Google+
Loading...
RELIGI
Penulis: Dewasasri M Wardani 02:03 WIB | Kamis, 07 Juni 2018

Universitas George Washington AS Sediakan Musala

Ilustrasi. Universitas George Washington menyediakan musala dan tempat wudhu untuk para mahasiswa Muslim beribadah di tengah-tengah jadwal kuliah yang padat. Musala ini dikelola oleh Muslim Students' Association yang giat mengadakan kegiatan lintas agama di kampus. (Foto: voaindonesia.com)

WASHINGTON DC, SATUHARAPAN.COM – Universitas George Washington di Washington, DC, merupakan salah satu kampus di Amerika Serikat yang menyediakan musala dan tempat wudhu bagi para mahasiswanya. Musala yang terletak di gedung pusat kegiatan mahasiswa, Marvin Center itu, didirikan sekitar 15 tahun lalu.

“Tadinya mereka salat di ruangan yang sempit dan berisik, sulit untuk meditasi, khusyuk, dan kontemplasi. Sekarang musala menjadi tempat ibadah, merenung, mengingat Allah, belajar, tidur singkat bagi mahasiswa,” kata Osama Alsaleh, mantan presiden organisasi Muslim Students’ Association di Universitas George Washington.

Kehadiran musala sangat membantu, mengingat jadwal aktivitas dan kuliah yang sangat padat di kampus. Mahasiswa S2 jurusan hukum di Universitas George Washington asal Indonesia, Meike Rachmanna, mengaku sering menggunakan musala itu.

“Pertama cari di Google, ada, tapi enggak jelas. Tapi ketika sudah sampai ke kampus lalu ketemu dan ternyata tempatnya nyaman banget dan sangat memfasilitasi, jadi saya sangat excited. Senang banget,” kata Meike.

Selain bisa beribadah, mahasiswa S2 jurusan kajian Islam asal Tulungagung, Indonesia, Halim Miftahul Khoiri, mengaku banyak bertemu teman baru di musala.

“Musala ini kebetulan tempat favorit di seluruh area George Washington University, karena di musala ini bisa salat dan bertemu dengan teman-teman komunitas Muslim di sini dari berbagai latar belakang. Di sini juga bisa mendapatkan teman. Sumbernya dari sini.”

Memang, menjadi sebuah tantangan tersendiri bagi para mahasiswa Muslim ini ketika harus menjalankan salat di tengah-tengah jadwal kuliah.

“Biasanya waktunya harus disesuaikan, kan kelasnya general. Enggak ada aturan Ashar, Isya, atau apa-apa pun terserah profesornya. Jadi saya milih mata kuliah yang sesuai waktunya,” kata Meike.

Ketika sedang jauh dari musala, Halim memilih untuk melakukan salat di mana pun ia tengah berada.

“Tidak ada orang yang komentar. Jadi orang-orang pada ngerti kalau saya melakukan salat di sekitar sini, walaupun enggak di musala,” katanya.

Namun, ada sesuatu yang berbeda yang dirasakan oleh Meike, ketika menjalankan salat di Amerika, jika dibandingkan dengan di Indonesia. “Nggak dengar suara adzan sama sekali. Mungkin itu yang paling terasa banget,” katanya.

Kegiatan Lintas Agama

Musala di Uversitas George Washington ini juga kerap kali mengadakan kegiatan rutin. Salah satunya adalah acara halaqah mingguan bersama Imam setempat, yang memberikan kesempatan untuk para mahasiswa Mslim berdiskusi dan membahas ayat-ayat Alquran. Musala juga terbuka bagi mahasiswa dengan latar belakang agama lain, yang ingin beribadah atau melakukan meditasi.

Pengelola musala ini adalah organisasi Muslim Students’ Association di Universitas George Washington, yang beranggotakan mahasiswa Muslim dari berbagai negara, antara lain Indonesia, China, Timur Tengah, dan Afrika.

Organisasi ini, kerap mengadakan kegiatan lintas agama dan sosial yang bersifat menghubungkan beragam komunitas di kampus.

Kegiatan agama lain adalah Fast ‘a’ Thon, yang mengajak mahasiswa dengan berbagai latar belakang agama, yang berbeda-beda untuk ikut berpuasa dan berbuka puasa bersama, dengan tujuan memperkenalkan makna dari salah satu pilar Islam ini.

“Amerika sangat akomodatif terhadap budaya asing, sehingga menjadikannya tidak asing lagi, dan meleburnya menjadi bagian dari negara ini,” kata Osama Alsaleh.

Tak hanya kegiatan beragama dapat tetap dijalankan seperti di tanah air, para mahasiswa Muslim Indonesia juga mendapat kesempatan untuk memperluas wawasannya melaui berbagai aktivitas lintas agama. (voaindonesia.com)

Editor : Sotyati

Back to Home