Google+
Loading...
SAINS
Penulis: Sotyati 09:10 WIB | Senin, 16 April 2018

Unjuk Rasa Kebijakan Trump atas Pemangkasan Anggaran Sains

Ilustrasi. Unjuk rasa bertajuk March for Science, berlangsung 14 April bersamaan di beberapa kota di dunia. (Foto: readingthepictures.org)

WASHINGTON, SATUHARAPAN.COM – Ribuan pendukung sains turun ke jalanan di Washington untuk memprotes pemerintahan Presiden Donald Trump dan kebijakan-kebijakannya terkait sains.

Unjuk rasa yang berlangsung hari Sabtu (14/4/2018) bernama “March for Science” tersebut, seperti diberitakan Kantor Berita NHK, digagas oleh para ilmuwan dan bertepatan dengan acara-acara serupa di seluruh dunia.

Para pengunjuk rasa mengungkapkan keprihatinan mendalam mereka atas kebijakan-kebijakan lingkungan Trump, seperti keputusannya untuk menarik mundur AS dari kesepakatan iklim Paris dan usulan pemangkasan anggaran bagi program-program ilmiah.

Rush Holt, CEO masyarakat akademis terbesar dunia, Asosiasi Amerika untuk Kemajuan Ilmu Pengetahuan, menekankan kondisi-kondisi yang diperlukan bagi ilmu pengetahuan untuk berkembang kini berada di bawah ancaman. Holt mengatakan kondisi-kondisi tersebut harus dipertahankan, khususnya pertukaran gagasan secara bebas, serta juga keberagaman orang dan sudut pandang.

Para peserta meneriakkan slogan-slogan seperti “Sains Sekarang Juga” dan “Pertahankan Sains”.

Seorang pengunjuk rasa mengatakan disayangkan pemerintahan Trump terdorong oleh ideologi dan tidak memberi perhatian pada ilmu pengetahuan maupun fakta.

Unjuk rasa di National Mall di Washington DC, kali ini, memang tidak segegap-gempita tahun lalu, seperti diberitakan Science Magazine, namun memiliki energi yang sama. Tampil sebagai pembicara, salah seorang di antaranya adalah David Titley, profesor meteorologi dari Pennsylvania State University in College Park, yang juga mantan oseanografer Angkatan Laut AS. Bersama timnya ia sering melakukan penelitian efek pemanasan global di kawasan Arktik.

Tahun lalu, March for Science berlangsung di 450 kota di seluruh dunia, diikuti lebih kurang 1,3 juta orang yang peduli pada ilmu pengetahuan.  

Editor : Sotyati

Back to Home