Google+
Loading...
INSPIRASI
Penulis: Yoel M Indrasmoro 06:59 WIB | Sabtu, 30 Juni 2018

Yairus Mengubah Perhatian

Yairus belajar kesusahan dirinya bukan alasan untuk tidak memperhatikan orang lain.
Yairus memohon Yesus menyembuhkan anak perempuannya (foto: Istimewa)

SATUHARAPAN.COM – Apa yang ada di benak Yairus ketika Yesus berkenan ke rumahnya untuk menyembuhkan anak perempuannya? Kemungkinan besar dia sangat bersukacita karena Yesus ternyata bergerak cepat. Sang Guru tidak menunda-nunda.

Namun, apa mau dikata di tengah perjalanan rombongan itu berhenti. Yesus merasa ada yang ”mencuri” kuasanya. Dan Sang Pencuri dalam tanda petik itu adalah perempuan yang sakit pendarahan selama dua belas tahun.

Berbeda dengan Yairus, kita tak mengenal nama perempuan itu. Bukannya nggak punya nama, tetapi agaknya penulis Injil tidak terlalu merasa perlu memberitahukan nama perempuan tersebut. Dalam dunia Yahudi perempuan yang sakit pendarahan dianggap najis. Yang menyentuhnya pun akan ikut-ikutan najis. Kalau sudah begini, maka nama mungkin tak lagi penting. Buat apa tahu namanya. Kalau tersentuh, malah berabe!

Yang lebih menggetirkan hati, seorang yang najis dilarang beribadah—baik ibadah di rumah ibadah maupun di Bait Allah. Itu berarti, selama 12 tahun dia tidak diperkenankan bersekutu dengan Allah di rumah-Nya. Selama itu pula dia telah tersingkir dari persekutuan umat Tuhan. Dia bukannya tak berusaha. Tetapi, tak ada tabib yang mampu menyembuhkan penyakitnya.

Jika Yairus memohon agar Yesus meletakkan tangan-Nya atas anaknya, perempuan tak bernama itu tak mungkin menyatakan keinginannya. Sebab jika Yesus menyentuh dirinya, maka Yesus akan ikut-ikutan najis. Mungkin, dia juga takut ditolak Yesus. Tetapi, perempuan yang sakit pendarahan itu percaya bahwa Yesus mampu menyembuhkannya.  

Perempuan yang sakit pendarahan itu bergerak. Dia tidak bergeming. Kepercayaannya tampak saat dia bergerak dan menjamah jubah Yesus. Dia pun akhirnya sembuh.

Bagaimana perasaan Yairus kala Yesus menunda perjalanan-Nya ke rumahnya? Mungkin dia jengkel. Lha wong anaknya sudah sekarat! Tetapi, dia memang tidak bisa berbuat banyak, Sang Guru yang ingin berhenti. Dan sebelum sampai ke rumah, ada utusan keluarga yang menyampaikan tak perlu merepotkan Yesus karena anak perempuannya telah meninggal.

Yairus mungkin tambah kecewa. Kalau saja tidak ada interupsi di tengah jalan, tentu anaknya selamat. Pada titik itu, sebelum kekecewaannya bertambah besar, Yesus menenangkannya, ”Jangan takut, percaya saja!” Yesus tetap ke rumah Yairus, anak perempuan yang berusia 12 tahun pun sembuh.

Kemungkinan besar Yairus belajar untuk tidak bersikap egois. Tuhan memang peduli dengannya. Tetapi, Yairus tak mungkin memonopoli kasih setia Tuhan. Tuhan ada untuk setiap orang.

Pada titik ini mungkin Yairus juga belajar untuk mengubah perhatian dari diri sendiri kepada orang lain. Yairus belajar kesusahan dirinya bukan alasan untuk tidak memperhatikan orang lain.

 

Email: inspirasi@satuharapan.com

Editor: Yoel M. Indrasmoro

Rubrik ini didukung oleh PT Petrafon (www.petrafon.com)

 

Editor : Melki Pangaribuan

Back to Home