Loading...
LAYANAN PUBLIK
Penulis: Francisca Christy Rosana 18:59 WIB | Jumat, 17 April 2015

Ahok: Larangan Minol Jangan Peruncing ke Agama

Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok siap mencalonkan diri kembali menjadi Gubernur DKI bila ia diberhentikan. (Foto: Francisca Christy Rosana)

JAKARTA, SATUHARAPANCOM – Pembatasan minuman beralkohol atau minol oleh Kementerian Perdagangan (Kemendag) yang diberlakukan sejak 16 April kemarin di minimarket-minimaket seluruh Tanah Air menuai pro dan kontra. Beberapa pihak mengaitkan pembatasan minol dengan agama.

Menanggapi perdebatan tersebut, Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama meminta agar masyarakat tak mengaitkan persoalan minol dengan agama. Apalagi, menurutnya, pembatasan ini tampak longgar untuk beberapa daerah seperti di Manado dan Bali.

“Menurut saya jangan memperuncing minol ke arah agama. Kalau mau melarang, ya menurut saya, ya larang saja langsung, semua pabrik bir pabrik miras. Ini negara kan NKRI. Pancasila, UUD 45, kan jelas. Bagi saya itu sudah jelas,” ujar pria yang akrab disapa Ahok di Balai Kota, Jakarta Pusat, Jumat (17/4).

Menurut Ahok, larangan untuk produk alkohol yang penting adalah bagaimana pemerintah dapat memanajemen pengaturan tempat berjualan tersebut. Untuk itu Ahok mewacanakan akan mengakomodasi penjualan bir dalam satu lokasi atau satu toko.

Ia juga mengakui mendapat surat dari salah satu asosiasi masyarakat untuk membuat sistem penjualan minol seperti di Eropa dengan memusatkan penjualan dalam satu lokasi.

Bila negara hendak membatasi bahkan melarang peredaran bir, ujar Ahok, penjualan rokok pun menurutnya juga harus diberlakukan hal yang sama.

“Kalau gitu ngelarang ngerokok juga dong. Pabrik rokok tutup aja. Jangan peruncing ke ranah agama. Kalau larangan agama juga, saya masih makan babi tuh. Masa semua babi harus dimusnahin. Orang belajar operasi juga dari babi. Maksud saya musti jelas,” ujar dia.

Sebelumnya, Ahok mengungkapkan kekhawatirannya terhadap pasar gelap seperti yang tumbuh di Amerika awal 1920 sampai 1931 oleh mafia Al Capon jika penjualan alkohol kelas A ini dibatasi. Menurutnya, penyelundup-penyelundup bir di Jakarta justru akan makin merajalela dengan adanya pembatasan itu.

“Kita jadi tidak bisa kontrol pabrik-pabrik. Pasar gelap ini lebih konyol. Di Amerika dulu, tepatnya di Chicago, terjadi penyelundupan dan pembuat minuman keras dan kegiatan ilegal lainnya seperti pelacuran. Kita juga harus melihat sejarah. Saya hanya belajar dari sejarah, dari kisah mafia Al Capone,” ia menambahkan.

Editor : Bayu Probo


BPK Penabur
Gaia Cosmo Hotel
Kampus Maranatha
Back to Home