Google+
Loading...
BUDAYA
Penulis: Sotyati 12:06 WIB | Kamis, 12 Oktober 2017

“Whisper/Roar” Tandai 25 Tahun Sebastian dan Cristina Berkarya

“Whisper/Roar” Tandai 25 Tahun Sebastian dan Cristina Berkarya
Sebastian Gunawan dan Cristina Panarese tampil di akhir peragaan busana dalam pergelaran busana tunggal Whisper/Roar di Jakarta, 10 Oktober, menandai 25 tahun berkarya. (Foto-foto: Tim Muara Bagdja)
“Whisper/Roar” Tandai 25 Tahun Sebastian dan Cristina Berkarya
Sebagian dari 82 karya rancangan label Sebastian Gunawan yang dihadirkan dalam peragaan busana menandai 25 tahun berkarya Sebastian Gunawan dan Cristina Panarese.
“Whisper/Roar” Tandai 25 Tahun Sebastian dan Cristina Berkarya
Karya gaun label Sebastian Gunawan.
“Whisper/Roar” Tandai 25 Tahun Sebastian dan Cristina Berkarya
Karya rancangan Sebastian Gunawan dan Cristina Panarese.
“Whisper/Roar” Tandai 25 Tahun Sebastian dan Cristina Berkarya
Karya rancangan Sebastian Gunawan dan Cristina Panarese.

SATUHARAPAN.COM – Sebastian Gunawan dan Cristina Panarese menapaki 25 tahun berkarya. Peragaan tunggal karyanya dari label Sebastian Gunawan yang mengusung tema “Whisper/Roar” di Jakarta, 10 Oktober 2017, dihadiri pelanggan setia, teman-teman, dan pemerhati mode.

Sebanyak 82 rancangan, yang dirangkum sebagai koleksi utuh dan terbaru berjudul “Whisper/Roar”, mengandung filosofi ‘dari bisik-bisik’, yang menandai awal mula perjalanan di dunia mode, yang semakin nyaring, dan berubah menjadi sebuah ‘gemuruh’ seiring perjalanan kreatif label Sebastian Gunawan.

Sebastian dan Cristina mempersembahkan koleksi dalam kemasan yang seolah menelisik rancangan sejak semula, semakin berkembang, dan menjadi besar, yang ditandai dengan rancangan-rancangan bersiluet dramatis, detail artistik, serta penggunaan bahan yang diolah kembali.

Whisper/Roar mengeksplorasi kekayaan romantisme gaya berbusana era dekade 40an, 50an, dan 60an, yang menyublim menjadi gaya dengan cita rasa dan aroma sangat masa kini.

Lewat koleksi ini Sebastian dan Cristina ingin mengungkapkan tentang keindahan yang muncul dari keragaman siluet, pilihan bahan, pengerjaan detail, dan jangkauan palet warna yang bisa bersatu dengan harmonis.

Inspirasi berhulu pada ketertarikan Sebastian dan Cristina kepada keterampilan tangan yang tinggi, seperti kecakapan dalam melipat, kecantikan motif, serta tekstur yang dihasilkan dari olahannya, hingga keindahan leret warna yang menjadi benang merah koleksi.

Ketertarikan itu mempertemukan Sebastian dan Cristina pada eksotisme Asia dalam mengolah detail dengan romantisme busana Eropa yang memiliki kekayaan tekstil dan tekstur bahan yang begitu variatif.

Lewat peragaan busana kali ini Sebastian Gunawan dan Cristina Panarese ingin memberikan pernyataan mode yang hadir dalam beragam potongan; A-line, celana, gaun, jaket pendek, jaket panjang, fitted, duyung, berpadu menjadi koleksi yang sempurna.

Rancangan juga memanfaatkan ragam bahan yang bertolak belakang, yaitu bahan yang tipis, tebal, kilap, halus, dan kaku, untuk memberi efek berbedabeda, namun tetap dengan ciri khas label Sebastian Gunawan yang membuat tiap wanita lebih cantik.

