Google+
Loading...
DUNIA
Penulis: Reporter Satuharapan 15:30 WIB | Kamis, 13 September 2018

Tiongkok Peringatkan Ancaman Proteksionisme

Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Tiongkok Xi Jinping melakukan diplomasi "Pancake" dengan membuat kue pancake bersama-sama di sela acara Forum Ekonomi di Vladivostok, Rusia hari Selasa (11/9).(Foto: VOA)

BEIJING, SATUHARAPAN.COM - Tiongkok memperingatkan Rabu (12/9) bahwa proteksionisme mengancam pertumbuhan global dan memperingatkan "negara-negara tertentu" agar tidak mengambil langkah isolasionisme, dalam acuan terselubung pada perang dagang yang semakin dalam antara Washington dan Beijing yang dipantau secara cermat di seluruh Asia.

Komentar Wakil Perdana Menteri Tiongkok, Hu Chunhua tersebut muncul di World Economic Forum (WEF) di Hanoi Rabu (12/9), sementara dua kekuatan ekonomi terbesar di dunia itu bergerak ke perang dagang habis-habisan setelah saling menerapkan tarif impor barang bernilai miliaran dolar.

Tanpa secara langsung menyebut Trump atau Amerika Serikat, Hu Chunhua memperingatkan negara-negara agar tidak melakukannya sendiri-sendiri dan menjungkirbalikkan sistem perdagangan global.

Perselisihan perdagangan telah mendominasi diskusi di WEF di mana para pemimpin Asia Tenggara telah menyatakan dukungan untuk hambatan perdagangan lebih sedikit sementara Amerika Serikat mundur dari kawasan tersebut di bawah Trump, yang telah mencela defisit perdagangan di kawasan tersebut.

Asosiasi Negara-negara Asia Tenggara (ASEAN) "bekerja dengan mitra yang berpikiran sama untuk memperkuat sistem internasional berbasis aturan," kata Perdana Menteri Singapura Lee Hsien Loong.

"Kerja sama mendukung pertumbuhan dan stabilitas, tetapi berada di bawah tekanan."

Perang dagang antara Washington dan Beijing sedang diamati secara seksama di seluruh Asia Tenggara di mana beberapa negara yang berfokus pada ekspor mungkin akan mendapatkan keuntungan dari perselisihan itu.

Peningkatan upah di Tiongkok telah mendorong perusahaan pindah ke negara-negara seperti Vietnam dan Kamboja, di mana sepatu Adidas, T-shirt H & M dan ponsel Samsung dibuat dengan harga murah.

Gunakan Mata Uang Sendiri

Presiden Rusia Vladimir Putin hari Selasa (11/9) mengatakan Rusia dan Tiongkok berencana lebih sering menggunakan mata uang negara mereka sendiri dalam transaksi perdagangan sementara hubungan Rusia dengan Barat memburuk.

Menurut Putin, itu akan "meningkatkan stabilitas bank-bank yang melayani operasi ekspor dan impor selagi ada risiko di pasar global."

Presiden Putin menjamu Presiden Tiongkok Xi Jinping yang tengah menghadiri Forum Ekonomi Timur di Vladivostok. Di sela-sela forum ekonomi tersebut, kedua pemimpin melakukan diplomasi "Pancake" dengan demonstrasi memasak kue pancake bersama saat membuka "Far East Street", sebuah pameran budaya dan ekonomi di kawasan itu.

Presiden Xi adalah salah satu nama besar di acara 'Forum Ekonomi Timur' di kota Vladivostok, Rusia timur jauh, di mana fokusnya adalah pada hubungan ekonomi dan Korea Utara.

Rusia menghadapi sanksi yang lebih keras sejak membuat marah Barat dan Kiev karena mencaplok Krimea pada tahun 2014 dan mendukung pemberontak separatis di Ukraina timur.

Dalam beberapa bulan ini, Amerika menjatuhkan lebih banyak sanksi atas dugaan campur tangan Rusia dalam pemilihan presiden Amerika dan peracunan mantan agen mata-mata ganda Sergei Skripal dan putrinya di Inggris.

Sejak Amerika menjatuhkan sanksi terbaru dan mengancam akan melakukan tindakan lebih lanjut, nilai mata uang Rusia, rubel, turun tajam terhadap dolar dan euro.

Dalam beberapa bulan terakhir, nilai yuan terhadap dolar juga turun. (VOA)

 

 

Editor : Melki Pangaribuan

Back to Home