Google+
Loading...
SAINS
Penulis: Dewasasri M Wardani 10:23 WIB | Selasa, 05 Desember 2017

Tim iFish UGM Juara Kompetisi IOT Asia Pasifik

Tim iFish dari Universitas Gadjah Mada (UGM) berhasil menjadi juara 1 dalam kompetisi “Japan Global Problem Solver Challenge 2017" yang diselenggarakan Cisco Networking Academy Asia Pacific pada 30 November 2017 lalu. (Foto: ugm.ac.id)

YOGYAKARTA, SATUHARAPAN.COM – Tim iFish dari Universitas Gadjah Mada (UGM) berhasil menjadi juara 1 dalam kompetisi “Japan Global Problem Solver Challenge 2017" yang diselenggarakan Cisco Networking Academy Asia Pacific pada 30 November 2017.

Tim yang beranggotakan Anindityo Agung Baskoro (Teknik Mesin), Muhammad Nur Ardian (Teknik Mesin), Monika Sekar M.I. (Manajemen), serta Fajar Sidik Abdullah Kelana (alumnus Teknik Mesin), sukses memenangkan kompetisi dengan mengusung gagasan pengembangan iFish atau Internet of Fishery System.

Predikat juara pertama diraih seusai menyisihkan 132 tim lain yang berasal dari berbagai negara di wilayah Asia Pasifik. Tim UGM berhasil mengalahkan 3 tim dari Filipina dan 1 tim dari Singapura di babak final.

“Bangga tentunya dapat mengharumkan nama UGM di tingkat internasional,” kata Monika, Senin (4/12) di Rektorat UGM, yang dilansir situs ugm.ac.id.

Monika menyampaikan, dalam kompetisi tersebut seluruh peserta ditantang untuk mencari solusi untuk mengatasi permasalahan sosial di masyarakat dengan memanfaatkan teknologi internet. Dari 133 konsep gagasan yang masuk dipilih lima besar melaju ke babak final.

“Di final kami berkompetisi dengan 3 tim dari Filipina dan 1 tim dari Singapura mempresentasikan ide yang dikembangkan,” katanya.

Tim UGM menang, karena ide pengintegrasian teknologi intensive aquaculture dengan pertanian ikan lokal melalui sistem iFish dinilai mampu membantu petani ikan dalam meningkatkan produktivitas perikanan. Teknologi ini mampu memberikan informasi secara real time, kondisi di kolam meliputi oksigen terlarut, pH, dan temperatur di kolam.

“Musim dan kondisi di luar kolam sangat mempengaruhi dalam budidaya ikan. Harapannya dengan informasi tersebut para petani bisa tahu kondisi kolam dan membudidayakan ikan yang sesuai sehingga hasil panen lebih optimal,” katanya.

Fajar mengatakan, iFish tersusun atas microbubble diffuser, submersible pump, mikrokontroler, dan router internet. Teknologi itu dilengkapi dengan tiga buah sensor, yakni sensor temperatur, sensor pH, dan sensor oksigen terlarut.

“Akan ada notifikasi yang dikirimkan ke handphone ataupun komputer, yang terhubung dengan sistem di kolam sehingga petani bisa mengetahui kondisi kolam secara langsung,” katanya.

iFish juga, dikembangkan dengan sejumlah fitur yang tidak hanya memberikan informasi terkait kondisi kolam, namun dilengkapi pula dengan fitur pendukung yang menampilkan data dan grafik bulanan kondisi kolam serta forum komunikasi antarpetani ikan.

“Ke depan kami akan mengembangkan lebih lanjut gagasan ini sehingga bisa segera diaplikasikan langsung di masyarakat,” katanya.

Atas pretasi yang diraih, tim iFish UGM mendapatkan kesempatan untuk melakukan kunjungan ke Cisco Innovation Hub di Sydney, Australia, pada bulan Februari 2018. Mereka akan mendapatkan mentoring secara langsung dari Cisco dalam pengembangan iFish.

Sementara itu, Rektor UGM, Prof Ir Panut Mulyono, MEng, DEng, menyampaikan apresiasi terhadap tim iFish UGM, yang telah berhasil menjadi jawara dalam kompetisi tingkat dunia. Prestasi yang diraih menunjukkan inovasi dari mahasiswa UGM dalam memberikan kontribusi penyelesaian berbagai persoalan di masyarakat unggul di mata dunia.

 

Editor : Sotyati

Back to Home