Google+
Loading...
BUDAYA
Penulis: Sotyati 14:36 WIB | Jumat, 29 Mei 2020

Tuti Siregar, Peneliti Botani yang Menekuni Seni Olah Kain Ecoprint

Tuti Siregar, Peneliti Botani yang Menekuni Seni Olah Kain Ecoprint
Tuti Siregar, ahli botani, peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dengan kain ecoprint karyanya. (Foto-foto: Dok Tuti Siregar)
Tuti Siregar, Peneliti Botani yang Menekuni Seni Olah Kain Ecoprint
Daun-daun pilihan yang sudah menjalani tahapan perlakuan, ditata di atas kain dengan posisi tulang daun dihadapkan ke kain. Kain kemudian dibungkus dengan plastik lalu digulung dengan bantuan pipa, lalu dikukus.
Tuti Siregar, Peneliti Botani yang Menekuni Seni Olah Kain Ecoprint
Karya ecoprint Tuti Siregar di atas bahan sutra.

SATUHARAPAN.COM – Di lingkungan peneliti, khususnya Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), nama Tuti Siregar identik dengan begonia. Ia peneliti ahli utama bidang breeding (persilangan) tanaman hias dari keluarga Begoniaceae itu, yang beberapa dari hasil penelitiannya tentang breeding begonia, sudah mendapatkan hak paten. Hak Perlindungan Varietas Tanaman (PVT), istilah kerennya.

Namanya bahkan disematkan untuk varietas baru, Begonia “Tuti Siregar”. Tanaman hasil persilangan inventor Hartutiningsih-M Siregar (nama lengkap Tuti Siregar, Red), WH Ardi, dan IM Ardaka dari LIPI itu, kini dapat dinikmati masyarakat luas di Taman Bunga Nusantara Cipanas, Jawa Barat.

Namun, Tuti ternyata punya kepiawaian lain, yang tak jauh dari tanaman yang menjadi objek penelitiannya. Ia menekuni seni olah ecoprint, menghasilkan karya yang indah, dan bernilai ekonomi tinggi.

Ecoprint adalah seni memindahkan motif dan pigmen warna tumbuhan pada kain, menggunakan zat warna alami berbasis sumber daya hayati. Motif-motif yang dihasilkan unik, warnanya natural, dan ramah lingkungan.

Ecoprint, kata Tuti, merupakan proses yang tidak bisa diulang. Tiap-tiap produknya berbeda. Ecoprint memanfaatkan bahan-bahan alami sebagai sumber pola dan warna, berasal dari bunga, daun, batang, dan bagian tumbuhan lain.

Karya ecoprint Tuti, baik dalam wujud kain, selendang, ataupun kaus, sudah menjadi barang koleksi, termasuk koleksi ibu-ibu pejabat. Seorang temannya yang melanjutkan studi ke China, dan membawa karya ecoprint sebagai buah tangan untuk dosennya, membawa kabar sang dosen menyukai karya itu. Ia juga menceritakan pengalaman seorang teman peneliti dari Amerika Serikat, yang memboyong lima kain ecoprint ke negaranya.

Proses Mentransfer Warna Daun ke Kain

Ada beberapa proses yang harus dijalani Tuti dalam membuat karya ecoprint. Ia terlebih dulu harus melakukan proses mordanting, yakni proses menghilangkan komponen pengganggu penyusun serat berupa minyak, lemak, lilin, dan kotoran-kotoran lain yang menempel pada serat kain, sebelum kain digunakan untuk proses selanjutnya.

Daun-daun yang akan digunakan dalam proses ecoprint, juga harus diolah terlebih dulu. Daun jati, misalnya, direndam dengan air hangat. Namun, daun lain harus direndam dengan larutan tunjung, sampai keluar bintik hitam. Bintik hitam akan mengindikasikan zat pewarna yang terkandung dalam daun sudah dapat ditransfer ke kain. Proses dalam tahap ini bergantung pada tebal tipis daun.

Daun yang sudah direndam, ditiriskan, dilap sampai lembap, ditata di atas kain dengan posisi tulang daun dihadapkan ke kain. Dibungkus dengan plastik lalu digulung dengan bantuan pipa, kain yang ditempeli daun-daun tadi dikukus. Waktu pengukusan pun, kata Tuti, berbeda-beda, bergantung pada jenis kain.

Proses berikut adalah fiksasi, yang dilakukan untuk mengunci zat warna alam, menguatkan warna, dan memberikan efek warna  yang berbeda-beda sesuai dengan zat fiksasi yang digunakan.

Tentu, bukan sekali langsung jadi. Tuti mengalami bagaimana rasanya gagal. Bukan sekali dua kali. “Namun, karena saya peneliti, peneliti kan tidak kapok bereksperimen, jadi gagal tidak masalah. Entah sudah berapa meter kain yang gagal. Pernah gosong pada waktu mengukus sampai kainnya lengket dan bolong. Ya, harus mencoba lagi, yang penting hasilnya jadi,” katanya kepada Satuharapan.com melalui media sosial, mengenang.

Ikut Workshop

Kecintaan pada hobi barunya itu bermula dari kecintaannya terhadap tanaman objek penelitian, dan melihat ada teman yang bisa membuat kain putih menjadi kain dengan motif yang cantik. “Terpikir, kenapa saya nggak mencobanya?” Tuti mengenang awal mula terjun ke seni olah ecoprint.

