Google+
Loading...
SAINS
Penulis: Dewasasri M Wardani 16:24 WIB | Senin, 09 Juli 2018

Toko Nirlaba di Melbourne Atasi Limbah Makanan

Ilustrasi. Bahan makanan yang dijual Toko Inconvenience ini, walaupun menyediakan produk-produk sumbangan yang tadinya akan dibuang ke tempat sampah, namun semuanya aman untuk dikonsumsi. (Foto: abc.net.au/ABC News: James Oaten)

AUSTRALIA, SATUHARAPAN.COM – Di Australia, pemborosan bahan makanan setiap tahunnya mencapai nilai miliaran dolar. Kini sebuah toko nirlaba di Melbourne mulai beroperasi untuk mencegah bahan makanan berakhir di tempat sampah.

Toko bernama Inconvenience Store, yang terletak di daerah Thornbury, merupakan gagasan terbaru dari tim yang sebelumnya juga membuka restoran nirlaba Lentil As Anything.

Sama seperti restorannya, Toko Inconvenience ini menyediakan produk-produk sumbangan yang tadinya akan dibuang ke tempat sampah.

"Tujuannya yaitu turut mengatasi krisis limbah bahan makanan," kata koordinator toko, Astrid Ryan.

Di toko ini pelanggan dapat membayar sesuai kemampuannya.

"Kami ingin menyediakan buah dan sayuran bergizi," katanya.

"Ketika orang mengalami krisis keuangan atau situasi yang sulit, hal itu yang mungkin sulit mereka akses," katanya.

Pelanggan, dapat mengisi tas belanjaan dengan bahan makanan, mulai dari buah dan sayuran hingga roti dan beberapa barang kemasan. Kemudian meninggalkan sumbangan uang semampunya dalam kotak kayu di pintu keluar.

Produk-produk roti di toko ini disumbang oleh toko roti terdekat, sementara produk lainnya berasal dari Pasar Preston atau supermarket Aldi.

Bahan makanan yang ditawarkan, mungkin agak tua atau tampilannya tidak biasa, namun toko ini memastikan semuanya aman untuk dimakan.

"Makanannya gratis," kata Ryan. "Kami hanya tanya apakah pelanggan menyukai yang kami lakukan. Jika ingin toko ini tetap buka, mereka bisa berkontribusi sesuai kemampuan."

"Kami juga butuh sukarelawan," katanya.

Pakar limbah Karli Verghese dari RMIT University mengatakan, pemborosan makanan di Australia saat ini mencapai nilai $ 20 miliar per tahun (Rp214 triliun).

"Dari jumlah $ 20 miliar (Rp214 triliun) itu, diperkirakan sekitar $ 10 miliar (Rp106 triliun) berasal dari rumah tangga," kata Dr Verghese.

Angka tersebut membuat Ryan yakin pada besarnya peluang bagi toko-toko sejenis.

"Semakin banyak yang melakukan penyelamatan limbah makanan akan semakin baik," kata Ryan.

"Semakin banyak makanan yang diselamatkan, semakin baik bagi lingkungan dan semakin banyak orang yang diberi makanan," katanya. (abc.net.au)

 

Back to Home