Google+
Loading...
BUDAYA
Penulis: Moh. Jauhar al-Hakimi 17:09 WIB | Rabu, 13 Maret 2019

Time Lapse, Jangan Berhenti Mencintai Kehidupan

Time Lapse, Jangan Berhenti Mencintai Kehidupan
Pameran tunggal Amin Taasha bertajuk "Time Lapse" di Redbase foundation Yogyakarta, 13 Februari-13 Maret 2019. (Foto-foto: Moh. Jauhar al-Hakimi)
Time Lapse, Jangan Berhenti Mencintai Kehidupan
Lukisan berjudul “Unknown” karya Amin Taasha dengan ornamen guci bergambar tentara Yunani.
Time Lapse, Jangan Berhenti Mencintai Kehidupan
Amin Taasha (kaus hitam) memberikan penjelasan karyanya “Flow” (kiri), “Melting Through Time” (kanan atas), “Silence is Full of Answers” (kanan bawah) kepada pengunjung saat berlangsung pameran tugas akhirnya di Galeri RJ Katamsi ISI-Yogyakarta, Rabu (9/1).

YOGYAKARTA, SATUHARAPAN.COM – Enam belas lukisan miniatur dalam medium kertas berukuran 120 cm x 45 cm, empat karya drawing, serta dua karya instalasi-videografi yang keseluruhan dalam gaya, lanskap, maupun narasi alam Afghanistan, dipamerkan di Redbase Foundation Yogyakarta. Pameran tunggal bertajuk “Time Lapse” merupakan presentasi karya seniman-perupa Amin Taasha yang baru saja menyelesaikan studinya di Fakultas Seni Rupa ISI Yogyakarta.

Pameran yang berlangsung hingga 13 Maret 2019 dibuka oleh seniman-perupa Heri Dono, Rabu (13/2) malam di Redbase Foundation, Dusun Jurug, Bangunharjo, Sewon-Bantul.

Figur mini binatang kuda, burung gagak, candi, patung dan kepala Buddha, mortir bom, pergolakan, peperangan, figur-figur manusia mengenakan jubah dan turban (kain penutup kepala laki-laki sisa-sisa dari zaman Mesopotamia), dengan penggunaan pigmen warna khas hitam, merah, cokelat tua, dipadu dengan warna perak-emas, menjadi penanda khas karya dua matra miniatur dan menjadi salah satu ciri khas karya Amin Taasha.

Selama abad ke-15 hingga ke-16, Afghanistan mengalami kejayaan Seni Miniatur dengan senimannya yang terkenal bernama Behzad. Gaya baru lukisan miniatur dikembangkan di Herat, Afghanistan Barat.

Tantangan kehidupan kota dan budaya feodal dari Herat menciptakan kebutuhan yang membuat seni ini berkembang. Karya seni miniatur terinspirasi oleh kisah kepahlawanan, perjuangan sosial, romansa, kerohanian, peperangan, kehidupan pengadilan, serta kondisi ekonomi dan politik kehidupan sehari-hari pada saat itu, dengan pengaruh terbesar berasal dari sastra dan puisi.

Rekonstruksi sejarah serta ingatan atas apa yang dialami langsung melalui era keemasan lukisan miniatur, menelusuri, melintasi waktu hingga masa kekacauan negeri yang terpecah karena perang saudara, intervensi pihak luar dan konflik kepentingan kelompok menjadi pembacaan Amin atas realitas pada karya-karyanya. Setidaknya ada tarikan napas yang senada dalam goresan karya dan narasi yang hendak disampaikan dalam karya-karyanya.

Pada karya Silence is Full of Answers, Melting Through Time, When the Sun Goes Down, menjadi rekaman kegetiran Amin atas perjalanan hidup yang dialaminya di wilayah konflik. Empat figur manusia dengan kepala yang terlepas melayang di angkasa yang dibawa burung-burung elang-gagak. Di bagian ujung sesosok figur bersayap dengan angkuhnya bersedekap mengawasi. Sebuah potret senja kematian?

