Loading...
BUDAYA
Penulis: Sabar Subekti 07:03 WIB | Senin, 27 Juli 2020

Turki dan Yunani Perang Pernyataan tentang Hagia Sophia

Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan, menghadiri shalat Jumat di Hagia Sophia di Istanbul, Turki, pada 24 Juli 2020, setelah diubah statusnya sebagai masjid.. (Foto: Reuters)

ISTANBUL, SATUHARAPAN.COM-Turki dan Yunani terlibat perang pernyataan pada hari Sabtu (25/7) atas konversi Hagia Sophia di Istanbul yang diubah dari museum menjadi masjid, sehari setelah shalatJumat diadakan di situs kuno itu untuk pertama kalinya dalam sembilan dekade.

Kritik Yunani terhadap langkah untuk mengubah situs dari sebuah museum telah makin tajam, menggarisbawahi hubungan yang tegang antara Yunani dan Turki. Lonceng gereja berdentang sebagai saat berkabung di seluruh Yunani pada hari Jumat ketika Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan, bergabung dengan jemaah pada shalat Jumat di bangunan itu.

"Yunani sekali lagi menunjukkan permusuhannya terhadap Islam dan Turki dengan alasan bereaksi terhadap Masjid Hagia Sophia dibuka untuk shalat," kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Turki, Hami Aksoy, dalam sebuah pernyataan pada hari Sabtu.

Kementerian itu sangat mengecam pernyataan bermusuhan oleh pemerintah Yunani dan anggota parlemen untuk menggerakkan publik, dan pembakaran bendera Turki di kota Yunani, Thessaloniki, katanya.

Hagia Sophia dibuka untuk shalat Jumat sebagai masjid setelah tuntutan kelompok rakyat Turki dan dimiliki Turki seperti semua aset budaya di negara itu, tambahnya.

Kementerian Luar Negeri Yunani menanggapi dengan pernyataannya sendiri, dengan mengatakan, "komunitas internasional abad ke-21 terpana ketika mengamati ocehan fanatik agama dan nasionalis Turki hari ini."

Shalat Jumat itu mewujudkan ambisi Erdogan untuk memulihkan ibadah Muslim di situs tersebut, yang oleh sebagian besar orang Yunani dianggap sebagai pusat agama Kristen Ortodoks mereka.

Pada hari Jumat, Perdana Menteri Yunani, Kyriakos Mitsotakis, menyebut Turki sebagai "pembuat onar", dan konversi situs budaya dan agama itu sebagai "penghinaan terhadap peradaban abad ke-21".

Yunani dan Turki tidak sepakat tentang berbagai masalah mulai dari wilayah udara hingga zona maritim dan memecah etnis Siprus. Pekan ini mereka juga terlibat pernyataan saling serang terkait sengketa pembatasan landas kontinental mereka di Mediterania timur, daerah yang dianggap kaya akan sumber daya alam. (Reuters)

Editor : Sabar Subekti

BPK Penabur-Start Up
Zuri Hotel
Back to Home