Loading...
SAINS
Penulis: Sabar Subekti 11:46 WIB | Selasa, 15 Juni 2021

Ahli Virus China Menolak Teori Kebocoran di Laboratorium Wuhan

Ahli virologi China, Shi Zhengli, terlihat di dalam laboratorium P4 di Wuhan, ibu kota Provinsi Hubei China, pada 23 Februari 2017. Laboratorium epidemiologi P4 dibangun bekerja sama dengan perusahaan bio-industri Prancis Institut Merieux dan Akademi Ilmu Pengetahuan China. (Foto: dok. Reuters)

NEW YORK, SATUHARAPAN.COM-Ilmuwan China yang menjadi pusat teori bahwa pandemi virus corona berasal dari kebocoran dari laboratorium khusus miliknya di kota Wuhan membantah bahwa institusinya yang harus disalahkan atas bencana kesehatan tersebut.

"Bagaimana saya bisa menawarkan bukti untuk sesuatu yang tidak ada buktinya?" kata Dr Shi Zhengli  kepada New York Times dalam komentar yang jarang dilakukan kepada media.

“Saya tidak tahu bagaimana dunia menjadi seperti ini, terus-menerus menuangkan kotoran pada ilmuwan yang tidak bersalah,” katanya kepada harian Amerika Serikat itu.

Presiden AS, Joe Biden, bulan lalu memerintahkan badan-badan intelijen untuk menyelidiki asal mula pandemi, termasuk teori kebocoran laboratorium.

Hipotesis kebocoran telah dilontarkan sebelumnya selama wabah global, termasuk oleh pendahulu Biden, Donald Trump, tetapi secara luas diberhentikan sebagai teori konspirasi.

Tetapi isu itu telah mendapatkan daya tarik yang meningkat baru-baru ini, didorong oleh laporan bahwa tiga peneliti dari Institut Virologi Wuhan jatuh sakit pada tahun 2019 setelah mengunjungi gua kelelawar di Provinsi Yunnan, China barat daya.

Shi adalah seorang ahli dalam virus corona kelelawar, dan beberapa ilmuwan mengatakan dia bisa memimpin apa yang disebut eksperimen "gain-of-function" di mana para ilmuwan meningkatkan kekuatan virus untuk mempelajari efeknya dengan lebih baik pada inang.

Menurut New York Times, pada tahun 2017 Shi dan rekan-rekannya di laboratorium Wuhan menerbitkan laporan percobaan “di mana mereka menciptakan virus corona hibrida baru dengan mencampur dan mencocokkan bagian dari beberapa yang sudah ada, termasuk setidaknya satu yang hampir menular pada manusia. Ini untuk mempelajari kemampuan mereka untuk menginfeksi dan bereplikasi dalam sel manusia.”

Namun dalam email ke surat kabar itu, Shi mengatakan eksperimennya berbeda dari eksperimen gain-of-function karena mereka tidak berusaha membuat virus lebih berbahaya. Sebaliknya, mereka mencoba memahami bagaimana virus dapat melompati spesies.

“Laboratorium saya tidak pernah melakukan atau bekerja sama dalam melakukan eksperimen GOF yang meningkatkan virulensi virus,” katanya. (AFP)

Editor : Sabar Subekti


Kampus Maranatha
Gaia Cosmo Hotel
LAI Got talent
BPK Penabur
Zuri Hotel
Back to Home