Loading...
HAM
Penulis: Sabar Subekti 18:38 WIB | Rabu, 17 Maret 2021

Abu Rdan, Bocah 10 Tahun, Gambaran Penderitaan Anak-anak Suriah

Abu Rdan, Bocah 10 Tahun, Gambaran Penderitaan Anak-anak Suriah
Mohammad Abu Rdan menyiapkan teh di dalam tenda, di kamp pengungsi Suriah di Aleppo utara, Suriah pada 11 Maret 2021. (Foto-foto: Reuters Mahmoud Hassano)
Abu Rdan, Bocah 10 Tahun, Gambaran Penderitaan Anak-anak Suriah
Abu Rdan, Bocah 10 Tahun, Gambaran Penderitaan Anak-anak Suriah

ALLEPO, SATUHARAPAN.COM-Mohammed Abu Rdan, seorang bocah Suriah berusia 10 tahun, tidak tahu apa-apa selain konflik di negaranya, sepanjang hidupnya.

Dia lahir di pedesaan Aleppo pada tahun 2011 ketika protes terhadap pemerintahan Presiden Bashar Al-Assad dimulai, dan dia memiliki masa kecil yang sama sekali tidak biasa.

Protes di negaranya dengan cepat berubah menjadi konflik multi dimensi yang telah mengundang kekuatan dunia, menewaskan ratusan ribu orang dan membuat jutaan orang terlantar. Itu semua menjungkirbalikkan kehidupan Abu Rdan.

Sekarang dia tinggal di kamp pengungsian di Aleppo utara, Suriah. Abu Rdan juga menjadi pencari nafkah utama keluarganya setelah penyakit jantung membuat ayahnya tidak layak untuk bekerja.

Seperti kebanyakan anak Suriah lainnya, sekolah juga telah menjadi impian yang terlalu jauh. “Kami punya rumah, dan saya biasa pergi ke sekolah setiap hari ... tapi kami datang ke sini... mereka menghancurkan rumah dan sekolah kami,” kata Abu Rdan.

 Abu Rdan bermain dengan saudara-saudaranya di kamp pengungsi.

 

Upah Rp 180.000 Sebulan

Dana Anak-anak Perserikatan Bangsa-bangsa (UNICEF) mengatakan awal bulan ini bahwa 90 persen anak-anak di Suriah membutuhkan bantuan kemanusiaan. Jumlahnya meningkat 20 persen selama setahun terakhir.

Sepuluh tahun setelah konflik, hampir 2,45 juta anak di Suriah dan tambahan 750.000 anak Suriah di negara tetangga tidak bersekolah, menurut angka dari UNICEF.

Abu Rdan bangun saat fajar setiap hari dan menghadapi udara dingin untuk berdiri di sisi jalan raya dan mencari tumpangan sejauh 10 kilometer ke sebuah pabrik yang memproduksi bahan pembersih, tempat dia bekerja.

Hari kerjanya panjang, sebagian besar hingga 10 jam sehari, dan itu membuatnya mendapat upah 100 lira Turki (setara Rp 180 ribu) sebulan. Itu semua adalah penghasilan bagi keluarganya.

Abu Rdan dibayar dalam mata uang Turki saat dia tinggal dan bekerja di daerah yang dikendalikan oleh militan yang didukung Turki. Mereka melarikan diri dari kampung halamannya, desa Marshoureen yang sekarang dikuasai pemerintah.

Al-Assad sekarang menguasai banyak bagian negara, dibantu oleh militer Rusia dan milisi Syiah Iran, tetapi Turki, yang mendukung militan yang berusaha untuk menggulingkannya, memiliki kekuasaan atas sebagian besar wilayah di barat laut.

UNICEF mengatakan lebih dari 75 persen pelanggaran berat terhadap anak-anak yang tercatat di Suriah pada tahun 2020, termasuk pembunuhan, pelecehan, perekrutan dalam perkelahian, kekerasan seksual dan serangan terhadap sekolah, yang terjadi di barat laut.

Abu Rdan duduk bersama keluarganya di dalam tenda, di kamp pengungsian

 

Menjadi Dewasa di Usia 10 Tahun

Abu Rdan bekerja mengemas barang-barang ke dalam karung-karung besar, beberapa di antaranya berukuran dua kali lipat. Abu Rdan sangat kelelahan saat pulang ke rumah sehingga tidak bisa berbuat apa-apa selain makan dan tidur.

“Ketika saya kembali dari pekerjaan, saya sangat lelah, saya hanya menundukkan kepala dan saya keluar,” katanya.

Dia berbagi tenda dengan orangtua dan tiga saudara perempuannya yang tidak berbuat banyak untuk melindungi mereka dari musim dingin yang keras di Suriah dan juga hujan lebat dan salju.

Agar tetap hangat, dia telah menjadi ahli dalam membuat secangkir tehnya sendiri, mengerjakan tabung gas dengan kepercayaan diri seorang dewasa.

Setelah didorong ke dalam tanggung jawab yang jauh melampaui usianya, anak berusia 10 tahun ini menangani banyak tugas sehari-hari dengan keahlian pria yang jauh lebih tua. Tapi dia masih anak-anak, kadang-kadang cekikikan, dan bermain dengan ketiga saudara perempuannya di tenda. (Reuters)

Editor : Sabar Subekti

Kampus Maranatha
BPK Penabur
Zuri Hotel
Back to Home