Google+
Loading...
RELIGI
Penulis: Reporter Satuharapan 19:33 WIB | Kamis, 16 Januari 2020

WCC Berduka atas Berpulangnya Pdt Pablo Sosa

Pdt Pablo Sosa, pendeta Methodis Argentina, pengarang banyak lagu dari repertoar Protestan Amerika Latin, meninggal dunia di Buenos Aires, Argentina, 11 Januari 2020, pada usia 85 tahun. (Foto: alc-noticias.net)

SATUHARAPAN.COM – “Dengan kesedihan mendalam kami menerima berita tentang meninggalnya Pendeta Pablo Sosa, salah satu tokoh dari spiritualitas ekumenis global,” kata Pendeta Dr Olav Fykse Tveit, Sekretaris Jenderal Dewan Gereja Dunia (WCC).

Pendeta Pablo Sosa, pendeta Methodis Argentina, meninggal pada 11 Januari 2020, di Buenos Aires, pada usia 85 tahun.

Dilahirkan pada Desember 1934, ia belajar teologi di Instituto Superior Evangélico de Estudios Teológicos. Ia juga mendalami musik gerejawi di Westminster Choir College di Princeton, Amerika Serikat, di Hochschule für Musik, di Berlin, Jerman, dan di The Sacred Music School of the Union Seminary di New York, AS.

Sosa adalah pengarang lagu yang tak terhitung jumlahnya dari repertoar Protestan Amerika Latin. Ia melayani sebagai pendeta di Gereja Methodis Evangelikal Argentina, dan diakui di seluruh dunia untuk karyanya sebagai komposer, guru, pengarah paduan suara, dan musisi gereja. Ia juga bekerja sebagai profesor liturgi dan himne di Instituto Superior Evangélico de Estudios Teológicos.

Pdt Terry MacArthur, yang pensiun dari WCC, merefleksikan kenangan yang ia alami ketika bekerja dengan Sosa. “Bagi Sosa, tantangan ibadah ekumenis tidak berakhir dengan hanya menambahkan beberapa perkusi dan drum; itu mencakup perwujudan teologi orang lain, dan dalam proses memahami lebih jelas bagaimana kita dibentuk oleh anggapan kita.”

Pendeta Dr Mikie Roberts, eksekutif program WCC untuk Spiritual Life berbicara tentang warisan Sosa: “Warisan Sosa nyata pada tahun-tahun kemudian, lagu-lagunya terus membentuk spiritualitas dan teologi ekumenis secara lokal dan global. Kami berdoa agar generasi musisi gereja yang baru muncul akan terinspirasi untuk membangun warisannya.”

“Hadiah Spesial Anda adalah Membuat Komunitas Bernyanyi”

Sepanjang kehidupan kerjanya, kesadaran sosial Sosa memperluas visinya untuk memberikan harapan baru melalui lagu. Ia sering menggambarkan ibadah sebagai hari raya orang percaya, di mana setiap orang disambut.

Ia dikenal oleh banyak orang karena bakatnya membuat jemaat bernyanyi. Sebagai komposer, dalam sebagian besar lagunya, Sosa berkelana ke bahasa musik Amerika Latin, dengan nyanyian-nyanyian seperti “Que esta Iglesia sea un rrbol” (Semoga gereja ini menjadi seperti pohon), yang dikenal secara global selama Sidang Majelis ke-11 WCC, yang diadakan di Busan, Republik Korea, pada tahun 2013.

Nyanyian pujiannya telah diterjemahkan ke berbagai bahasa (Inggris, Jerman, Portugis, Swedia, Finlandia, China, dan Jepang) dan dimasukkan ke dalam nyanyian pujian dan buku nyanyian di seluruh dunia.

Sosa tanpa lelah mempromosikan inklusi himne regional di gereja-gereja di seluruh dunia. Dalam hal ini, kontribusinya terhadap buku nyanyian untuk Majelis ke-6 WCC, yang diadakan di Vancouver, Kanada, 1983, yang ia juga salah satu animator liturgi-musik, sangat penting.

Ibadah pemakaman Sosa berlangsung di Gereja Methodis Flores, Buenos Aires, pada 12 Januari lalu. Sosa meninggalkan dua anak, David dan Cecilia, dan juga cucu-cucu tercinta. (oikoumene.org)

Editor : Sotyati

UKRIDA
Gaia Cosmo Hotel
7 Dasawarsa BPK Penabur
Zuri Hotel
Back to Home