Google+
Loading...
OPINI
Penulis: Timur Citra Sari 09:01 WIB | Senin, 24 Desember 2018

Untuk Bertemu Sang Raja

Pdt Timur Citra Sari

SATUHARAPAN.COM – Ketika para majus melihat bintang yang menandakan lahirnya seorang raja, nun jauh di sana, dengan gembira dan penuh semangat mereka saling berjanji untuk berangkat bersama-sama. Pertimbangan yang baik, sesungguhnya, mengingat jauh dan lamanya perjalanan mengandung risiko keamanan yang tidak sedikit. Dengan berangkat bersama-sama, mereka bisa saling mengawasi serta menjaga satu sama lain.

​Tapi, tunggu dulu. Jangan anggap perjalanan para majus dipenuhi semata canda dan gelak tawa. Namanya juga orang, situasi serta kondisi masing-masing tidak harus sama, bukan? Ketika yang satu merasa lelah dan butuh beristirahat sejenak, misalnya, teman yang lain masih kuat dan ingin segera meneruskan perjalanan. Ketika yang seorang perlu membeli tali baru untuk mengikat barang-barang bawaan karena tali yang lama putus, terkikis barang bawaan yang bertepi tajam, wajah teman yang lain terlihat kesal karena perjalanan terpaksa tertunda. Waduh!

​Apalagi, jangan lupa, yang melakukan perjalanan bukan hanya Kaspar, Melkhior, dan Balthasar, yang dikabarkan adalah nama-nama para majus dalam Alkitab. Melainkan, mereka disertai oleh rombongan yang membawa perlengkapan dan kebutuhan sepanjang jalan, pula, hadiah-hadiah bagi Sang Raja yang baru dilahirkan tersebut. Besarnya rombongan yang berangkat, sangat dimengerti, membuat perjalanan tidak bisa dilakukan secara cepat.

Padahal, pada pihak lain, kalau mereka baru bisa bertemu Sang Raja lama setelah kelahiran-Nya, jangan-jangan hadiah yang mereka bawa sudah tidak cocok lagi! Sayang sekali, bukan? Bisa jadi, soal jarak dan waktu tersebut menjadi salah satu pertimbangan para majus, sehingga mereka memilih memberikan barang-barang berharga, bukan makanan yang bisa kedaluwarsa, atau, pakaian yang ukurannya tertentu, yang bisa bermanfaat dalam berbagai kesempatan.

​Aneka kendala yang dihadapi para majus sepanjang jalan, bukan tidak mungkin, entah sekali atau dua kali, menimbulkan pemikiran untuk membubarkan saja “grup” perjalanan itu.Hanya tekad dan keyakinan yang kuat untuk bertemu Sang Raja, yang bintangnya telah mereka lihat, yang membuat mereka bertahan dari segala persoalan dan bersama-sama menyelesaikan perjalanan tersebut. Maju terus, para majus!

***

Para majus bukanlah satu-satunya kelompok yang berurusan dengan masalah dalam perjalanan mereka. Sekalipun berbeda waktu, Yusuf dan Maria juga mengalami bermacam kendala sepanjang jalan. Sebab, jangan lupa, Yusuf dan Maria tidak berjalan sendiri (atau berdua), melainkan dalam rombongan.

Rombongan tersebut tidak semuanya berangkat dari tempat yang sama dan menuju tempat yang sama. Di sini dan sana rombongan bertambah dan berkurang, sesuai dengan orang-orang yang menggabungkan diri, atau yang memisahkan diri karena telah tiba di tujuan.

Mudah dibayangkan, orang-orang yang bertemu dengan Yusuf dan Maria sangat beragam. Ada yang muda, ada yang tua. Ada yang sehat, ada yang sakit-sakitan. Ada yang sabar, ada yang tidak sabaran. Ada yang periang, ada yang bersungut-sungut. Ada yang menyenangkan, ada yang menyebalkan. Dan seterusnya.

Tidak sulit menduga, karenanya, di sana-sini terjadi perdebatan atau perselisihan. Ditambah lagi rasa lelah yang mempengaruhi emosi mereka.

Hanya kesungguhan untuk mendaftarkan diri “masing-masing di kotanya sendiri” (bdk. Lukas 2:3), yang membuat mereka bersedia menyelesaikan perjalanan yang tidak mudah itu. Maka, seperti semua yang lain, Yusuf dan Maria menyusuri kota demi kota, desa demi desa, dusun demi dusun. Hingga, akhirnya, tibalah mereka di Betlehem. Hore!

***

Ternyata, kisah Natal bukanlah sekadar melintasi bagian kiri panggung menuju bagian kanan panggung. Kisah Natal juga bukan kisah yang meriah dengan tepuk-tangan penonton.

Sebaliknya, dalam kisah Natal terkandung risiko dan bahaya. Syukurlah, baik para majus, Yusuf, serta Maria, tidak mudah menyerah, sehingga mereka berhasil mencapai tujuan yang direncanakan.

Belajar dari kesungguhan para tokoh di atas, tampaknya sudah waktunya bagi kita untuk tidak lagi menjadikan kisah Natal sebagai “sekadar” kisah yang indah untuk dibaca, atau didramakan, atau ditonton, pada setiap tahun sekali. Melainkan, kita bisa meneladani tokoh-tokoh yang ada di dalamnya, untuk bersungguh-sungguh dalam mewujudkan yang kita inginkan.

Selamat Natal! Soli Deo Gloria! 

*Penulis adalah pendeta Gereja Kristen Indonesia

Back to Home