Google+
Loading...
INSPIRASI
Penulis: Leonita Easter Patricia 09:57 WIB | Selasa, 24 Juli 2018

Tuhan Itu Jahat

Setiap manusia memikul salib (masalah)nya masing-masing.
Bunga Bakung (foto: istimewa)

SATUHARAPAN.COM – ”Tuhan itu jahat!” kata seorang temanku yang perusahaan suaminya bangkrut baru-baru ini. Dia kehilangan segala hartanya dan sekarang suaminya terbaring di rumah sakit akibat hal itu.

”Ini cobaan Rin,” selaku.

”Tuhan membiarkan kami seperti ini. Kenapa Dia tega?” tandasnya meletup-letup,  ”aku sudah tidak kuat!”

Aku melihat semangat Ririn seperti batang kayu yang patah. Dia benar-benar stres dan putus asa. Saat itu aku teringat kisah Ayub yang menghadapi pergumulan luar biasa: harta habis, anak-anaknya tewas, penyakit berat menimpa, dan Sang Istri mendorong dia mengutuki Allah. Apakah Tuhan jahat terhadap Ayub?

”Tuhan beri kekuatan Rin untuk kamu melewati hal ini,” hibur Sandra, teman yang ikut menjenguk bersamaku.

Kita memang tidak bisa memahami jalan pikiran Tuhan, mengapa Dia mengizinkan hal ini terjadi pada Ririn.

Ketika Tuhan memberkati kita secara luar biasa, kehidupan kita berkecukupan, keluarga tidak berkekurangan, kita memuji Dia secara luar biasa. Jika hal yang sama yang terjadi di keluarga Ririn menimpa keluargaku, apakah aku juga akan tetap bersyukur kepada Tuhan dan mengatakan Dia baik?

”Apabila melintasi lembah Baka, mereka membuatnya menjadi tempat yang bermata air; bahkan hujan pada awal musim menyelubunginya dengan berkat. Mereka berjalan makin lama makin kuat, hendak menghadap Allah di Sion." Sandra mengutip satu ayat Alkitab dan mengatakannya kepada Ririn. Kami melihatnya, suami yang sedang terbaring itu membuka matanya dan berkaca-kaca.

”Kamu tidak boleh menyerah Ririn...” lanjut Sandra.

”Sandra benar, Ma,” sahut suaminya lirih. Ririn memegang tangan suaminya dan berupaya menyusutkan tangisnya. ”Kita masih memiliki satu sama lain, anak-anak, teman-teman. Itu adalah suatu berkat Tuhan di dalam badai. Dia tidak akan membiarkan kita jatuh sampai tergeletak. Kita akan memulai dari nol Ma, bersama-sama….”

Aku terharu menyaksikan kejadian di depanku, mereka sedang tertimpa masalah, tetapi semangat suami Ririn dan kepercayaannya bahwa berkat Tuhan menyertainya di dalam badai, sungguh memberkatiku. Setiap manusia memikul salib (masalah)nya masing-masing.

Sandra tersenyum ke arahku. Kami tahu, sebelumnya suami istri di depan kami itu terlihat dingin karena Sang Suami selalu sibuk bekerja.  Melihat mereka bergandengan tangan sungguh suatu kejadian yang tidak terbayangkan sebelumnya.

Dalam hati aku berkata, ”Tuhan memang baik!”

 

Email: inspirasi@satuharapan.com

Editor: Yoel M. Indrasmoro

Rubrik ini didukung oleh PT Petrafon (www.petrafon.com)

Back to Home