Google+
Loading...
INSPIRASI
Penulis: Tjhia Yen Nie 10:02 WIB | Selasa, 12 Maret 2019

Ujian

Mengajarkan integritas dan kasih Tuhan kepada para remaja memang tidak mudah.
Menyontek (foto: istimewa)

SATUHARAPAN.COM – Terancam ”Drop Out”.  Kata itu begitu menakutkan dikatakan oleh anak kelas 3 SMA yang bulan depan akan menghadapi UN.

”Lalu kenapa kamu menyontek?” tanya saya dengan sesal.

”Karena semua melakukannya, Bu… semua mendapatkannya,”jelasnya.

”Saya juga tidak tahu, tiba-tiba di grup media sosial ada yang menyebarkan… bagaimana saya tidak melihatnya?” kata yang lain,” Semua anggota grup pasti melihatnya… apakah semuanya drop out?”

Pembicaraan seputar drop out karena menyontek menghantui mereka dalam minggu lalu, dari mulai menjelaskan kronologis kejadian sampai dengan interogasi yang dilakukan pihak sekolah. Suasana belajar menjadi tidak kondusif.  Tentu saja ada yang mengakui, ada juga yang tidak. 

”Kamu mengaku?” tanya saya.

”Ya, saya mengaku kalau saya melihat jawaban itu, tapi kalau karena saya mengaku lalu saya dikeluarkan dari sekolah, bukankah itu tidak adil?”

Mengajarkan integritas dan kasih Tuhan kepada para remaja memang tidak mudah.  Dengan mata dan wajah memerah, seseorang berkata, ”Saya tidak mau di-drop out,Bu... bulan depan saya ujian, saya mau lulus SMA, saya sudah mengatakan yang sejujurnya… apakah sekolah mau percaya?”

”Tentu saja para pendidik akan bijak menangani kasus ini,” hibur saya, ”Mereka pasti mempertimbangkan masa depan kalian, apakah kesalahan yang kalian lakukan sebanding dengan konsekuensi yang harus ditanggung.”

Tapi… bukankah dosa kecil dan dosa besar itu dalam Alkitab sama saja.”

”Tapi… Tuhan itu Mahakasih,” sahut saya

Pembicaraan kami terputus karena hari telah larut. Saya mengatakan, apa pun konsekuensi yang diputuskan sekolah nanti, harus diterima dengan hati lapang.   Kelas 3 SMA hanyalah satu noktah dari perjalanan panjang hidup mereka. Sejujurnya, saat ini pun mereka sudah terhukum hati nuraninya, walaupun mereka menutupinya dengan tawa. Kalau sekolah memberikan peringatan keras, belajarlah dari hal ini.

Akan tetapi, kalau yang terburuk terjadi, itu bukanlah akhir dunia.  Kelulusan ujian bukan hanya dinilai dari secarik kertas yang dapat dicontek. Hadapilah dunia dengan kepala tegak, mengakui dan menanggung konsekuensi atas kesalahan yang sudah diperbuat dengan lapang. Itulah sejatinya lulus ujian. Karena masa depan sungguh ada, dan harapanmu tidak akan hilang.

Editor : Yoel M Indrasmoro

Back to Home