Google+
Loading...
SAINS
Penulis: Reporter Satuharapan 14:59 WIB | Kamis, 11 Juli 2019

UKSW Hadirkan 4 Pakar Kupas Peran Perempuan dalam Pembangunan Bangsa

Ilustrasi. Landmark Kampus Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga. (Foto: Dok satuhararapan.com/uksw.edu)

SALATIGA, SATUHARAPAN.COM – “Peran Perempuan dalam Memajukan Kepemimpinan Bangsa” diusung sebagai tema kegiatan Studium General Mata Kuliah Umum Pendidikan Agama Kristen (MKU PAK) dan Fakultas Teologi Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW), pada Sabtu, 6 Juli lalu.

Bertempat di Balairung Universitas, studium general itu menghadirkan empat narasumber yang membawakan materi tentang peran perempuan dari beberapa perspektif agama dan institusi pemerintahan. Keempatnya ialah Suster Marta Elisabeth Driscoll OSC, Prof Dr Hj Siti Musdah Mulia MA, Anna Marsiana STh MA, dan  Eva Kusuma Sundari SE MSi MEc.

Ditemui di sela kegiatan, koordinator MKU PAK di UKSW Pdt Cindy Quartyamina Koan MA, menyatakan studium general kali ini merupakan puncak dari beberapa kegiatan dengan tema besar peran perempuan dalam pembangunan bangsa.

“Peran perempuan dalam kehidupan bermasyarakat secara khusus kontribusinya bagi pembangunan bangsa di masa yang lalu memang tidak sepenuhnya diperhitungkan. Seiring berjalannya waktu, perubahan kian berkembang dengan pesat, perjuangan perempuan dapat dirasakan dengan adanya pergerakan emansipasi perempuan. Keberadaan peran perempuan sebagai pemimpin kini mulai diakui, dihargai,” Pdt Cindy menjelaskan.

Melalui kegiatan itu ia berharap dapat membuka wawasan peserta mengenai jaminan kesempatan bagi laki-laki maupun perempuan dalam memperoleh hak-hak sebagai manusia. Jaminan kesempatan itu diberikan dalam berbagai aspek meliputi kegiatan politik, hukum, ekonomi, sosial budaya, pendidikan, pertahanan dan keamanan nasional, serta kesamaan dalam menikmati hasil pembangunan.

Masalah Gender

Gender sebagai kaca mata untuk menciptakan keadilan secara konstitusi bagi setiap warga negara dinyatakan dengan lantang oleh Eva Kusuma Sundari. Wanita kelahiran Nganjuk 45 tahun lalu yang kerap bersuara di parlemen ini dengan tegas menyebut manusia memiliki kesamaan dalam hal kedudukannya di berbagai posisi kepeminpinan.

Menurutnya, program-program pemerintah yang diselenggarakan perlu melibatkan perempuan, anak-anak muda, disabilitas dan masyarakat lain untuk menghadirkan perspektif yang bermanfaat. Hal ini bertujuan agar setiap warga negara dapat memberikan perspektifnya melalui musyawarah mufakat untuk membangun dan memajukan bangsa Indonesia.

Pada akhir paparannya, anggota DPR RI periode 2014–2019 ini turut memberikan apresiasi positif pada UKSW yang telah membuka ruang dialog mengenai peran perempuan dari berbagai sudut pandang agama.

Sementara itu, Prof Musdah Mulia yang pernah diangkat sebagai salah satu tokoh dalam majalah Tempo, menganggap bahwa masalah-masalah tentang keadilan gender belum selesai. Masih banyak pemahaman yang salah mengenai konsep gender sebagai konstruksi sosial. Ketidakadilan gender dalam konteks Islam hadir dari interpretasi Kitab Suci yang menekankan pada dominasi laki-laki terhadap perempuan. Ia menyatakan perlu adanya reinterpretasi teks dengan menekankan inti ajaran Islam yakni Tauhid.

“Manusia dalam ajaran Islam dipandang sebagai khalifah, yang berarti manusia adalah wakil Tuhan di Bumi. Dari konsep tersebut seharusnya tidak ada subordinasi terhadap perempuan,” ia menegaskan.

Narasumber lain, Suster Marta, menyampaikan bahwa dari perspektif Katolik perempuan merupakan lambang hidup. Martabat bukan berdasarkan kekuasaan atau prestasi, karena martabat antara laki-laki dan perempuan sama. Martabat bukan hanya hak, tapi berbicara tentang kekuasaan.

Martabat merupakan inti dari keberadaan manusia yang penting untuk dihargai. Kesetaraan tidak bergantung pada kemampuan bekerja, melainkan anugerah yang diberikan dari Sang Pencipta.

Adapun Anna Marsiana melihat bangsa Indonesia sedang mengalami degradasi moral yang dilakukan oleh setiap entitas dalam masyarakat, termasuk perempuan. Bahkan perempuan juga turut menyebarkan hoax dan melakukan bom bunuh diri. Tindakan tersebut memunculkan stereotype terhadap perempuan. Maka dari itu, Anna menganggap, perempuan bukanlah entitas tunggal, artinya perempuan dibentuk oleh kondisi sosial dan politik. (uksw/edu)

 

UKRIDA
Zuri Hotel
Back to Home