Loading...
HAM
Penulis: Sabar Subekti 08:39 WIB | Rabu, 06 April 2022

591 Anak Irak Tewas dan Terluka Akibat Ranjau Darat

Seorang anggota tim penjinak ranjau Mines Advisory Group (MAG) mencari ranjau darat di Khazer, Irak, pada 1 Desember 2016. (Foto: dok. Reuters)

BAGHDAD, SATUHARAPAN.COM-Sedikitnya 519 anak tewas atau terluka oleh ranjau darat dan persenjataan yang tidak meledak di Irak dalam lima tahun terakhir, kata badan-badan PBB  memperingatkan.

“Lebih dari 80 persen anak-anak yang terkena dampak adalah anak laki-laki,” kata UNICEF, badan anak-anak dunia, dan Layanan Pekerjaan Ranjau PBB (UNMAS) mengatakan dalam sebuah pernyataan bersama pada hari Senin (4/4) malam.

Mereka menambahkan bahwa anak laki-laki “dampak secara tidak proporsional karena insiden pekerja anak, seperti menggembalakan hewan atau mengumpulkan besi tua untuk dijual.”

Pernyataan itu mengatakan meskipun Irak tidak "menderita konflik terbuka" selama beberapa tahun terakhir, "efek senjata peledak akan bergema selama bertahun-tahun yang akan datang."

Sebuah laporan oleh badan amal Humanity & Inclusion mengatakan: "Irak dianggap sebagai salah satu negara yang paling terkontaminasi oleh bahan peledak di dunia," dengan lebih dari 3.225 kilometer persegi (1.245 mil persegi) tanah yang terkontaminasi dengan persenjataan yang belum meledak.

Materi tersebut terutama ada di dekat perbatasan dengan Iran, Kuwait dan Arab Saudi, semua wilayah di mana Irak telah terlibat dalam konflik bersenjata selama empat dekade terakhir.

Baghdad berperang dengan Iran antara tahun 1980-1988, serta Perang Teluk pertama yang dipicu oleh invasi Kuwait pada tahun 1990.

Militer Irak antara tahun 2014 dan 2017 yang didukung oleh koalisi internasional berperang melawan ISIS.

Dalam pernyataan bersama, UNICEF dan UNMAS mendesak “semua pihak untuk mempercepat setiap upaya untuk membersihkan ranjau yang ada dan persenjataan yang belum meledak” dan meminta “semua pihak untuk mempercepat upaya mereka untuk menghilangkan ranjau dan sisa-sisa bahan peledak, untuk memperkuat bantuan korban dan untuk mendukung hak-hak anak menuju lingkungan yang aman, tenteram, dan terlindungi.” (AFP)

Editor : Sabar Subekti


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home