Google+
Loading...
HAM
Penulis: Sabar Subekti 21:47 WIB | Selasa, 24 Desember 2019

Turki Kewalahan Tangani Gelombang Baru Pengungsi Suriah

Pengngsi dari Suriah ke Turki, akibat serangan militer Suriah dan Rusia di Idlib. (Foto: Ist)

ANKARA, SATUHARAPAN.COM-Turki tidak dapat menangani gelombang baru migran dari Suriah, kata Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP) yang berkuasa, hari Senin (23/12), dan mengecam masyarakat internasional karena "meninggalkan Turki sendirian" di tengah krisis pengungsi.

Berbicara setelah pertemuan Dewan Eksekutif Pusat (MYK) dari AKP, juru bicara partai Omer Celik mengatakan bahwa Turki tidak bisa lagi "menanggung beban" gelombang masuknya migrasi yang ditakuti "sendirian" dan menyuarakan keprihatinan tentang serangan intensif terhadap warga sipil di wilayah Idlib, di barat laut Suriah.

“Aliran migrasi lain datang (dari Idlib). Mulai sekarang, Turki tidak dapat mengkompensasi masuknya pengungsi ini sendiri,” kata Celik dikutip mrdia setempat, Hurriyet.

Dia juga menggarisbawahi bahwa dunia, terutama negara-negara Eropa, belum "memenuhi komitmen mereka" dalam mengandalkan Turki untuk mengurus masalah ini.

Celik juga mendesak negara-negara lain untuk memberikan dukungan bagi zona aman yang direncanakan, yang akan mencakup permukiman yang aman bagi para pengungsi Suriah di Turki. "Oleh karena itu, jika tidak ada dukungan yang diberikan untuk pembentukan zona aman, pembangunan permukiman di zona aman yang akan (mengembalikan pengungsi Suriah), masalah pengungsi akan menjadi masalah Eropa lebih dari Turki," kata Celik.

Dia juga menambahkan bahwa kebijakan yang menyerahkan "masalah pengungsi seperti milik Turki sekarang sudah berakhir." "Kami dengan jelas menyatakan bahwa ini akan menjadi pendekatan kami dan masalah ini akan menjadi masalah sekutu kami," katanya.

Turki telah menampung lebih dari 3,6 juta warga Suriah yang merupakan populasi pengungsi terbesar di dunia. Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan, mengatakan pada hari Minggu (22/12) bahwa Turki tidak dapat menangani gelombang baru dan mendesak Rusia untuk menghentikan serangan di Idlib.

Yayasan Bantuan Kemanusiaan yang berbasis di Turki (Ä°HH) mengatakan pada hari Senin (23/12) bahwa 120.000 warga Suriah melarikan diri ke perbatasan Turki, menurut laporan Reuters.

Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, menyerukan untuk segera mengakhiri permusuhan, yang katanya telah mengungsikan 30.000 orang dalam satu pekan terakhir saja, kata juru bicaranya.

"Sekretaris jenderal mengingatkan semua pihak tentang kewajiban mereka untuk melindungi warga sipil dan memastikan kebebasan bergerak," kata juru bicara PBB, Stephane Dujarric dalam sebuah pernyataan.

Presiden Suriah, Bashar al-Assad, bertekad untuk merebut kembali wilayah Idlib, wilayah signifikan terakhir Suriah yang masih di bawah kendali pemberontak, setelah delapan setengah tahun perang saudara.

Rusia dan Iran telah mendukung pasukan Assad selama konflik Suriah, sementara Turki mendukung pemberontak Suriah memerangi Assad.

Jet militer Rusia dan Suriah telah menargetkan konvoi sipil yang berusaha melarikan diri dari kota Idlib, Maarat al-Numan, membuat ratusan keluarga masih terperangkap di sana, kata para aktivis dan kelompok bantuan.

Editor : Sabar Subekti

Zuri Hotel
Back to Home