Loading...
DUNIA
Penulis: Reporter Satuharapan 04:30 WIB | Selasa, 17 Desember 2019

AI: Setidaknya 304 Tewas Selama Kerusuhan di Iran

Gelombang protes diikuti oleh demonstrasi pro-pemerintah. (Foto: AFP)

DUBAI, SATUHARAPAN.COM - Amnesty International (AI) mengatakan pada hari Senin (16/12) bahwa setidaknya 304 orang terbunuh dalam protes anti-pemerintah bulan lalu di Iran, jumlah yang jauh lebih tinggi daripada apa yang dilaporkan kelompok HAM itu sebelumnya.

Protes, yang berlangsung sekitar empat hari di beberapa kota di Iran pada bulan November tersebut, dipicu oleh kenaikan tajam harga bahan bakar. Selama aksi kekerasan aparat dan pada hari-hari berikutnya, pemerintah Iran memblokir akses ke Internet.

Amnesty mengatakan bahwa pasukan keamanan Iran menembaki demonstran yang tidak bersenjata, menewaskan banyak orang. Pihak berwenang Iran kemudian menangkap ribuan pengunjuk rasa serta jurnalis, pembela hak asasi manusia dan mahasiswa dalam tindakan keras untuk mencegah mereka berbicara tentang protes, kata pemerhati HAM yang berbasis di London itu.

Teheran belum merilis statistik tentang skala kerusuhan, meskipun dua minggu lalu pemerintah mengakui bahwa pasukan keamanan menembak dan membunuh pengunjuk rasa. Media pemerintah Iran menyebut beberapa dari mereka yang ditembak dan dibunuh sebagai "perusuh."

Amnesty Internasional mengatakan awal bulan ini bahwa setidaknya 208 tewas dalam protes 15-18 November.

Mayoritas kematian yang dicatat oleh Amnesty adalah akibat tembakan ke kepala, dada dan organ vital lainnya. Di antara mereka yang terbunuh, menurut Amnesty, adalah seorang bocah lelaki berusia 15 tahun di kota Shiraz yang ditembak ketika ia melewati sebuah protes dalam perjalanannya dari sekolah.

Kelompok hak asasi manusia ini mencatat bagaimana selama protes, Iran menutup akses Internet, memblokir mereka yang berada di negara itu dari berbagi video dan membatasi pengetahuan tentang skala penuh dari kekacauan.

Protes itu berakar pada ketidakpuasan ekonomi yang meluas yang telah mencengkeram negara itu sejak Presiden Trump memberlakukan sanksi penghancuran setelah Amerika menarik diri dari perjanjian nuklir Iran.

Mata uang nasional Iran, rial, anjlok tajam dari saat perjanjian nuklir tahun 2015, sementara harga bahan pokok terus naik.

Meskipun naik harga, bahan bakar minyak di Iran masih tetap termasuk yang termurah di dunia. (apnews.com)

 

Kampus Maranatha
BPK Penabur
Zuri Hotel
Back to Home