Profesinya sebagai peneliti mendorongnya untuk membuka-buka YouTube, buku panduan, dan bertanya kepada ahlinya. “Terus ingin mencoba sendiri. Autodidak, belajar sendiri.Tentu tidak sekali jadi. Pakai gagal juga...,” Tuti tertawa mengisahkan.

Kegagalan itu membuatnya tersadar, memang dibutuhkan ilmu untuk menguasainya. Ia memutuskan ikut kursus. Workshop dalam istilah ecoprint. “Baru setelah itu mencoba sendiri di rumah, dan beberapa bisa jadi, akan tetapi belum bagus hasilnya,” Tuti menjelaskan.  

Rasa penasaran mendorongnya mengikuti kursus lanjutan, bukan hanya di Bogor, tempat ia menetap, namun juga di Jakarta. “Kalaupun waktunya tidak pas, saya ikut privat. Memang dibutuhkan modal juga untuk bisa sampai ke arah sukses,” katanya, menunjukkan tekad-bulatnya menekuni ecoprint.

Latar belakang sebagai ahli botani menolongnya mudah menerapkannya, terutama jenis tanaman apa yang baik untuk ecoprint selain yang sudah direkomendasikan para mentor. Ia mencontohkan tanaman lanang (Oroxylum indicum) yang dikenal sebagai maskot ecoprint. “Jenis tanaman dari keluarga Bignoniaceae ini di mana pun medianya akan meninggalkan jejak yang nyata cantik,” katanya.

Tuti lalu mencoba tanaman di sekitar tempat tinggalnya. Contohnya ki acret atau Spatodhea yang berbunga oranye di pinggir jalan, yang menghasilkan jejak yang bagus. Pengalaman kemudian mengajarkannya, terkadang tanaman yang sama ternyata meninggalkan jejak berbeda. Ia mencontohkan daun jati. Daun jati dari Yogya jejaknya sangat nyata dibandingkan dengan jadi dari Bogor.

“Ecoprint bagi saya selalu mendebarkan. Hasilnya tak terduga. Secara filosofis, ecoprint adalah pesan, sekaligus ajakan untuk hanya menggunakan produk-produk alami. Teknik ini mudah diterapkan, sebagai hobiis, saya menyenangi hobi ini yang ilmunya dekat dengan ilmu yang saya tekuni sebagai seorang botanist. Hobi ini selain menjadi kegiatan di akhir pekan, lama-lama membuat ketagihan. Selain menghasilkan barang unik sesuai selera, kain ini bernilai ekonomis tentunya,” katanya.

Di sela-sela kesibukannya sebagai peneliti, ia terus mengasah keterampilannya dengan mengikuti berbagai kursus tentang ecoprint. “Selain mengikuti perkembangan di dunia media sosial untuk melihat perkembangan terkini,” ia menambahkan.

Dukungan Suami

Ia bersyukur hobi ini didukung penuh oleh suami, juga peneliti di LIPI, yang turun tangan ikut menanam tanaman untuk menyediakan bahan baku, seperti tanaman jati, lanang, acalypha. Tuti dan suami membangun paranet di lantai dua rumahnya untuk bibit siap petik. Bibit tersebut dipanen ketika Tuti akan melakukan kegiatan ecoprint, mulai dari anggur (Vitis vinifera), acalypha (Acalypha hispida), belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi), eucha (Eucalypthus globulus), jarak kepyar (Ricinus communis), jarak pagar (Jatropha curcas), jarak wulung (Jatropha gossypifolia), jati (Tectona grandis), kenanga (Cananga odorata), kasumba (Bixa oreliana), ketepeng kebo (Senna alata), lanang (Oroxylum indicum), mindi (Melia azederach), mangsi (Phyllanthus reticulatus), pakis kidang (Nephrolepis biserrata), tabebeuya (Handroanthus chrysotrichus), talok (Muntingia calabura).

Untuk zat warna alam yang digunakan, umumnya diperoleh dari hasil ekstrak berbagai bagian tumbuhan seperti akar, kayu, daun, biji ataupun bunga. Beberapa di antaranya adalah daun pohon nila (Indigofera), kulit pohon soga tingi (Ceriops candolleana), kayu tegeran (Cudraina javanensis), kunyit (Curcuma), teh, akar mengkudu (Morinda citrifolia), kulit soga jambal (Pelthophorum ferruginum), kesumba (Bixa oreliana), daun jambu biji (Psidium guajava).

“Tidak menyangka hobi saya ini juga mendatangkan rezeki. Saya menggunakan label untuk produk saya dengan nama Arundina Ecoprint. Saya ambil dari nama anak saya Arundina,” katanya.

“Kalau ditanya soal harga, saya kira, jangan disamakan dong dengan produk pabrik. Ini ada sentuhan seni, karya seni, dan tidak akan sama, diproduksi satu saja,” Tuti menjelaskan.

Para crafter, menurut Tuti, sudah mempunyai patokan harga tersendiri. “Bergantung bahan kain yang digunakan. Biasanya saya membuat per 2 meter kain. Ada yang dari bahan katun sampai sutra bahkan sutra super. Katun dibandrol harganya minimal Rp250ribu, kain bahan sutra mulai dari Rp900 ribu. Biasanya pembeli juga tahu kok, dan menghargai karya seni ini,” Tuti mengakhiri percakapan.

UKRIDA
Gaia Cosmo Hotel
7 Dasawarsa BPK Penabur
Zuri Hotel
Back to Home