Loading...
RELIGI
Penulis: Sabar Subekti 08:41 WIB | Selasa, 16 Februari 2021

Warga Yahudi di Negara-negara Teluk Membentuk Asosiasi

Warga Yahudi di Negara-negara Teluk Membentuk Asosiasi
Warga yahudi di Uni Emirat Arab (UEA). (Foto: dok. Ist.)
Warga Yahudi di Negara-negara Teluk Membentuk Asosiasi
Menteri Luar Negeri Bahrain, Abdullatif Al Zayani, Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, dan Menteri Luar Negeri Uni Emirat Arab (UEA), Abdullah bin Zayed, menunjukkan salinan perjanjian yang telah ditandatangani, sementara Presiden AS, Donald Trump, menyaksikan saat mereka berpartisipasi dalam upacara penandatanganan Perjanjian Abraham (Abraham Accords)

SATUHARAPAN.COM-Komunitas Yahudi lokal di Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UEA), Bahrain, Kuwait, Oman, dan Qatar telah berkumpul untuk membentuk Asosiasi Komunitas Yahudi Teluk (AGJC / Association of Gulf Jewish Communities), dengan rencana untuk mendirikan pengadilan Yahudi pertama di kawasan itu.

AGJC adalah jaringan komunitas Yahudi dari negara-negara GCC (dewan Kerja Sama Teluk) yang mengembangkan kehidupan Yahudi di wilayah tersebut, kata Rabbi Dr. Elie Abadie, pemimpin spiritual asosiasi tersebut, kepada Al Arabiya.

 “Meskipun setiap komunitas independen, mereka memiliki tujuan dan visi yang sama: agar kehidupan Yahudi di GCC berkembang demi kepentingan penduduk dan pendatang,” kata Abadie, yang berbasis di Dubai.

Dewan Asosiasi terdiri dari anggota Yahudi dari keenam negara Teluk, yang bersama-sama akan merencanakan jalan ke depan bagi komunitas Yahudi di GCC. Jumlah penduduk dan turis Yahudi di wilayah tersebut diperkirakan akan bertambah setelah penandatanganan Perjanjian Abraham (Abraham Accords) yang bersejarah.

“Kami menyadari bahwa ada komunitas Yahudi yang besar di UEA dan komunitas berukuran sedang di Bahrain, dan komunitas individu yang lebih kecil di negara-negara anggota GCC lainnya, dan kami ingin sebuah asosiasi untuk memberikan komunitas ini rasa persatuan,” kata Rabbi Abadie.

Setelah Perjanian Perdamian

UEA dan Bahrain secara resmi menormalisasi hubungan dengan Israel pada upacara penandatanganan di Gedung Putih Amerika Serikat pada September lalu.

Perjanjian tersebut "akan berfungsi sebagai dasar untuk perdamaian yang komprehensif di seluruh kawasan," kata mantan Presiden AS, Donald Trump, pada saat itu.

“Komunitas Yahudi di GCC akan tumbuh mengingat keterbukaan historis yang terjadi,” kata Rabbi Abadie. “Negara-negara Teluk sangat mendukung pertumbuhan kehidupan Yahudi, tetapi karena semakin banyak orang yang masuk dan datang berkunjung, kita harus memenuhi kebutuhan pendidikan, budaya, spiritual, dan agama mereka dengan membentuk program dan lembaga untuk melayani kebutuhan yang meningkat ini," kata dia menambahkan.

Rabbi Abadie mengatakan kelompok itu bertujuan tidak hanya untuk melayani komunitas Yahudi di negara-negara anggota GCC, tetapi juga meningkatkan jumlah wisatawan dari Israel setelah Kesepakatan tersebut.

“Kami ingin melayani turis Yahudi masa depan untuk membantu menunjukkan rasa persatuan dan menyediakan berbagai layanan, baik itu nasihat agama, kepemimpinan spiritual, memastikan produk Kosher tersedia, dan sebagainya.”

Jaringan AGJC akan dipimpin oleh Presiden Ebrahim Dawood Nonoo, yang berbasis di Bahrain, dengan tujuan enam negara GCC bermitra dalam program dan layanan komunal yang berbeda, sehingga sumber daya mereka akan saling meningkatkan.

Pengadilan Agama Yahudi

Beth Din of Arabia (Pengadilan Yahudi) sedang dalam proses didirikan untuk membantu masalah status pribadi, warisan, dan penyelesaian sengketa bisnis sukarela di wilayah tersebut.

“Pengadilan agama Yahudi adalah yang mengawasi pernikahan, perceraian, adopsi, jika perlu, perselisihan keluarga, atau bahkan perselisihan bisnis. Ini tentang memberikan yurisdiksi bagi mereka yang beragama Yahudi,” kata Rabbi Abadie.

Badan Sertifikasi Kosher Arab (Arabian Kosher Certification Agency), sebuah organisasi yang akan mengawasi kashrut (sertifikasi halal) secara regional juga menggunakan seperangkat standar yang sama di enam negara Teluk, sehingga memudahkan individu Yahudi untuk tinggal atau bepergian di sekitar Teluk.

Warga Yahudi di Arab

Rabbi Abadie mengatakan ada 1.000 orang Yahudi yang tinggal di UEA, sebagian besar berbasis di Dubai. Beberapa ratus tinggal di Arab Saudi, sementara 100 lainnya tinggal di Bahrain. “Beberapa” lainnya tinggal di Oman, Qatar dan Kuwait.

“Dengan adanya masa perdamaian dan hubungan antar agama dan toleransi ini, kami mengharapkan lebih banyak anggota komunitas Yahudi yang datang untuk tinggal dan mengunjungi GCC,” kata Rabbi Abadie.

"Pelukan dan sambutan di antara bangsa-bangsa telah menggembirakan bagi kami, mimpi yang menjadi kenyataan... Saya mengantisipasi komunitas Yahudi akan tumbuh secara signifikan di sini di era toleransi."

Nonoo mengatakan setiap komunitas GCC orang Yahudi memiliki banyak hal untuk ditawarkan satu sama lain. “Sambil mempertahankan kemerdekaan kami, asosiasi baru ini memungkinkan kami untuk mengumpulkan sumber daya kami untuk kemajuan semua orang Yahudi di Teluk,” kata Nonoo.

“Meskipun komunitas Yahudi kami telah menjadi bagian dari struktur masyarakat Bahrain selama lebih dari seratus tahun, kami menghargai kebutuhan beberapa komunitas yang lebih kecil atau lebih baru di wilayah tersebut, dan yakin kami dapat membantu mereka berkembang dan mengarahkan pertumbuhan di bagian dunia." (Al Arabiya)

Editor : Sabar Subekti

BPK Penabur-Start Up
Zuri Hotel
Back to Home