Loading...
DUNIA
Penulis: Diah Anggraeni Retnaningrum 09:09 WIB | Jumat, 28 Oktober 2016

UE Latih Penjaga Pantai Libya untuk Batasi Imigran

Ilustrasi. Imigran menunggu untuk diselamatkan mereka mengarungi Laut Mediterania sekitar 20 mil bahari lepas pantai utara Libya 3 Oktober 2016. Italia mengoordinasikan penyelamatan lebih dari 5.600 imigran di Libya, tiga tahun setelah 366 tewas tenggelam dalam krisis pertama imigran Mediterania yang menarik perhatian dunia. (Foto: AFP PHOTO/Aris Messinis)

BRUSSELS, SATUHARAPAN.COM – Uni Eropa (UE) mulai melatih penjata pantai Libya sebagai bagian dari upaya untuk mengekang meningkatnya arus masuk imigran ilegal dari Afrika Utara, kata kepala kebijakan luar negeri UE Federica Mogherini pada Kamis (27/10).

“Hari ini kami mulai melatih penjaga pantai Libya dalam Operation Sophia, yang merupakan sebuah langkah penting,” kata Mogherini ketika dia tiba untuk menghadiri sebuah pertemuan dengan para menteri pertahanan NATO di Brussel.

“Saya rasa kerja sama sehubungan dengan NATO juga penting dan kami sangat menyambutnya dengan baik,” katanya.

UE dan NATO sudah lama mendiskusikan peningkatan kerja sama dalam menghadapi tantangan keamanan baru, seperti di Ukraina dan Suriah.

“Kita bersama-sama di sini karena Eropa yang lebih kuat berarti NATO yang lebih kuat,” kata kepala aliansi Jens Stoltenberg dalam pidato pembukaan.

Stoltenberg mengatakan NATO baru saja meluncurkan own Operation Sea Guardian di Mediterania untuk membanti Operation Sophia.

UE meluncurkan Operation Sophia tahun lalu setelah ratusan imigran tewas ketika perahu mereka tenggelam di Italia selatan, menuai kecamat atas penderitaan mereka.

Sementara itu, jumlah imigran yang meninggal maupun meninggal di laut Libya semakin meningkat. Angkatan laut Libya pada Kamis (27/10) mengatakan bahwa hampir 100 imigran menghilang setelah perahu mereka tenggelam di pantai mereka saat menuju Eropa, sementara 29 lainnya diselamatkan.

“Menurut informasi yang diterima pada Rabu siang, 20 imigran ilegal dari Afrika sudah diselamatkan,” kata Jenderal Ayoub Qassem, juru bicara angkatan laut di Tripoli, kepada AFP.

“Mereka menaiki perahu karet yang sobek dan penuh dengan air,” katanya.

Qassem mengutip seorang korban yang berhasil selamat, yang mengatakan bahwa perahu itu berangkat membawa 126 imigran dari Garabulli, 70 kilometer dari timur Tripoli, dan tenggelam akibat ombak tinggi.

Tiga wanita dan seorang anak termasuk dari 97 orang yang hilang, kata dia. (AFP)

Editor : Diah Anggraeni Retnaningrum


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home