Google+
Loading...
DUNIA
Penulis: Dewasasri M Wardani 12:08 WIB | Kamis, 14 Maret 2019

Wina Kembali Dinobatkan Kota Layak Huni Terbaik

Pemandangan Kota Wina saat cuaca cerah dari Gunung Kahlenberg, Austria, 12 Maret 2019. (Foto: Voaindonesia.com)

AUSTRIA, SATUHARAPAN.COM – Ibu kota Austria, Wina, memuncaki indeks Mercer terkait kota yang paling layak huni selama 10 tahun berturut-turut, Reuters melaporkan pada Rabu (13/3).

Kota itu, dikenal oleh para turis karena masa lalu kekaisarannya, istana-istana berlapis emas, dan musik klasik. Kota berpenduduk1,9 juta jiwa itu dijuluki “Wina Merah” karena telah lama dikuasai oleh kelompok politik kiri dengan layanan publik yang murah dan banyak hunian murah untuk warga.

Luas wilayah yang sedang, aman, dan relatif hijau, adalah beberapa kesamaan yang juga dimiliki oleh Zurich, yang berada di posisi kedua. Tapi Zurich jauh lebih mahal dan menjadi pusat ekonomi utama, demikian pula dengan Auckland, Munich, dan Vancouver, yang bersama-sama menduduki posisi ketiga.

Lima kota teratas dalam indeks perusahaan konsultan Peringkat Kualitas Hidup Mercer 2019, diumumkan pada Rabu (13/3). Peringkat ini tidak banyak berubah sejak tahun lalu, kecuali peringkat Vancouver yang naik ke peringkat tiga, yang sebelumnya berada di peringkat lima.

“Kualitas hidup ditentukan oleh banyak faktor, mulai dari akses ke transportasi umum dan tingkat kemacetan lalu lintas, hingga ketersediaan perumahan dan sekolah internasional, juga pemandangan budaya kota,” kata Mercer dalam sebuah pernyataan, tanpa menyebutkan alasan lebih lanjut terkait posisi Wina yang selalu bisa melebihi Zurich.

Mercer mengatakan, melihat 39 faktor yang dikelompokkan dalam 10 bagian seperti “lingkungan politik dan sosial” serta “rekreasi”.

Sedang 10 kota terbawah dalam daftar 231 kota yang ada tidak berubah. Baghdad berada di peringkat terakhir, diikuti oleh Bangui di Republik Afrika Tengah dan ibu kota Yaman, Sanaa.

Ada beberapa perubahan besar seperti Caracas yang turun 29 peringkat ke posisi 222, karena Venezuela kini sedang mengalami hiperinflasi, kekurangan kebutuhan pokok, dan baru-baru ini tengah terjadi krisis politik semenjak pemimpin oposisi Juan Guaido menjadi presiden sementara pada Januari.

Mercer mengatakan, Caracas “mengalami penurunan standar hidup setelah ketidakstabilan politik dan ekonomi yang signifikan”.

Namun, indeksnya didasarkan pada data yang dianalisis antara September dan November 2018, yang berarti tidak memperhitungkan perkembangan terkini seperti pemadaman besar-besaran yang melumpuhkan ekspor minyak dan membuat banyak makanan menjadi busuk.

Brexit, tidak menyebabkan perubahan besar di antara kota-kota Inggris. London tetap menduduki peringkat ke-44, tertinggi secara keseluruhan meskipun berada di urutan terakhir di antara kota-kota Inggris, terkait indeks keselamatan pribadi yang diukur secara terpisah.

“Di Inggris, London tetap pusat pilihan bisnis internasional,” kata Mercer.

Dublin, yang menjadi kota paling aman di Inggris, naik satu peringkat menjadi urutan ke-33 secara keseluruhan, tepat di atas San Fransisco.

“Dublin telah menerima banyak keuntungan dari manfaat teknologi, jasa keuangan dan firma hukum yang banyak dipindahkan ke kota,” kata Mercer tanpa penjelasan lebih lanjut. (Voaindonesia.com)

 

Back to Home