Google+
Loading...
INSPIRASI
Penulis: Endang Hoyaranda 06:44 WIB | Senin, 17 Juli 2017

Waspada Berarti Peduli

If you see something, say something (Allen Kay, 2001)
Foto: istimewa

SATUHARAPAN.COM – Slogan di atas pada awalnya dibuat oleh seorang pimpinan biro iklan di Manhattan, New York yang ingin menampilkan sesuatu yang sederhana namun mengena untuk diingat dan dilaksanakan masyarakat setelah megateror 9/11 pada 2001 di New York.

Harus diakui, banyak peristiwa serupa teror, bahkan bencana alam, terjadi karena kurangnya kewaspadaan masyarakat terhadap tanda-tanda yang sesungguhnya sudah mengarah pada bahaya. Saat ini, slogan tersebut sudah mendunia, digunakan di beberapa negara selain negara penciptanya, dan sudah diangkat oleh Departemen Pertahanan dan Keamanan Amerika Serikat sebagai slogan yang terus-menerus dipromosikan agar masyarakat semakin waspada terhadap tanda-tanda bahaya terorisme.

Bukan hanya terhadap terorisme.  Kewaspadaan, khususnya slogan ”S4:  see something, say something amat relevan pada berbagai situasi sosial.

Tengoklah bencana longsor yang terjadi di berbagai tempat di Indonesia akhir-akhir ini. Saat diwawancara wartawan, tak jarang diungkapkan oleh para korban bahwa tanda-tanda akan longsor sesungguhnya sudah muncul beberapa waktu sebelumnya, namun diabaikan. Ketika sudah jadi bencana, barulah datang penyesalan, mengapa tanda itu tidak diwaspadai.

Ketiadaan kewaspadaan juga mengorbankan kepedulian terhadap lingkungan sekitar, termasuk terhadap orang di sekitar. Minggu lalu masyarakat dikejutkan dengan berita kematian seorang mahasiswi di kamar kosnya di Bandung, yang meninggal dunia dalam kesendirian, menderita sakit yang tak seorang pun tahu, bahkan meninggalnya pun baru diketahui dan ditemukan setelah tiga hari.  

Lalu bermunculan berbagai komentar di media sosial tentang betapa kehidupan masa kini sudah sangat berbeda dengan ”masa ketika kita  mahasiswa dulu itu…” di mana suasana rumah kos seperti keluarga besar, tidak mungkin anak kos menderita sakit tanpa rekan serumah atau ibu kos memedulikannya, dan sebagainya.  

Pada masa itu, hampir tak mungkin terjadi anak kos sakit hingga meninggal di kamar karena tak ada yang tahu. Kemandirian, individualisme, dan segala predikat masyarakat maju, nyatanya mengorbankan kepedulian sosial. Mata tidak dibiasakan untuk melihat hal aneh, telinga tidak dibiasakan untuk mendengar suara yang tak ada urusannya dengan saya, dan di atas itu: hati tak dibiasakan untuk peduli terhadap gejala yang janggal di masyarakat, yang mungkin saja tak bersinggungan langsung dengan diri sendiri, namun bisa amat berarti bagi orang lain atau masyarakat.

Ada sampah dibuang di jalan, biar saja. Ada orang menyeberang tidak di jembatan penyeberangan, ”Ya biarlah, ’kan bukan saya!” Ada tetangga membakar sampah, ”Ah nggak enak ngomongnya!” Ada teman kantor menggelapkan uang, ”Kalau saya bongkar, nanti saya kehilangan teman!” Alhasil, diam saja, dan situasi bisa saja menjadi lebih buruk.  Kewaspadaan yang identik dengan kesadaran dan tanggungj awab sosial kurang  ditumbuhkan dengan baik, terhalang oleh ketidakpedulian.

Jika kewaspadaan  sosial bertumbuh, maka niscaya  tanggung jawab sosial juga akan membaik. Masyarakat akan menyadari bahwa jika ia berbuat tidak baik atau melanggar hukum, maka teman, saudara, tetangga akan menegur. Bukan karena si penegur dirugikan, namun karena masyarakat dirugikan.

Pertajamlah kepedulian, maka kewaspadaan akan bertumbuh juga! Sedemikian hingga tanggung jawab sosial menimbulkan keberanian untuk memperjuangkan perbaikan tatanan sosial secara mendasar.

Salah satu contoh di dunia kerja adalah mekanisme whistle blowing,  yang kini sudah mulai digunakan di berbagai instansi, dengan tujuan lebih cepatnya terungkap perilaku curang di dalam perusahaan. Masyarakat diharapkan ikut menjaga keamanan dan ketenteraman serta profesionalisme kerja dengan adanya kepekaan terhadap kejanggalan yang muncul.  Jika melihat sesuatu, tegurlah, atau laporkanlah.

 

Email: inspirasi@satuharapan.com

Editor : Yoel M Indrasmoro

Back to Home