Google+
Loading...
SAINS
Penulis: Dewasasri M Wardani 11:36 WIB | Kamis, 23 Mei 2019

Wabah HIV Menyerang Ratusan Anak di Pakistan

Ilustrasi. Lebih dari 600 orang, 75 persen di antara mereka anak-anak, teridentifikasi mengidap HIV dalam waktu kurang dari sebulan di Pakistan. (Foto: bbc.com)

PAKISTAN, SATUHARAPAN.COM – Lebih dari 600 orang, 75 persen di antara mereka anak-anak, teridentifikasi mengidap HIV dalam waktu kurang dari sebulan.

Gejala ini muncul pertama kali pada bulan Februari di Ratto Dero, sebuah kota kecil di bagian selatan Pakistan.

Awalnya, sejumlah orang tua cemas, karena demam yang diderita anak-anak mereka tak kunjung sembuh. Anak-anak itu kemudian dibawa ke dokter.

Dalam beberapa minggu, semakin banyak anak-anak menderita penyakit serupa.

Dr Imran Aarbani, dokter yang bertugas di salah satu rumah sakit di kota itu merasa heran. Dia lalu menganjurkan anak-anak tersebut menjalani tes darah.

Apa yang ia khawatirkan telah terjadi, anak-anak itu tertular HIV, dan tidak ada yang tahu mengapa.

"Pada 24 April, sebanyak 15 anak dinyatakan positif mengidap HIV, kendati tak satu pun dari orang tua mereka yang membawa virus tersebut," kata seorang dokter rumah sakit kepada BBC, yang dilansir bbc.com pada Kamis (23/5).

Bulan lalu, lebih dari 607 orang, 75 persen dari mereka adalah anak-anak - didiagnosis terjangkit virus tersebut, setelah ada rumor yang menyebutkan sejumlah keluarga dikirim ke unit khusus di rumah sakit milik pemerintah kota oleh departemen kesehatan Provinsi Sindh.

Namun, mungkin yang lebih mengejutkan adalah ini bukanlah wabah pertama yang melanda kawasan tersebut dalam beberapa tahun terakhir.

Selentingan yang menyebut tentang kemungkinan wabah ini melanda Provinsi Larkana di Sindh, mendorong ribuan orang menjalani tes darah lagi pada tahun 2016.

Dalam kesempatan tersebut, sebanyak 1.521 orang dinyatakan positif mengidap HIV, berdasarkan angka-angka yang dimiliki badan penanganan AIDS, Sindh Aids Control Programme (SACP).

Sebagian besar dari mereka yang terjangkit adalah laki-laki dan, pada saat itu, penyebabnya terkait dengan pekerja seks di daerah tersebut, yang sebagian besar adalah transgender dan 32 di antara mereka ditemukan membawa virus AIDS.

Meski Pakistan melarang praktik prostitusi, nyatanya masih ada PSK yang menjajakan jasanya dengan bebas.

Salah satunya di tempat penginapan para wisatawan di Larkana, otoritas setempat menggerebek tempat tersebut terkait dengan meluasnya penularan AIDS.

Namun bisakah penularan ini dikaitkan dengan penemuan para petugas kesehatan baru-baru ini?

Dr Asad Memon, yang memimpin operasi SACP di Larkana, memercayainya, meski tidak secara langsung.

"Saya pikir virus (AIDS) itu dibawa oleh kalangan yang berisiko tinggi (seperti para transgender dan PSK perempuan) lalu mereka berobat ke 'dukun' yang lalai menerapkan standar kesehatan sehingga menularkan ke pasien lainnya," katanya .

"Dukun" yang ia maksud adalah orang-orang yang tidak profesional di bidangnya, mulai dari perawat-perawat yang membuka klinik sendiri dan mengaku sebagai dokter, sampai calon-calon dokter yang menganggur dan tidak memiliki pengetahuan standar kesehatan.

Di Pakistan, terutama di daerah pedesaan, orang lebih suka berobat ke "dukun" ketimbang ke dokter, karena biayanya lebih murah, mereka selalu ada, dan banyak waktu untuk mendengarkan keluhan pasien.

Dr Fatima Mir, dokter spesialis di Rumah Sakit Universitas Aga Khan yang menangani AIDS di kalangan anak-anak, saat ini melakukan pekerjaan sukarela di Ratto Dero. Ia sepakat faktor kelalaian medis terkait dengan penularan AIDS di kalangan anak-anak pada tahun 2016.

"Ada tiga cara seorang anak dapat terinfeksi," katanya. "Baik melalui ibu menyusui yang membawa virus, melalui transfusi darah, atau melalui instrumen bedah yang terinfeksi atau jarum suntik."

Dalam sebagian besar kasus yang ia tangani, para ibu negatif terkena HIV dan beberapa anak telah menjalani transfusi darah. Jadi satu-satunya penjelasan yang tersisa adalah praktik menggunakan satu jarum suntik untuk beberapa pasien di klinik setempat.

Para pejabat berwenang juga tampaknya setuju. Sekitar 500 klinik yang tidak terdaftar telah diperintahkan untuk ditutup di seluruh provinsi, lapor otoritas kesehatan.

Terlebih, seorang dokter spesialis anak di wilayah setempat, Dr Muzaffar Ghangro, telah ditangkap atas tuduhan menyebarkan AIDS melalui jarum suntik.

Namun ia membantah semua tuduhan, dengan mengatakan semua orang yang terinfeksi bukan pasiennya.

Sementara itu, otoritas di Sindh, salah satu wilayah dengan penularan HIV tertinggi di Pakistan,  telah mengadakan penyelidikan untuk mengidentifikasi penyebab wabah tersebut.

Namun, itu tidak membantu mereka yang sudah didiagnosis terkena virus yang akan berdampak pada seluruh hidup mereka.

Para dokter di unit khusus di rumah sakit di Ratto Dero kini telah melakukan tes darah terhadap lebih dari 18.418 orang sejak 25 April.

Setidaknya 607 dari mereka telah dinyatakan positif sejauh ini, tiga perempat dari mereka adalah anak-anak antara usia satu bulan dan 15 tahun.

Itu berarti ada ratusan orangtua yang menghitung biaya baik untuk kesehatan anak-anak mereka, dan kehidupan sehari-hari mereka.

"Obat-obatan untuk orang dewasa biasanya tersedia (dengan otoritas kesehatan) di Larkana, tetapi obat-obatan untuk anak-anak, kami harus pergi ke Karachi, yang artinya kami menghabiskan ongkos beberapa ribu rupee pada setiap perjalanan," kata salah seorang ibu, yang memiliki seorang balita perempuan yang positif didiagnosis HIV.

"Suami saya hanyalah seorang buruh harian, jadi kami tidak mampu lagi membiayai semua."

 

UKRIDA
Zuri Hotel
Back to Home