Google+
Loading...
DUNIA
Penulis: Reporter Satuharapan 16:48 WIB | Jumat, 03 Agustus 2018

Unjuk Rasa di Nikaragua 317 Meninggal Dunia

Seorang polisi mengarahkan senjatanya ke dua pria yang menaiki motor dalam unjuk rasa terhadap Presiden Nikaragua Daniel Ortega di Magua, Nikaragua, 28 Mei 2018.(Foto: VOA)

MAGUA, SATUHARAPAN.COM - Organisasi Negara-Negara di Benua Amerika (OAS) mengatakan korban tewas dalam protes anti-pemerintah di Nikaragua selama lebih tiga bulan berjumlah 317. Cabang hak asasi OAS, Kamis (2/8), mengatakan 23 anak di bawah umur dan 21 polisi termasuk yang tewas.

OAS kembali meminta pemerintah Nikaragua agar "memenuhi kewajiban internasionalnya terkait hak asasi" dan "segera dan secara sungguh-sungguh menyelidiki setiap kejahatan ini."

OAS menambahkan banyak dari mereka yang ditangkap tidak diberitahu mengenai hak-hak mereka atau diberitahu tentang dakwaan terhadap mereka.

Protes dimulai April lalu ketika Presiden Daniel Ortega mengumumkan perubahan sistem pensiun yang populer di negara itu. Ia kemudian membatalkan rencananya, tetapi protes berlanjut, demikian pula tindakan keras pemerintah, yang menyebut jumlah korban tewas kurang dari 200.

Ortega menolak seruan gereja untuk berunding dengan oposisi dan menolak mengadakan pemilu lebih awal. Ia mengatakan, para demonstran adalah teroris dan menuduh mereka merencanakan kudeta.

Amerika memberlakukan sanksi dan pembatasan visa terhadap pejabat-pejabat Nikaragua yang dikatakan bertanggungjawab atas kekerasan itu dan memperingatkan, kemungkinan akan ada sanksi lagi.

Sebelumnya delapan orang dokter rumah sakit umum di Nikaragua mengatakan mereka dipecat atas tuduhan melanggar perintah untuk tidak merawat para demonstran yang cedera dalam aksi-aksi unjuk rasa menentang Presiden Daniel Ortega.

Kantor berita Associated Press mengatakan telah melihat surat-surat pemecatan itu yang ditandatangani oleh direktur rumah sakit Oscar Danilo Rosales Arguelo di kota Leon. Surat itu tidak menyebutkan alasan pemecatan.

Javier Pastora Membreno, dokter kepala bagian pembedahan dan endoskopi di rumah sakit itu mengatakan, “Kejahatan kami adalah merawat luka-luka para demonstran, atau dituduh mendukung aksi-aksi unjuk rasa.”

Presiden Ortega membantah adanya surat perintah supaya parademonstran anti-pemerintah yang luka-luka jangan dirawat. (VOA)

 

 

Editor : Melki Pangaribuan

Back to Home