Google+
Loading...
RELIGI
Penulis: Yan Chrisna Dwi Atmaja 06:38 WIB | Rabu, 23 April 2014

Vatikan Tepis Paus Yohanes Paulus II Ketahui Pelecehan Seksual

Minggu 27 April 2014 Paus Fransiskus akan mengkanonisasi dua pendahulunya, Yohanes Paulus II dan Yohanes XXIII. (Foto: dw.de/Getty Images)

VATIKAN, SATUHARAPAN.COM - Vatikan pada Selasa (22/4) menepis tuduhan dari para kritikus tentang mendiang Paus Yohanes Paulus II mengetahui dan menampik tuduhan tentang pelecehan seksual yang dilakukan pendiri gerakan Katolik asal Meksiko.

“Tidak ada implikasi personal dari Bapa Suci mengenai masalah ini,” ujar juru bicara Vatikan Frederico Lombardi di konferensi pers menjelang upacara penobatan Yohanes Paulus II dan Yohanes XXIII sebagai santo pada Minggu (27/4).

Monsignor Slawomir Oder, imam Polandia yang mempelopori jalur cepat Yohanes Paulus II untuk kanonisasi, juga menolak tuduhan.
 
"Tidak ada tanda-tanda keterlibatan pribadi dari Bapa Suci dalam hal ini," kata Oder, Selasa.

Skandal atas Marcial Maciel, yang mendirikan Legion of Christ dan seorang pedofil, adalah salah satu dari ribuan kasus pelecehan seksual yang dilakukan pastor di bawah kepemimpinan Yohanes Paulus II.

Tuduhan tentang Maciel mulai mencuat ke publik pada 1980-an, namun kerap diabaikan oleh para petinggi Vatikan.

Dia kemudian ditemukan telah melakukan penganiayaan terhadap banyak seminaris dan pelecehan seksual terhadap buah hatinya dari beberapa wanita yang berbeda meski terikat sumpah kesucian.

Kisah tentang Legion tersebut, yang anggotanya disebut Legionaries, dipandang sebagai salah satu hambatan utama penobatan santo bagi Paus asal Polandia tersebut.

Para aktivis menuduh Yohanes Paulus II menempatkan kepentingan Gereja Katolik di atas segalanya dan menutup mata atas pelecehan seksual terhadap anak seperti yang dituduhkan.

Proses kanonisasi atau menjadikan seseorang menjadi santo meliputi penyelidikan yang panjang dalam semua aspek kehidupan kandidat. Penelitian tidak hanya mengamati dan mengumpulkan bukti konkret yang menghubungkan mukjizat yang bersangkutan, tetapi juga harus menyimpulkan bahwa ia menjalani kehidupan suci sesuai dengan ajaran Gereja. Hal ini dilakukan dengan melakukan analisis mendalam tentang tulisannya, pernyataan dan tindakan.
 
Pengungkapan kasus pelecehan seks anak di seluruh dunia telah melanda para pejabat Gereja Katolik dalam beberapa tahun terakhir.
 
Penerus Paus Yohanes Paulus II, Emeritus Paus Benediktus, telah memecat 400 imam yang diduga bersalah. Sementara, Paus Fransiskus, yang telah memimpin Gereja Katolik selama sekitar satu tahun ini, membentuk komisi pelecehan seks untuk menangani permasalahan ini terutama untuk melindungi anak-anak dan membantu para korban. (AFP)
UKRIDA
Zuri Hotel
Back to Home