Google+
Loading...
FOTO
Penulis: Reporter Satuharapan 07:51 WIB | Rabu, 11 Januari 2017

Warga Iran Banjiri Acara Pemakaman Rafsanjani

Warga Iran Banjiri Acara Pemakaman Rafsanjani
Ribuan warga Iran dari berbagai kelompok berkumpul di depan Universitas Teheran, hari Selasa (10/1), mengikuti prosesi pemakaman mendiang mantan presiden Akbar Hashemi Rafsanjani. (Foto-foto: irna.ir)
Warga Iran Banjiri Acara Pemakaman Rafsanjani
Presiden Hassan Rouhani menghadiri upacara pemakaman Akbar Hashemi Rafsanjani yang diadakan di Masjid Jamaran di Teheran pada 8 Januari, 2016.
Warga Iran Banjiri Acara Pemakaman Rafsanjani
Pemimpin Tertinggi Revolusi Islam Iran, Ayatollah Ali Khamenei memimpin doa jenazah Akbar Hashemi Rafsanjani selama upacara pemakamannya di Universitas Teheran, hari Selasa (10/1).
Warga Iran Banjiri Acara Pemakaman Rafsanjani
Foto lama Pemimpin Tertinggi Revolusi Islam Iran Ayatollah Ali Khamenei dan Akbar Hashemi Rafsanjani (kiri).

TEHERAN, SATUHARAPAN.COM - Puluhan ribu pelayat yang dipimpin oleh pemimpin tertinggi Teheran, Selasa (10/1), berkumpul di Tehran University untuk mengikuti pemakaman mantan presiden Akbar Hashemi Rafsanjani.

Televisi pemerintah memperlihatkan orang-orang yang membanjiri jalanan di seluruh kampus tempat Ayatollah Ali Khamenei memimpin acara doa untuk Rafsanjani.

Politikus yang meninggal pada Sabtu di usia 82 tahun itu akan dimakamkan di dalam ruang bawah tanah Ayatollah Ruhollah Khomeini, pemimpin revolusi Islam Iran pada 1979.

Makam Khomeini berada di Teheran selatan.

Beberapa pemimpin dari semua faksi politik rival Iran menghadiri pemakaman tersebut.

Sejak kematian Rafsanjani, pesan belasungkawa berdatangan baik dari dalam negeri mau pun luar negeri.

Gedung Putih bahkan mengirimkan sebuah pesan, yang belum pernah terjadi sebelumnya sejak revolusi 1979 yang mengarah putusnya hubungan antara Teheran dan Washington.

“Mantan presiden Rafsanjani adalah tokoh ternama sepanjang sejarah Republik Islam Iran dan AS mengirimkan belasungkawa kami kepada keluarganya,” ujar juru bicara Josh Ernest. (AFP)