Loading...
DUNIA
Penulis: Eben E. Siadari 14:09 WIB | Senin, 21 November 2016

1,8 Juta Orang Indonesia Bergabung dengan Friends of Zion

Mike Evans (kanan) ketika bertemu dengan mantan PM Israel, Shimon Peres dan Paus Fransiskus (Foto: PR Newswire)

YERUSALEM, SATUHARAPAN.COM - Di tengah gencarnya gerakan anti-Yahudi, Israel terus berupaya meningkatkan diplomasinya di seluruh penjuru dunia. Termasuk di dalamnya, kepada negara-negara yang selama ini dikenal sebagai negara berpenduduk mayoritas Muslim, seperti Indonesia.

Diplomasi itu tak hanya oleh negara tetapi juga oleh masyarakatnya. Salah seorang tokohnya adalah Mike Evans. Ia tokoh Kristen yang saat ini gencar merangkul orang-orang di berbagai penjuru dunia untuk bersahabat dengan Israel. Ia mendirikan Friends of Zion, sebuah organisasi yang bertujuan untuk mengaktifkan 'sahabat-sahabat' Kristen yang pro Israel. Sahabat-sahabat ini diharapkan dapat melawan sentimen anti-Yahudi yang kini sudah demikian berakar di banyak universitas di seluruh dunia.

Salah satu sasarannya adalah merekrut jutaan umat Kristen Protestan dan Injili. Dan ia menetapkan target merekrut 100 juta orang melalui jejaring sosial. Secara khusus, Evans memfokuskan pada apa yang disebut sebagai generasi milenium, yakni mereka yang lahir di tahun-tahun terakhir abad ke-20 dan tahun-tahun awal abad ini.

“Generasi milenium akan menjadi kekuatan paling berkuasa di bumi ini dan mereka akan menjadi pemimpin dunia, yang akan mengendalikan perusahaan dan negara," kata Evans.

Menurut Evans, dikutip dari Jerusalem Post, The Friends of Zion telah berhasil merekrut 11,7 juta anggota dari seluruh dunia, di tahun pertama saja. Sebanyak 1,8 juta di antaranya berasal dari Indonesia. Sayang belum ada elaborasi lebih lanjut perihal klaim tentang Indonesia ini.

Selain merekrut anggota sebanyak mungkin, Evans juga mencari sebuah legiun beranggotakan 10.000 orang, yang akan menjadi duta-duta Friends of Zion yang fokusnya adalah sebagai ujung tombak informasi.

“Ada miliaran orang Kristen Protestan di dunia, dan mereka punya satu hal yang sama: Alkitab," kata Evans.

“Sebagai anak-anak, mereka tumbuh dan meyakini kisah-kisah Musa, Abraham, Raja Daud dan Tanah Suci," ia menambahkan.

Evans prihatin dengan kuatnya sikap permusuhan terhadap Israel. Padahal, mengutip pernyataan mantan PM Israel, Shimon Peres, Israel tidak akan bisa memenangkan persaingan di dunia tanpa bantuan teman.

Jika Evans ingin merangkul kalangan Kristen, upaya untuk merangkul kalangan Muslim juga dilakukan oleh kalangan Yahudi lainnya.  Salah satunya, Jeremy Jones. Ia baru-baru ini mengunjungi Indonesia dengan tujuan menjelaskan sisi kehidupan keseharian masyarakat Israel yang sebenarnya religius dan tidak identik dengan peperangan.

Masyarakat dunia menilai Israel identik dengan penindasan dan kekejaman, padahal, menurut Jones, itu adalah penilaian dari kacamata politik. “Sebenarnya dalam keseharian warga Israel adalah masyarakat yang taat beragama. Mayoritas penduduk beragama Yahudi dan 17 persen beragama Islam. Nabi Ibrahim juga merupakan bapak umat Yahudi sebagaimana juga bapak para nabi di Islam. Jadi, banyak kesamaan untuk bersatu,”  kata Jeremy Jones, Koordinator Australia Israel Jewish Affairs Council (AIJAC) saat menemui pengurus PWNU Jateng, Minggu (6/11).