Dalam dua puluh karya dua matranya, Amin seolah membekukan perjalanan waktu rekaman ingatannya. Flow, Faceless, Still Far, Waiting for the Fullmoon, Struggling, Unpredictable, Wondering, menjadi citraan perjalanan waktu Bamiyan-Afghanistan dalam ingatan Amin.

Sementara pada karya berjudul Why Abstain, Amin menambahkan garis-garis dan bentuk-bentuk geometris melanjutkan karyanya yang ‘hampir selesai’ menjadi sebuah karya yang tumbuh tanpa bergeser dari ide-konsep awal karya baik secara visual maupun estetikanya. Diakui Amin beberapa karya masih terus direspons salah satunya dengan penggunaan pigmen warna hijau dan biru yang lebih cerah.

Eksplorasi Amin tidak terhenti pada medium-material semata. Dalam karya berjudul Unknown, Amin menambahkan objek berbentuk guci dengan ornamen dua tentara Yunani di antara objek miniatur lainnya.

“Saya mencoba memasukkan unsur-unsur yang bersumber dari era masuknya Indo Greek (masa kejayaan Alexander the Great) ke wilayah Afghanistan. Selain peradaban-kebudayaan, pengaruh Yunani Kuno terekam dalam karya seni di Afghanistan pada masanya. Salah satunya stupa Buddha dengan hiasan kepala dan kostum/pakaian yang dikenakan bercorak Yunani sementara wajahnya masih tetap mempertahankan wajah yang aslinya,” jelas Amin Taasha dalam obrolan dengan satuharapan.com, Selasa (12/3).

Respons Amin pada lembaran buku puisi Persia berukuran 19 cm x 13 cm seolah menjadi kritik serta keprihatinan Amin atas perkembangan dunia seni di negaranya. Sastra adalah salah satu kekuatan peradaban bangsa Afghanistan maupun bangsa-bangsa Persia lainnya. Menjadikan buku karya sastra sebagai medium karya seni rupa, seolah menempatkan buku-buku sebagai salah satu sumber ilmu pengetahuan hanya sebagai artefak benda mati. Tidak lebih. Di tengah pergolakan konflik berkepanjangan di negaranya, bahkan nyawa pun kadang tidak ada harganya. Apalagi hanya lembaran buku.

Sebelum berangkat ke Indonesia, Amin pertama kalinya berkunjung ke Buddha Bamiyan merasakan satu perasaan kosong dan kehilangan. Ada kondisi ketika ketidaktahuan akan sejarah menghasilkan sebuah perilaku yang fatal. Perusakan artefak berarti penyangkalan sejarah, penyangkalan identitas suatu wilayah, dan usaha untuk membuat sebuah bangsa melupakan jati diri serta budayanya sehingga bangsa tersebut merasa tidak memiliki akar dan merasa kerdil.

Pada Juni 2012, Goethe Institute mengajak beberapa seniman termasuk Amin untuk bergabung dalam pameran bersama "Dokumenta 13" dan workshop "Seeing Study" di National Gallery of Afghanistan. Pada pameran tersebut Amin membuat karya miniatur pertamanya yang dilukis pada kertas buku bahasa Arab. Pada tengah hari sebelum pameran dibuka, karya tersebut disita oleh Menteri Kebudayaan karena dianggap menyinggung pemerintahan dan agama.

Menteri Kebudayaan bahkan mendatangi manajemen Nasional Galeri, menerbitkan surat untuk melarang karya tersebut dipamerkan. Amin sempat ditahan oleh kepolisian untuk diinterogasi, dan sejak itu dilarang berkunjung ke area Nasional Galeri dan dilarang untuk mengadakan pameran di gedung pemerintah maupun mengikuti pameran dari program pemerintah. Karena insiden itu, Amin lebih banyak bekerja di dalam studio sendiri dan mengurangi kegiatan di luar rumah untuk menunggu situasi reda.

Drama Kehidupan di Tengah Tragedi Kemanusiaan

Dua karya instalasi-videografi berdurasi masing-masing lima menit menjadi eksperimen Amin yang menarik. Pada karya instalasi-videografi berjudul Restless, Amin menjadikan lempengan/plat besi berukuran sekitar 1 m persegi sebagai layar monitor karya videonya. Pada keempat sudutnya empat replika badan kuda hitam dihubungkan dengan kain yang menyambung ke atas plafon ruang pamer.

