Loading...
INDONESIA
Penulis: Martahan Lumban Gaol 13:20 WIB | Rabu, 13 April 2016

9 Kartini Semen Kaki Depan Istana Tolak Pabrik Semen Rembang

Salah satu anggota ‘Kartini Sembilan’ menyemen kakinya di depan Istana Merdeka, Jakarta Pusat, hari Selasa (12/4). ‘Kartini Sembilan’ berusaha mengetuk hati Presiden Joko Widodo membatalkan rencana pembangunan pabrik semen di Kabupaten Rembang, Provinsi Jawa Tengah, yang akan sangat membelenggu kehidupan petani Pegunungan Kendeng. (Foto: Akun Facebook ‘Wong Kendheng’)

JAKARTA, SATUHARAPAN.COM – Ketidakpedulian Pemerintah pada suara-suara perlawanan rencana pembangunan pabrik semen di Kabupaten Rembang, Provinsi Jawa Tengah, membuat sembilan orang perempuan turun ke depan Istana Merdeka, Jakarta Pusat.

Aksi yang digelar sembilan perempuan yang dijuluki ‘Kartini Sembilan’ berasal dari Pegunungan Kendeng, Provinsi Jawa Tengah, sejak hari Selasa (12/4) kemarin, merupakan usaha untuk mengetuk hati Presiden Joko Widodo menjaga alam yang telah menghidupi mereka.

Kesembilan perempuan itu adalah Sukinah, Supini, Murtini, Surani, Kiyem, Ngatemi, Karsupi, Deni, dan Rimabarwati. Suara mereka mewakili ribuan petani di empat kabupaten di Provinsi Jawa Tengah, yakni Pati, Grobogan, Wonogiri, dan Gombong.

Berdasarkan keterangan tertulis yang diterima satuharapan.com dari Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng (JMPPK)‎, di Jakarta, hari Rabu (13/4), ‘Kartini Sembilan’ telah berjuang selama 666 hari dengan mendirikan tenda untuk menyuarakan perlawanan rencana pembangunan pabrik semen di Kabupaten Rembang.

Jawa Tengah yang dulu dikenal sebagai daerah pertanian sedang menuju kehancuran ekologis, justru ketika dipimpin oleh pemimpin yang berasal dari ‘partainya wong cilik’,” kata Koordinator JMPPK, Gunretno, dalam keterangan tertulis itu.

Dia berpandangan, Pemerintah seperti tidak memedulikan suara penolakan yang disuarakan oleh ‘Kartini Sembilan’. Jokowi yang pernah bertemu dengan perwakilan JMPPK di awal kepemimpinannya pun tak kunjung merealisasikan janji mengunjungi Kabupaten Rembang.

“Gubernur Jawa Tengah terus berlindung di balik alasan formal pemberian izin, Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal), dan lain sebagainya. Begitu juga Bupati Rembang, malah mendorong proses pembangunan pabrik semen yang dicurigai banyak praktik korupsi terjadi,” ucapnya.

Ancaman Pencemaran Udara

Lebih jauh, Gunretno, mengatakan rencana pembangunan pabrik semen di Kabupaten Rembang sangat membelenggu kehidupan petani Pegunungan Kendeng. Ratusan air mata mengucur, meratapi sumber penghidupan mereka yang terancam hilang dan ancaman pencemaran udara hasil proses produksi semen.

Sebab, katanya, menurut data dari Masyarakat Speleologi Indonesia, industri semen menyumbang emisi gas rumah kaca. Sementara, berdasarkan laporan Inventerarisasi gas rumah kaca, Kementerian Lingkungan Hidup tahun 2014 silam, industri semen menyumbang 22.674,6 gram emisi karbon ke udara.

“Ini baru pengukuran di pabrik PT Indocement Prakarsa, Cibinong-Bogor. Industri semen penyumbang polutan terbesar dan mengandung bahan berbahaya. Pada tahun 2010, Tiongkok menutup 762 pabrik semen, karena zat berbahaya yang dilepas pabrik semen hasil pembakaran bersuhu tinggi, antara lain nitrogen oksida (NOx) yang bisa menyebabkan kerusakan lapisan ozon, memicu hujan asam, dan merusak kualitas air,” katanya.

“Industri semen juga menghasilkan sulfur dioksida (SO2) yang bisa menyebabkan gangguan pernapasan, memperparah penderita asma dan infeksi bronkhitis, memicu penyakit kardiovaskular seperti jantung koroner, stroke, kelainan jantung pada bayi, gagal jantung, hingga berbagai macam penyakit kardiovaskular lain, serta mengandung merkuri,” dia menambahkan.

Ancaman Pertanian dan Peternakan

Dia menyatakan, pertambangan semen karst di Pegunungan Kendeng, dalam perhitungan pendapatan ekonomi per tahun dan sudah dipotong pajak di lahan seluas 300 hektare akan mengancam penghasilan padi yang mencapai 3,4 miliar rupiah, jagung 2,8 miliar rupiah, singkong 1,8 miliar rupiah, dan cabai 10,8 miliar rupiah untuk setiap panennya di lahan seluas 150 hektare.

Selain itu, kata Gunretno melanjutkan, pada sektor peternakan rata-rata setiap keluarga dari 497 keluarga, warga di Desa Timbrangan, punya dua ekor sapi. Setiap tahun warga menjual satu ekor sapi dengan harga jual 8 juta rupiah. Kalkulasinya, 3,8 miliar rupiah pendapatan sektor peternakan dan sudah dipotong pajak dan biaya rawat. Hitungan itu belum ditambah dengan ternak lain seperti ayam, kambing, bebek, lele, dan kerbau.

“Total ada Rp 21,7 miliar pendapat per tahun warga Desa Timbrangan. Sedangkan ancaman pertambangan semen ada di Grobogan, Pati, Rembang dan Blora. Dan berdampak pada ratusan ribu petani dan masyarakat yang selama ini menggantungkan air dari pegunungan karst Kendeng," ucapnya

Ingin Bertemu Jokowi

Hari ini, Rabu (13/4), menurut Gunretno, ‘Kartini Sembilan’ akan kembali menggelar aksinya di depan Istana Merdeka guna memperjuangkan alam yang selama ini menghidupi mereka. ‘Kartini Sembila’ akan kembali mengecor kaki menggunakan semen sebagai bentuk protes terhadap pembiaran yang dilakukan oleh Pemerintah.

Gunretno  mengatakan, “Kartini Sembilan’ ingin bertemu Jokowi untuk berdialog membicarakan mengenai pabrik semen yang merusak alam dan mengancam keberlangsungan hidup para petani sepanjang Pegunungan Kendeng.


Kampus Maranatha
Gaia Cosmo Hotel
BPK Penabur
Zuri Hotel
Back to Home