan tidur selama 2,4 malam dalam sepekan, susah untuk tidur cepat atau tetap terjaga, bangun dengan merasa seperti tidak tidur, atau merasa kelelahan pada siang hari.

Penelitian menemukan, mahasiswa tahun pertama adalah yang paling sering mendapatkan nilai buruk sebagai dampak dari kesulitan tidur, menurut studi tersebut. Di kalangan para mahasiswa baru, makin sering mereka mengalami kesulitan tidur, memicu dampak yang sama pada nilai IPK dengan dampak yang ditimbulkan mengkonsumsi minuman keras dan obat-obatan terlarang.

Untuk mahasiswa tingkat atas, dampaknya sama dengan dampak yang ditimbulkan dari berada dalam hubungan yag penuh kekerasan.

Hanya masalah kesulitan belajar dan depresi atau kegelisahan, yang mempunyai dampak lebih besar pada kesuksesan akademik dari pada dampak dari kualitas tidur.

Mahasiswa baru memiliki risiko kegagalan sebanyak 14 persen dalam sebuah mata kuliah, akibat tidak mendapatkan tidur yang cukup.

Namun, edukasi mengenai perlunya istirahat yang cukup, belum menjadi standar program orientasi mahasiswa baru, yang biasanya mencakup topik-topik kesehatan, seperti stress, kecanduan minuman keras, penyalahgunaan narkoba, hubungan seksual aman, dan kekerasan terhadap pasangan.

Lebih dari 2/3 mahasiswa yang ikut dalam penelitian mengatakan, mereka tidak menerima informasi apapun dari universitas tempat mereka belajar, menangani masalah tidur dan edukasi mengenai tidur. Namun sebaliknya, 83 persen mengaku mendapatkan edukasi mengenai penggunaan narkoba dan alkohol.

Namun tetap saja, hasil-hasil penelitian menunjukkan mahasiswa bisa mendapat manfaat dari edukasi mengenai cara tidur tepat waktu, kata Dr James Pagel dari Universitas Coloradi Anschutz Medical Campus di Aurora.

Idealnya, mahasiswa tidur selama 7-9 jam setiap malam, kata Mary Hysing dari Universitas Bergen di Norwegia.berkata melalui surat elektronik. (Voaindonesia.com)

Editor : Sotyati

Back to Home