Video tragedi di Bamiyan dan Afghanistan semakin dramatis dalam iringan musik serta efek suara yang ditimbulkan dari getaran pengeras suara yang diletakkan di bawah plat besi serta pendaran cahaya dari LCD proyektor yang memantulkan bentuk-bentuk gelombang dari getaran air di atas plat besi. Dalam Restless Amin sedang merekam dan mengabarkan aroma konflik, drama kehidupan, sekaligus kematian yang menyebar ke keempat penjuru mata angin.

Satu karya instalasi-videografi berjudul The Heritage that We Lost menjadi pengembangan dari karya sebelumnya yang pernah dipresentasikan di Galeri Fadjar Sidik ISI Yogyakarta tahun lalu. Karya sebelumnya terdiri atas kepala Budha yang didisplay pada plafon Galeri Fadjar Sidik bersama figur seekor burung gagak terlepas dari badan stupa Buddha. Di depan badan Buddha tanpa kepala itulah karya video disorotkan pada lantai ruang pamer.

Pada pameran Time Lapse, karya awal instalasi-videografi tersebut dikembangkan menjadi sebuah karya yang lebih kuat: kepala Buddha yang tergantung di atap ruangan galeri Redbase dengan bagian belakang yang pecah dan menyebar ke berbagai arah dalam sentuhan yang menyerupai pola ledakan granat, berbaur dengan belasan burung gagak yang beterbangan seolah sedang menjemput kematian.

Selain video yang disorotkan ke lantai galeri, objek-objek burung gagak, kepala Buddha serta serpihan-serpihannya ditembakkan lampu sorot mengarah ke dinding galeri.

Dalam iringan musik, tembakan lampu sorot yang menyisakan bayangan di dinding galeri, serta narasi videografi, The Heritage that We Lost menjadi karya yang kuat secara artistik dan estetik: Kepala Buddha Bamiyan berbahan terracota dalam kesatuan karya yang mampu menggambarkan tragedi kemanusiaan yang dramatis.

Sebagai negara yang terletak di Jalur Sutra (Silk Road), Afghanistan telah berulang kali mengalami perubahan tradisi dan budaya. Afghanistan saat ini berada di persimpangan yang rumit, sementara negara-negara lain bergerak maju dengan teknologi dan pengetahuan, kelompok-kelompok yang berpikiran “keras” bertekad untuk mencegah kemajuan apa pun dan berupaya mendorong Afghanistan mundur ke masa lalu.

Jika mereka mendapatkan kembali kekuatan penuh, perempuan misalnya, tidak akan lagi bebas untuk mengekspresikan diri dan mengeksplorasi. Pada saat ini orang-orang yang tinggal di dekat wilayah kelompok “keras” harus berhati-hati dalam cara mereka berbicara dan bertindak, ini terutama berlaku untuk minoritas.

Gambaran Afghanistan tidak sepenuhnya seperti itu, meskipun masalah telah berlangsung selama berabad-abad, seni dan budaya masih menemukan akarnya dan tumbuh. Artefak sejarah yang ditemukan di Afghanistan dapat ditelusuri kembali ke berbagai budaya, dari Yunani Kuno dan Persia, ke domain Eurasia Steppe dan nomaden Mongolia.

Beberapa artefak berkisar dari Zaman Perunggu, melalui zaman Alexander Agung di Baktria, hingga yang lainnya ditemukan di Aï Khanum, Bamiyan, Mes Aynak, Begram, dan Tillya Tepe. Situs-situs arsitektur ini telah memberikan informasi baru yang menghidupkan kembali diskusi tentang seni, tradisi, dan budaya Asia Tengah, khususnya di Afghanistan.

Setidaknya dalam pameran Time Lapse, Amin Taasha mencoba merangkai kembali rekaman memorinya dan mengabarkan kepada dunia tentang apa yang terjadi pada negaranya dan yang dialaminya sendiri. Bukan untuk menyudutkan pihak-pihak tertentu, namun sebentuk kecintaan pada bangsanya, sekaligus sebagai bentuk kecintaan atas kehidupan itu sendiri.

Editor : Sotyati

Back to Home