Sebastian dan Cristina juga mengeksplorasi bagian lengan busana dan menjadikannya sebagai titik perhatian dari deretan busana yang ditampilkan. Lengan lurus, bervolume, bertumpuk, pendek, panjang, memperkaya siluet.

Sebastian dan Cristina memilih bahan-bahan yang cenderung bernilai vintage, di antaranya Damask (bahan tebal bertekstur dan bermotif dari hasil tenun), Mikado (jenis sutra mewah dan berat yang cocok untuk memberi struktur gaun), Sifon, Lame Matelasse, Lace, Sequin (bahan dengan kepingan-kepingan kecil yang dijahitkan di seluruh permukaannya), hingga sejenis kulit imitasi yang memberi nilai tambah pada penampilan busana.

Pada beberapa gaun, terlihat pengerjaan selayaknya sebuah karya seni karena dikerjakan dengan kerajinan tangan yang indah. Dibutuhkan keterampilan tangan yang mumpuni dalam memasang kristal, membubuhkan manik, menyusun payet, sulaman, menekuk pita hingga menjadi tampilan utuh sebuah desain saat busana dikenakan, termasuk dua gaun pengantin dengan imbuhan Kristal bergambar senada.

Palet warna bermain dalam rentang yang lebar namun saling berkait hingga menjadi benang merah koleksi. Biru petrolium, semburat oranye bata, étaupe, cokelat, hitam, berpadu dengan kemegahan warna keemasan, rose gold, keperakan, memancarkan kemewahan.

Bersyukur dan Berserah Diri

Pemakaian aksesori rancangan Rinaldy Yunardi mengutuhkan dan menonjolkan keindahan rancangan.

Pergelaran Sebastian dan Cristina kali ini berlangsung lebih sederhana dibandingkan dengan peragaan buana sebelumnya. Sebastian dan Cristina mengucapkan rasa terima kasih kepada pendukung dan partner kerjanya melalui tayangan video. Sebagian dari hasil penjualan tiket masuk lajur pertama dan kedua, mereka sumbangkan kepada sebuah yayasan yang mengelola pendidikan untuk anak-anak tidak mampu.

Sebastian dan Cristina juga mempersilakan hadirin menikmati lebih dekat karya rancangannya di akhir pergelaran. Para model berdiri di panggung peraga dalam waktu cukup lama, memberi waktu kepada hadirin yang ingin mengamati dan mengambil foto karya rancangannya.

Dalam perbincangan pribadi dengan satuharapan.com sebelum peragaan busana, Sebastian Gunawan tak lupa mengucapkan terima kasih kepada seluruh anggota tim, karyawan, yang memungkinkan label Sebastian Gunawan mampu menginjak usia perjalanan 25 tahun.

“Itu semua pekerjaan tim, bukan saya pribadi. Dan ujung-ujungnya kembali kepada Tuhan, yang mengaruniakan talenta kepada kita,” kata Seba, panggilan akrabnya.

“Jadi, tentunya, yang terutama, adalah bersyukur kepada Tuhan, karena semua ini milik-Nya. Bukan milik kita,” Seba menambahkan.

Seba meyakini, setiap orang dianugerahi bakat dan talenta masing-masing. Namun, menjadi pilihan seseorang itu untuk memanfaatkannya, mengembangkannya, dengan kemauan untuk maju, berinovasi, atau malah menyia-nyiakannya.  “Dan, menjadi keyakinan saya, Tuhan memberkati atau tidak. Karena belum tentu yang berkeinginan maju, berinovasi itu pun diberkati,” Seba menjelaskan.

Berupaya dan berserah diri menjadi pegangan hidupnya dalam berkarya. Seba mengakui, perjalanannya berkarya tidak selalu mulus. Beberapa kali ia harus mengalami jatuh. Jika ia bisa kembali tegak hingga kini, itu karena ia berpegang pada keyakinan, “Tetap berusaha dan berserah diri.” 

Editor : Sotyati

Back to Home