Kedatangannya diterima Ketua PWNU Jateng Dr Abu Hapsin PhD, juga Wakil Ketua Rais Suriah Drs HM Adnan MA, Wakil Katib Dr Imam Taufik, Wakil Ketua Dr Najahan Musyafak MA, Sekretaris PWNU Drs H Arja Imroni. Kedatangannya menemui komunitas muslim Indonesia termasuk dengan jajaran PWNU Jateng, mengemban misi sosialisasi terkait tradisi, budaya dan kehidupan keagamaan Yahudi di Israel. Jeremy menjelaskan, kehidupan keagamaan berjalan damai dan membenci peperangan.

Ketua PWNU Jateng Dr Abu Hapsin, sebagaimana dilansir dari Kedaulatan Rakyat, kunjungan Jeremy Jason ini sangat berharga bagi Muslim Indonesia untuk mengetahui lebih jauh dan orisinil tentang kehidupan Yahudi Israel. Abu Hapsin mengakui selama ini pemahaman masyarakat Indonesia terhadap Israel masih didominasi dari kacamata politik.

Diharapkan semakin terjalinnya komunikasi dari sisi keagamaan antara Indonesia dan Israel dapat  memberi dampak positif sebagai jalan dibukanya hubungan diplomatik kedua negara. Apalagi langkah tersebut sudah diawali Almarhum Gus Dur yang pernah mengunjungi Israel untuk misi agama. Dilanjutkan sejumlah tokoh agama Indonesia juga lawatan serupa. Misi tersebut akan dilanjutkan lagi pada Januari 2017 yang satu diantaranya dari PWNU Jateng.

Hubungan dengan Israel

Berbagai inisiatif telah pernah ditempuh untuk mendorong hubungan Indonesia-Israel yang lebih baik, secara informal. Pada tahun 2002  berdiri The Indonesia-Israel Public Affairs Committee (IIPAC). Komite ini digagas oleh seorang Yahudi Indonesia yang tengah belajar di Israel, yaitu  Benjamin Kentang.  Kentang, mantan anggota Nahdatul Ulama dan Himpunan Mahasiswa Islam, mendirikan IIPAC  sepulang dari Israel, tempat dia kuliah dengan beasiswa dari mantan Presiden Abdurrahman Wahid.

Anggota IIPAC mencapai 4.450 dan telah pula membentuk Indonesian Business Lobby, sebuah organisasi yang bertujuan memfasilitasi investasi Israel ke Indonesia.

Pada tahun 2009, berdiri Kantor Dagang Israel Indonesia di Tel Aviv. Organisasi ini merupakan cabang dari Kantor Dagang Israel-Asia yang bertujuan untuk memperkuat kerjasama ekonomi Indonesia-Israel. Organisasi ini terutama mempromosikan inisiatif dan keuntungan investasi diantara kedua negara dengan menyediakan jasa konsultasi dan dukungan lainnya kepada para investor.

Kendati sulit mendapatkan data sejauh mana lembaga ini menyumbang pada kedalaman hubungan kedua negara, tidak diragukan bahwa inisiatif ini telah banyak membantu kedekatan diantara pengusaha, investor bahkan politisi Israel dan Indonesia.

Pada tahun 2008, pemerintah  Indonesia menandatangani kerjasama dengan jasa layanan darurat nasional Israel,  Magen David Adom (MDA). Ini adalah lembaga kerja sama Amerika dan Israel yang bergerak dalam jasa pelatihan medis dan keperawatan di Indonesia. Satu aspek menarik dalam kerja sama ini adalah Indonesia diwakili oleh Muhammadiyah.

Israel sendiri selama ini tidak menganggap Indonesia sebagai musuh. Dalam sebuah peta dunia yang menggambarkan posisi hubungan Israel dengan hampir seluruh negara di dunia, PM Israel, Benjamin Netanyahu, menggambarkan hubungan itu dalam empat warna, yaitu merah, biru, hijau, dan hitam.

Merah mencerminkan hubungan yang menunjukkan perkembangan yang positif dengan Israel. Biru adalah warna bagi negara-negara yang telah dan sedang memiliki hubungan sangat baik dengan Israel. Ada pun warna hitam merupakan simbol untuk negara-negara yang merupakan musuh Isreal.

Sedangkan warna hijau merupakan negara-negara yang tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Israel.

Dari peta itu, ternyata tampak bahwa Israel memiliki sedikit musuh:  Iran, Irak, Suriah, Afghanistan dan Korea Utara.  Sedangkan Indonesia digolongkan pada warna hijau.


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home