Loading...
EKONOMI
Penulis: Prasasta Widiadi 09:04 WIB | Rabu, 02 Maret 2016

16 Sub Sektor Industri Kreatif akan Terus Berkembang

Ilustrasi: Pengrajin menyelesaikan proses pembuatan tas kulit di kawasan Manding, Bantul, Yogyakarta, Sabtu (3/1). Industri tas rumahan berbahan baku kulit sapi yang telah menembus pasar ekspor Korea, Jepang dan Denmark itu dalam tiga bulan mampu mengasilkan sekitar 3000 biji tas dan dijual antara Rp125 ribu hingga Rp750 ribu perbuah tergantung model. (Foto: Andreas Fitri Atmoko)

AMBON, SATUHARAPAN.COM – Deputi Riset, Edukasi, dan Pengembangan Badan Ekonomi Kreatif (BEKRAF) Abdur Rohim Boy Berawi mengungkapkan saat ini ada 16 sub sektor industri kreatif yang akan terus berkembang selama 2015 – 2019.

“Yakni seni pertunjukan, seni rupa, televisi dan radio, aplikasi game, arsitektur, desain interior, desain komunikasi visual, periklanan, musik, penerbitan, fotografi, desain produk, fashion, film animasi dan video, kriya, dan kuliner,” kata Abdur Rohim Boy Berawi dalam Rapat Koordinasi Rencana Program Pengembangan Ekonomi Kreatif  di Ambon, Maluku, hari Selasa (1/3).

Dia menambahkan dari 16 sub sektor tersebut sedikitnya ada tiga bidang yang mengalami pertumbuhan cukup signifikan. “Teknologi informasi sebesar 8,81 persen, periklanan 8,05 persen, dan arsitektur 7,53 persen,” dia memerinci.

Abdur Rohim mengemukakan  industri kreatif dalam setahun terakhir telah menyumbang Rp 642 triliun atau 7,05 persen dari total produk domestik bruto (PDB) Indonesia.

"Kontribusi terbesar berasal dari usaha kuliner sebanyak 32,4 persen, mode 27,9 persen, dan kerajinan 14,88 persen," kata dia.

Selain menyumbang PDB nasional, Abdur mengatakan, industri kreatif merupakan sektor keempat terbesar dalam penyerapan tenaga kerja, dengan konstribusi secara nasional sebesar 10,7 persen atau 11,8 juta orang. Rata-rata konstribusi terbesar berasal dari bisnis mode sebanyak 32,3 persen, kuliner 31,5 persen, dan kerajinan 25,8 persen.

"Ekonomi kreatif semakin mendapat perhatian utama di banyak negara, karena dapat memberikan konstribusi nyata terhadap perekonomian," kata dia.

Dia mengemukakan masih ada hambatan yang perlu untuk diperhatikan, yakni minimnya sistem informasi dan database yang bisa membantu para pelaku ekonomi kreatif mengembangkan karyanya.

Oleh karena itu, kata Abdur, BEKRAF menjalin kerja sama dengan Badan Pusat Statistik (BPS), Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), dan enam perguruan tinggi, yakni Universitas Gajah Mada, Institut Teknologi Bandung, Universitas Indonesia, Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Institut Kesenian Jakarta, Institut Seni Indonesia.  (Ant).

Editor : Bayu Probo


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home