Google+
Loading...
BUDAYA
Penulis: Moh. Jauhar al-Hakimi 09:51 WIB | Sabtu, 05 Januari 2019

Trance, Di antara Kebiasaan dan Ketidaksadaran

Ingin menaklukkan galaknya mertua, jadilah seniman keramik.
Trance, Di antara Kebiasaan dan Ketidaksadaran
Demi Peruntunganku - mix media, keramik - 90x50x35 cm – Fajar Rizqi al-Aziz – 2018. (Foto-foto: Moh. Jauhar al-Hakimi)
Trance, Di antara Kebiasaan dan Ketidaksadaran
Gak Ada yang Salah, Hanya saja Berbeda – cat glasir di atas keramik – beragam ukuran – Jayadi – 2018.
Trance, Di antara Kebiasaan dan Ketidaksadaran
Godbless Midas – mix media – 35x35x110 cm – Nanda Kevin – 2018.
Trance, Di antara Kebiasaan dan Ketidaksadaran
Berkumpul – keramik – 80x40 cm - Robbiyanti Budiarti – 2018.
Trance, Di antara Kebiasaan dan Ketidaksadaran
Drowned in Peaceful #1 – cat glasir di atas keramik – 70x50x15 cm – Gumelar Wahyu Aji – 2018.
Trance, Di antara Kebiasaan dan Ketidaksadaran
Unpredictable – cat glasir di atas keramik dan gerabah – 122x36 cm – Sidik Purnomo – 2018.

YOGYAKARTA, SATUHARAPAN.COM – "Menjadi seniman keramik itu seremnya ngalahin galaknya mertua dan kadar sulitnya sangat luar angkasa. Bagaimana tidak, risiko selalu bergelayut di setiap tahap pembuatan karya keramik." Kalimat pengantar tersebut disampaikan seniman grafis Sigit “Bapak” Haryadi, pengelola Kebun Bibi.

Sebelas seniman muda yang menggunakan keramik sebagai medium karyanya mempresentasikan eksperimen keramik bertajuk “Trance, Di antara Kebiasaan dan Ketidaksadaran” di Kebun Bibi. Pameran dibuka pada Sabtu (8/12) malam.

Setidaknya ada empat elemen diperlukan dalam proses berkarya keramik: tanah, air, mata, dan api. Tanah menjadi material utama objek keramik, air sebagai katalis untuk membentuk tanah dalam kekerasan, ukuran, bentuk tertentu, dan api sebagai elemen yang mengantarkan tanah lunak berkatalis menjadi sebuah benda/karya yang keras. Sementara mata menjadi gambaran kecermatan, kepekaan, dan kejelian seniman memadukan material, medium, teknik, proses, serta konsep menjadi sebuah karya yang bisa berbicara.

Berkaitan dengan hal-hal teknis dalam setiap tahapan pembuatannya, tidak serta-merta karya keramik dapat dihasilkan sama persis meskipun dibuat dengan formulasi yang sama pada setiap tahapannya sebagaimana dikatakan Sigit Bapak.

Proses eksperimen dengan pengulangan-pengulangan secara psikologis kerap membuat seniman keramik dalam kondisi trance. Kecanduan inilah yang menjadi energi bagi seniman keramik di tengah perkembangan seni keramik dalam ranah pendidikan yang mengalami penurunan dari tahun ke tahun. Jumlah mahasiswa baru peminat seni kriya keramik di ISI Yogyakarta terus berkurang.

Meski begitu, kecenderungan seniman keramik dalam dua-tiga tahun terakhir ini berkarya dan mempresentasikan karyanya justru bisa dikatakan mengalami peningkatan. Eksplorasi material tanah, proses di dalam tungku bakar, maupun penggunaan alat menjadi eksperimen menarik seniman muda keramik.

Pada pameran “Trance, Di antara Kebiasaan dan Ketidaksadaran” Fajar Rizqi, Gumelar Wahyu Aji, Hananda Putri Utami, Jayadi, Ki Romadhoni, Marhafiz Luthfi, Nafa Arinda, Nanda Kevin, Robbiyanti Budiarti, Sarasati Meilani, dan Sidik Purnomo, lebih menekankan pada perbincangan proses karya yang mereka presentasikan. Perbincangan tersebut tidak melulu tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan teknis.

Keramik sebagai medium karya seni dalam tiga tahun terakhir cukup menggeliat di Yogyakarta. Sebutlah beberapa pameran yang diselenggarakan beberapa waktu lalu: "Reload" dan "Physis" di Pendhapa art space, pameran "Clay Say Hay" di Kersan art studio, pameran "Rooted in art: a Lasting Footprint" di GAIA Hotel, yang digelar tahun lalu, serta beberapa pameran tahun ini, di antaranya pameran "Jebule Akeh" di Galeri Lorong, pameran ">1000 0 C" di Pendhapa art space, pameran keramik "Air Mata Api" dan pameran "Pengilon" di BBY, pameran "To the Soul" di Ruang Dalam art house, pameran "Reracik" di Bale Banjar Sangkring, “Cosmic Turn” di Miracle print yang kesemuanya mengangkat karya-karya berbasis pada kerja craftmanship dengan medium keramik.

Dalam hal eksperimen beberapa seniman muda terus melakukannya. Apri Susanto hingga saat ini terus melakukan eksperimen dalam hal tungku bakar. Saat ditemui satuharapan.com di Studio Kalahan, Sabtu (29/12), Apri menjelaskan saat ini sedang mengembangkan tungku bakarnya sekaligus menyewakan kepada seniman keramik lainnya. Harga yang mahal dari perlengkapan-peralatan seperti alat/kompor pembakar (burner), ruang bakar, serta peralatan pembentuk masih menjadi "momok" bagi seniman keramik.

Sidik Purnomo beberapa waktu lalu melakukan eksperimen material earthenware sebagai bahan gerabah (pottery) dioptimalkan mendekati karya-karya berbahan stoneware. Sementara seniman Dona Prawita Arissuta dalam eksperimennya berhasil menyajikan karya lukisan di atas keramik dimana karya keramiknya bisa memiliki warna merah, biru, kuning, dan bukan lagi warna alam.

Dalam eksperimen yang dilakukan oleh seniman muda seperti Sidik Purnomo, Apri Susanto, ataupun Dona Prawita Arissuta, mereka kerap menyajikan ide-ide segar dan kreativitas dalam menghasilkan karya-karya keramik dan tidak jarang membuat banyak orang terperangah. Setidaknya melebihi ekspektasi yang mereka harapkan sendiri. Ingin menaklukkan galaknya mertua, jadilah seniman keramik.

Pameran " Trance, Di antara Kebiasaan dan Ketidaksadaran" yang dihelat di Kebun Bibi, Jalan Minggiran 61. A/MJ II-Mantrijeron Yogyakarta, akan berlangsung hingga 8 Januari 2019.

Editor : Sotyati

Back to Home